Bukan cuma punchline yang bikin ketawa, special show Pandji Pragiwaksono juga bikin satu istilah hukum mendadak viral. Mens rea, kata yang sebelumnya terasa asing dan “berat”, kini ramai dibahas anak muda di media sosial, tongkrongan, sampai kolom komentar.
Istilah mens rea mencuat setelah Pandji menjadikannya judul special show terbarunya yang kini tayang di Netflix. Lewat materi yang tajam dan satir, Pandji mengajak penonton memahami bahwa dalam banyak persoalan hukum dan politik, niat di balik tindakan sering kali lebih penting daripada hasil akhirnya.
Secara sederhana, mens rea adalah istilah dalam hukum pidana yang merujuk pada niat atau kondisi batin seseorang saat melakukan suatu perbuatan. Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti “batin yang bersalah”. Dalam hukum, mens rea menjadi unsur penting untuk menentukan apakah seseorang benar-benar bisa dipidana atau tidak.
Dalam praktik hukum, seseorang tidak bisa langsung dianggap bersalah hanya karena sebuah akibat terjadi. Hukum juga melihat apakah perbuatan itu dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran penuh, secara sembrono, atau karena kelalaian. Di sinilah mens rea selalu dipasangkan dengan actus reus, yakni perbuatan fisik yang dilakukan.
Agar lebih mudah dipahami, mens rea memiliki beberapa tingkatan. Ada perbuatan yang dilakukan dengan sengaja karena memang menginginkan akibat tertentu. Ada juga yang dilakukan dengan sadar bahwa akibatnya pasti terjadi. Selain itu, ada perbuatan yang dilakukan dengan mengabaikan risiko, hingga yang terjadi karena lalai.
Konsep ini kerap muncul dalam diskusi publik, termasuk saat membahas kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat atau pengambil kebijakan, salah satunya yang sempat menyeret nama Tom Lembong. Perdebatan publik tidak hanya berhenti pada “apa yang terjadi”, tetapi juga pada “apa niat di balik keputusan tersebut”.
Di titik ini, mens rea menjadi penting. Sebuah kebijakan yang berdampak buruk belum tentu lahir dari niat jahat. Bisa jadi, keputusan itu diambil dengan itikad tertentu, meski kemudian berujung pada konsekuensi yang dipersoalkan.
Pemahaman inilah yang diangkat Pandji Pragiwaksono dalam special show Mens Rea. Dalam pertunjukan yang pertama kali digelar di Indonesia Arena GBK dan kemudian tayang di Netflix, Pandji membedah isu sosial dan politik dengan pendekatan yang lebih “kena” ke generasi muda.
Pandji menyoroti relasi kekuasaan, perilaku elite politik, hingga fenomena “no viral, no justice”. Ia juga mengkritik kebiasaan publik yang kerap menghakimi tanpa memahami konteks dan niat di balik sebuah tindakan.
Dengan gaya komedi yang lugas dan satir, Pandji membuat konsep mens rea terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, masyarakat lebih cepat marah daripada bertanya, lebih cepat menghakimi daripada memahami.
Lewat Mens Rea, Pandji tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga membuka ruang diskusi. Istilah hukum yang dulu hanya dikenal di ruang sidang kini masuk ke ruang obrolan anak muda, menjadi alat untuk berpikir lebih kritis soal keadilan, kekuasaan, dan tanggung jawab.
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu serius tidak selalu harus dibahas dengan cara kaku. Ketika dikemas dengan tepat, mens rea bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami hukum dan realitas sosial dengan cara yang lebih dekat dan relevan.