Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial ramai dengan satu frasa yang terus diulang, yaitu marriage is scary. Ungkapan ini bukan sekadar candaan atau tren sementara, melainkan refleksi jujur dari kegelisahan banyak anak muda, terutama Gen Z, terhadap institusi pernikahan.
Pernikahan yang dulu dianggap sebagai puncak kebahagiaan, kini justru dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan, penuh risiko emosional, dan sarat luka. Fenomena ini muncul seiring semakin terbukanya diskusi tentang kesehatan mental, trauma relasi, dan realita pahit kehidupan rumah tangga yang selama ini kerap disembunyikan di balik unggahan romantis.
Kenapa Tren Marriage Is Scary Semakin Populer?
Ada beberapa alasan mengapa tren marriage is scary begitu cepat menyebar. Pertama, Gen Z tumbuh pada era di mana informasi mudah diakses. Mereka menyaksikan cerita perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, hingga hubungan toksik bukan hanya dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari media sosial dan forum daring.
Kedua, banyak Gen Z berasal dari keluarga yang tidak utuh secara emosional. Mereka melihat langsung bagaimana konflik orang tua meninggalkan luka jangka panjang. Tanpa disadari, pengalaman itu membentuk ketakutan bawah sadar kalau pernikahan identik dengan penderitaan.
Ketiga, standar pernikahan yang sering kali tidak realistis. Pernikahan kerap digambarkan sebagai “akhir bahagia”, padahal kenyataannya adalah proses panjang yang penuh kompromi, pengorbanan, dan potensi kekecewaan.
Broken Strings dan Luka yang Terbawa Hingga Dewasa
Ketakutan akan pernikahan ini memiliki benang merah dengan tema yang diangkat dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Memoar ini tidak hanya berbicara tentang hubungan yang retak, tetapi juga tentang luka emosional yang diwariskan dari relasi ke relasi, dari masa lalu ke masa kini.
Dalam Broken Strings, pembaca diajak menyelami bagaimana hubungan yang awalnya manis ternyata juga bisa meninggalkan jejak traumatis. Luka yang tidak sembuh membuat seseorang kesulitan mempercayai, takut berkomitmen, dan selalu bersiap untuk ditinggalkan.
Hal inilah yang sangat relevan dengan tren marriage is scary. Banyak Gen Z merasa dirinya adalah “broken strings” itu sendiri. Mereka merasa terikat oleh pengalaman masa lalu, tapi rapuh ketika ditarik terlalu kuat oleh ekspektasi pernikahan.
Takut Menikah Bukan Berarti Anti-Cinta
Penting untuk dipahami bahwa tren marriage is scary bukan berarti Gen Z membenci cinta atau menolak komitmen. Justru sebaliknya, mereka sangat sadar akan dampak emosional dari hubungan yang salah hingga tidak mengulang siklus luka yang sama.
Dalam Broken Strings, terlihat jelas bagaimana cinta tanpa kesadaran emosional justru melukai. Banyak pembaca merasa tersentuh karena kisahnya terasa dekat tentang bertahan terlalu lama, tentang takut sendiri, dan tentang memilih diam demi menjaga hubungan yang sebenarnya sudah rapuh.
Gen Z belajar dari kisah-kisah ini bahwa cinta saja tidak cukup untuk menopang pernikahan. Terlebih saat kedewasaan emosional belum dimiliki oleh diri sendiri maupun pasangan.
Pernikahan di Mata Gen Z: Realistis, Bukan Sinis
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z cenderung lebih realistis. Mereka mempertanyakan kesiapan mental, stabilitas emosional, dan kemampuan komunikasi sebelum melangkah ke pernikahan. Inilah yang sering disalahartikan sebagai sikap pesimis.
Padahal, ketakutan menikah justru bisa menjadi bentuk kesadaran diri. Seperti pesan implisit dalam Broken Strings, menyembuhkan diri sendiri adalah langkah penting sebelum mengikatkan diri pada orang lain.
Apakah Tren Marriage Is Scary Akan Terus Berlanjut?
Tren ini kemungkinan besar tidak akan hilang begitu saja. Selama luka emosional masih belum banyak dibicarakan secara jujur, ketakutan terhadap pernikahan akan tetap ada. Namun, ini juga membuka ruang diskusi yang lebih sehat tentang makna pernikahan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar status, bukan pula pelarian dari kesepian, melainkan komitmen sadar antara dua individu yang sama-sama utuh. Pernikahan bukan sekadar jadi ruang bersama untuk dua broken strings yang saling menarik hingga putus.