Review Film Kokuho: Kisah tentang Perjuangan Menjadi Maestro Onnagata

Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Review Film Kokuho: Kisah tentang Perjuangan Menjadi Maestro Onnagata
Poster film Kokuho (IMDb)

Film Kokuho (judul asli Kokuh, yang berarti Harta Nasional) adalah sebuah mahakarya sinema Jepang yang dirilis pada 2025, disutradarai oleh Lee Sang-il, sutradara terkenal dari serial Pachinko.

Berdasarkan novel laris karya Shuichi Yoshida tahun 2018, film ini menyajikan drama historis yang epik, membentang lebih dari lima dekade di Jepang pasca-Perang Dunia II.

Dengan durasi 174 menit, Kokuho bukan hanya sebuah cerita tentang seni kabuki, tapi juga eksplorasi mendalam tentang pengorbanan, rivalitas, cinta, dan harga yang harus dibayar untuk mencapai kebesaran dalam seni.

Film ini telah menjadi fenomena box office di Jepang, meraup lebih dari $100 juta dan menjadi film live-action Jepang terlaris kedua sepanjang masa, hanya kalah dari Bayside Shakedown 2 Di Rotten Tomatoes, film ini mendapat skor 94% dari kritikus dan audiens, menandakan penerimaan yang luar biasa. 

Sinopsis: Masuk Dunia Kabuki dan Pengadopsian

Salah satu adegan di film Kokuho (IMDb)
Salah satu adegan di film Kokuho (IMDb)

Cerita dimulai di Nagasaki tahun 1964, saat Jepang sedang mengalami bom ekonomi pasca-perang. Protagonis utama, Kikuo Tachibana yang diperankan brilian oleh Ryo Yoshizawa, adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang kehilangan ayahnya, seorang pemimpin geng yakuza.

Dalam kekacauan itu, Kikuo diadopsi oleh seorang aktor kabuki terkenal, yang memperkenalkannya pada dunia teater tradisional Jepang. Bersama Shunsuke (Ryusei Yokohama), putra tunggal sang aktor, Kikuo memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya pada kabuki. N

amun, perjalanan ini penuh rintangan: dari latihan yang melelahkan, diskriminasi karena latar belakang yakuza-nya, hingga konflik internal antara bakat alami versus garis keturunan.

Film ini menggambarkan bagaimana Kikuo berkembang menjadi seorang maestro kabuki, yang akhirnya dianugerahi gelar harta nasional oleh pemerintah Jepang, tapi dengan biaya pribadi yang mahal – kehilangan keluarga, persahabatan, dan bahkan identitas diri.

Salah satu kekuatan utama Kokuho adalah penggambaran autentik seni kabuki. Lee Sang-il, yang dikenal dengan pendekatan humanisnya, tidak sekadar menampilkan pertunjukan kabuki sebagai latar belakang, tapi menjadikannya pusat narasi.

Adegan-adegan latihan dan pentas dipenuhi dengan detail visual yang memukau: gerakan tubuh yang presisi, makeup tebal, kostum mewah, dan musik tradisional yang menghanyutkan.

Kita bakal diajak merasakan fisikalitas kabuki – seni yang menuntut disiplin ekstrem, di mana aktor pria memerankan semua peran, termasuk wanita (onnagata).

Kurasa film ini menangkap keindahan fisik dan cerita yang penuh penderitaan dalam kabuki, mencerminkan perjuangan protagonis.

Elemen ini membuat Kokuho bukan hanya drama, tapi juga dokumen budaya yang bisa membangkitkan minat baru pada kabuki, seni yang mulai pudar di era modern Jepang. Maka dari itu, film ini berpotensi merevitalisasi kabuki itu sendiri. 

Review Film Kokuho

Salah satu adegan di film Kokuho (IMDb)
Salah satu adegan di film Kokuho (IMDb)

Pemeranan dalam film ini luar biasa. Ryo Yoshizawa memberikan performa karir terbaiknya sebagai Kikuo. Ia berhasil menunjukkan transformasi dari remaja polos menjadi aktor legendaris yang dingin dan ambisius. Ekspresinya dalam adegan kabuki, terutama saat memerankan peran tragis, sangat mengharukan.

Ryusei Yokohama sebagai Shunsuke menambahkan lapisan rivalitas yang kompleks – persahabatan mereka berubah menjadi persaingan sengit, di mana pertanyaan apakah bakat atau darah yang menentukan sukses? menjadi tema sentral.

Ken Watanabe, aktor veteran dari The Last Samurai, muncul sebagai figur mentor yang karismatik, menambah bobot emosional. Pendukung lainnya, seperti yang memerankan anggota keluarga kabuki, juga solid, menciptakan ensemble yang harmonis.

Secara teknis, Kokuho adalah pesta visual. Sinematografi oleh Norimichi Kasamatsu menangkap keindahan Jepang pasca-perang: dari jalanan Nagasaki yang ramai hingga teater kabuki yang megah.

Penggunaan warna – dari hitam-putih simbolis hingga palet cerah dalam pertunjukan – memperkuat narasi. Musik skornya menambahkan nuansa melankolis, sementara desain produksi akurat mereproduksi era 1960-an hingga 2000-an.

Akan tetapi, durasi panjang bisa menjadi tantangan buat kamu yang kasual; beberapa bagian terasa lambat, meski itu sengaja untuk membangun kedalaman karakter.

Tema film ini relevan secara universal, pengorbanan untuk seni, konflik generasi, dan identitas budaya di tengah modernisasi.

Di Jepang, kabuki sering dianggap kuno, tapi Kokuho menunjukkan bagaimana seni tradisional bisa bertahan melalui dedikasi.

Film ini juga menyentuh isu sosial seperti yakuza dan diskriminasi, tanpa menjadi preachy. Sebagai entri Oscar Jepang untuk Best International Feature di Academy Awards ke-98, Kokuho berpotensi memenangkan penghargaan global, mengikuti jejak film Jepang seperti Drive My Car.

Di Indonesia, Kokuho tayang di bioskop mulai hari ini, Rabu (18/02/2026). Dengan sneak preview dari 14-17 Februari di beberapa lokasi.

Distribusi oleh Feat Pictures melalui Cinema XXI dan jaringan lain. Ini kesempatan bagus bagi pencinta film Jepang untuk menyaksikan di layar lebar, terutama dalam format IMAX jika tersedia. Tiket advance mulai dijual 13 Februari.

Jadi kesimpulannya, Kokuho adalah film yang ambisius dan menyentuh, layak ditonton bagi siapa saja yang menghargai cerita tentang perjuangan manusia. Rating pribadi dariku: 9/10.

Film ini bukan hanya hiburan, tapi pengingat bahwa seni sejati lahir dari penderitaan dan ketekunan. Kalau kamu penggemar drama epik seperti The Godfather atau There Will Be Blood, Kokuho wajib masuk daftar tontonanmu ya Sobat Yoursay!

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak