Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik

M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
ilustrasi mengikuti kajian agama (Pexels/Raka Dwi Wicaksana)

Fenomena kajian berbayar belakangan semakin sering terlihat di berbagai kota besar di Indonesia. Jika dulu pengajian identik dengan masjid, musala, atau rumah warga dengan suasana sederhana, kini konsepnya berubah menjadi lebih modern.

Mengaji kini terkesan lebih high-class saat digelar di hotel, ballroom, kafe, bahkan coworking space, lengkap dengan dekorasi estetik, tata cahaya hangat, sound system premium, dan tiket masuk yang harganya tidak murah.

Sebagian orang menyebutnya sebagai bentuk upgrade dakwah zaman now. Namun, tidak sedikit pula yang bertanya, apakah agama mulai dikemas seperti produk? Apakah esensi mengaji perlahan memudar karena unsur komersial?

Perdebatan ini pun menjadi topik hangat di kalangan generasi muda hingga masyarakat umum. Sejauh mana kajian berbayar estetik yang bergeser dari masjid ke ballroom ini mempertahankan esensi sharing keilmuan?

Dari Karpet Masjid ke Ruang Ber-AC

Dulu, pengajian identik dengan duduk lesehan, membawa kitab sendiri, tanpa registrasi, atau biaya. Siapa pun bisa datang karena konsepnya terbuka dan sederhana.

Kini, muncul "format" baru: tiket masuk ratusan ribu rupiah, venue hotel atau ballroom, ustaz dan ustazah populer, goodie bag, snack box, bahkan merchandise, serta tema kajian spesifik yang kekinian, seperti self-love, healing, hingga relationship.

Secara tampilan, kajian memang menjadi lebih rapi, nyaman, dan Instagrammable. Banyak peserta mengaku merasa lebih fokus karena tempatnya tenang, bersih, dan tertata profesional. Sementara bagi sebagian orang, "format" baru ini dianggap sebagai adaptasi dakwah terhadap gaya hidup modern, terutama untuk Gen Z dan milenial yang terbiasa dengan event berkonsep kreatif.

Mengapa Kajian Jadi Berbayar?

Sebenarnya, biaya dalam sebuah acara bukanlah hal baru. Namun, sekarang transparansinya lebih terlihat, mulai dari kebutuhan biaya operasional, profesionalitas acara, hingga segmentasi peserta.

Tidak dimungkiri bahwa format venue dan kenyamanan yang ditawarkan membutuhkan biaya, baik untuk keperluan sewa ballroom, konsumsi, dekorasi, dokumentasi, hingga tim event organizer dengan sistem tiket sebagai sumber dananya.

Saat kajian hadir dengan konsep berbayar, tuntutan profesionalisme acara pun semakin tinggi. Acara mengaji dikemas lebih terstruktur dengan rundown jelas, materi visual, dan manajemen waktu yang rapi.

Kajian tematik seperti healing syariah atau self-growth islami sering menyasar kalangan anak muda sehingga gaya estetik dianggap lebih relevan. Dari sisi ini, mengaji berbayar juga bisa dipahami sebagai strategi manajemen acara, bukan semata-mata komersialisasi.

Agama yang Estetik: Dakwah atau Branding?

Kemasan yang estetik untuk acara kajian memang menjadi daya tarik utama. Poster minimalis, tone warna lembut, video sinematik, hingga spot foto sering menjadi bagian dari promosi yang membuat acara kajian terasa seperti lifestyle event, bukan sekadar ceramah.

Di satu sisi, pendekatan ini efektif. Banyak anak muda yang sebelumnya enggan datang ke masjid justru tertarik hadir karena konsepnya lebih dekat dengan dunia mereka. Artinya, estetika bisa menjadi jembatan dakwah.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran andai tampilan acara malah menjadi lebih penting daripada isi kajiannya. Jangan sampai orang datang hanya demi foto, bukan memahami ilmu. Ketika agama terlalu dibungkus visual, ada risiko pesan spiritual kalah oleh sensasi acara.

Apakah Esensi Mengaji Jadi Luntur?

Esensi mengaji umumnya mengarah pada tujuan mencari ilmu, mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbaiki akhlak, hingga memperkuat iman. Selama tujuan itu tetap ada, tempat dan format seharusnya bukan masalah.

Masjid bukan satu-satunya ruang belajar. Hotel pun tidak otomatis menghilangkan nilai ibadah. Namun, masalah muncul jika harga tiket terlalu mahal sehingga membatasi akses, ustaz diperlakukan seperti selebritas semata, dan kajian berubah menjadi ajang pamer gaya hidup religius.

Jika sudah seperti ini, wajar bila orang merasa agama bergeser dari substansi ke sensasi. Mengaji seolah menjadi acara eksklusif dan menggeser akses terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan ilmu.

Fenomena Sosial Generasi Muda

Kalau dilihat lebih dalam, tren ini juga mencerminkan perubahan cara Gen Z dan milenial belajar agama. Mereka cenderung menyukai suasana nyaman, visual menarik, belajar lewat diskusi, dan bukan sekadar ceramah satu arah.

Tema-tema kekinian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari juga menjadi branding kajian estetik yang ikut menjawab kebutuhan majelis. Artinya, kajian berbayar bukan semata soal komersialisasi, melainkan juga transformasi metode dakwah agar relevan dengan zaman.

Dari masjid ke ballroom, dari lesehan ke kursi empuk, dunia kajian memang berubah. Namun, sejatinya mengaji tetap soal hati yang mau belajar. Estetika boleh mengikuti zaman dan kemasan boleh modern, tetapi nilai spiritual tidak boleh hilang.

Karena pada akhirnya, agama bukan tentang seberapa mewah tempatnya atau seberapa kekinian konsep acaranya, melainkan sejauh mana makna spiritual yang disampaikan meresap dalam hidup kita.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak