Mengapa Pernikahan Kini Kian Rapuh dan Perceraian Terasa Semakin Dekat?

Lintang Siltya Utami | Irhaz Braga
Mengapa Pernikahan Kini Kian Rapuh dan Perceraian Terasa Semakin Dekat?
Ilustrasi cincin pernikahan (Pixabay)

Pernikahan sejak lama dipahami sebagai ikatan sakral yang mempersatukan dua individu dalam komitmen jangka panjang. Ia bukan sekadar kontrak sosial, melainkan janji moral, emosional, dan spiritual. Namun dalam beberapa dekade terakhir, relasi pernikahan kian rapuh. Perceraian tidak lagi dipandang sebagai peristiwa luar biasa, melainkan sebagai salah satu kemungkinan yang lumrah. Hubungan yang dahulu diperjuangkan untuk dipertahankan, kini sering kali berakhir ketika beban dirasa terlalu berat.

Salah satu penyebabnya adalah perubahan struktur sosial yang begitu cepat. Dunia bergerak dengan ritme yang menuntut efisiensi, kepuasan instan, dan pencapaian personal. Nilai-nilai individualisme semakin menguat, sementara pernikahan menuntut kompromi, pengorbanan, dan kesabaran jangka panjang. Ketika dua individu yang sama-sama terbiasa memprioritaskan diri bertemu dalam institusi yang menuntut kebersamaan, gesekan menjadi sulit dihindari.

Selain itu, tekanan ekonomi turut memberi kontribusi signifikan. Biaya hidup yang meningkat, ketidakpastian pekerjaan, dan tuntutan gaya hidup sering kali menjadi sumber konflik yang berlarut-larut. Masalah finansial tidak hanya menyangkut uang, tetapi juga menyentuh rasa aman dan harga diri. Ketika komunikasi tidak terkelola dengan baik, persoalan ekonomi mudah berubah menjadi konflik emosional yang menggerogoti kepercayaan dan kelekatan pasangan.

Realisme Baru dalam Memandang Cinta dan Komitmen

Generasi saat ini tumbuh dengan akses informasi yang luas. Media sosial, cerita publik figur, hingga statistik perceraian membuka realitas yang dahulu tersembunyi. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai akhir bahagia yang pasti, melainkan sebagai perjalanan penuh risiko. Kesadaran ini melahirkan sikap yang lebih realistis, namun juga kerap berubah menjadi skeptisisme.

Orang-orang kini lebih berani mengakui bahwa cinta saja tidak cukup. Mereka menyadari pentingnya kesehatan mental, kesetaraan peran, dan kecocokan nilai hidup. Ketika pernikahan gagal memenuhi ekspektasi tersebut, pilihan untuk berpisah dianggap sebagai bentuk penyelamatan diri, bukan lagi aib sosial. Dalam konteks ini, perceraian sering dipahami sebagai keputusan rasional, meski tetap menyisakan luka emosional.

Namun realisme ini juga membawa paradoks. Semakin orang memahami kompleksitas pernikahan, semakin besar pula rasa takut untuk menjalaninya. Ketakutan akan kegagalan, trauma dari kisah orang lain, serta kekhawatiran kehilangan kebebasan pribadi membuat banyak orang menunda atau bahkan menolak pernikahan. Komitmen jangka panjang dipandang sebagai risiko emosional yang terlalu mahal.

Antara Kebebasan Pribadi dan Makna Bertumbuh Bersama

Di balik meningkatnya perceraian dan sikap skeptis terhadap pernikahan, tersimpan pertanyaan mendasar tentang makna relasi itu sendiri. Apakah pernikahan masih dipahami sebagai ruang bertumbuh bersama, atau sekadar sarana memenuhi kebahagiaan pribadi? Ketika kebahagiaan menjadi tolok ukur tunggal, relasi mudah runtuh saat kebahagiaan itu terganggu.

Pernikahan sejatinya bukan tentang ketiadaan konflik, melainkan tentang kemampuan mengelola perbedaan. Namun kemampuan ini menuntut keterampilan emosional yang tidak otomatis dimiliki setiap orang. Di tengah budaya serba cepat, kesediaan untuk belajar, bertahan, dan berproses sering kali kalah oleh godaan untuk mengakhiri dan memulai kembali.

Refleksi ini tidak bermaksud menolak perceraian sebagai pilihan. Dalam banyak kasus, perceraian memang menjadi jalan terbaik untuk menghentikan kekerasan, ketidakadilan, atau penderitaan berkepanjangan. Namun meningkatnya angka perceraian juga patut dibaca sebagai sinyal bahwa institusi pernikahan membutuhkan pemaknaan ulang. Pendidikan pranikah, literasi emosional, dan budaya dialog menjadi semakin penting agar pernikahan tidak hanya dibangun di atas romantisme, tetapi juga kesiapan menghadapi realitas.

Pada akhirnya, pernikahan di zaman ini berdiri di persimpangan. Ia tidak lagi dapat bertumpu pada norma semata, tetapi juga belum sepenuhnya menemukan bentuk baru yang kokoh. Di antara kebebasan individu dan kebutuhan akan kebersamaan, manusia modern terus mencari keseimbangan. Mungkin, tantangan terbesar pernikahan hari ini bukanlah godaan untuk berpisah, melainkan keberanian untuk tetap tinggal dan bertumbuh bersama dalam segala ketidaksempurnaan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak