Mencari Lailatul Qadar: Malam Ganjil Versi Muhammadiyah atau Pemerintah?

Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Mencari Lailatul Qadar: Malam Ganjil Versi Muhammadiyah atau Pemerintah?
Ilustrasi Puasa Ramadan (Unsplash/@abdu3h)

Setiap Ramadan selalu ada satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam: Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik daripada seribu bulan, malam ketika pahala ibadah dilipatgandakan dan doa-doa diyakini lebih dekat untuk dikabulkan.

Tidak heran jika banyak orang rela begadang di sepuluh malam terakhir Ramadan demi “menangkap” momen istimewa tersebut.

Namun, di tengah semangat itu, muncul juga pertanyaan yang kadang dibahas dengan nada setengah serius, setengah bercanda: kalau Lailatul Qadar biasanya datang pada malam-malam ganjil, lalu ganjil yang mana? Versi Muhammadiyah atau versi pemerintah?

Lailatul Qadar Versi Muhammadiyah atau Versi Pemerintah?

Pertanyaan ini muncul karena di Indonesia, awal Ramadan dan Idulfitri kadang berbeda antara pemerintah dan sebagian organisasi Islam. Pemerintah biasanya menetapkan awal bulan melalui sidang isbat yang mempertimbangkan rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi).

Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang berbasis perhitungan astronomi murni.

Perbedaan metode ini bisa membuat tanggal awal puasa berbeda satu hari. Akibatnya, ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, malam ganjil versi satu kelompok bisa saja menjadi malam genap versi kelompok lainnya.

Dari sinilah muncul pertanyaan ringan tapi menarik: para malaikat “mengikuti” kalender yang mana?

Tentu saja, jika dipikirkan secara literal, pertanyaan ini terdengar lucu. Malaikat tentu tidak ikut rapat sidang isbat atau menunggu pengumuman organisasi. Dalam tradisi Islam, waktu-waktu ibadah tidak bergantung pada keputusan manusia, melainkan pada ketetapan Allah.

Hadis tentang Lailatul Qadar

Di dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi Muhammad bersabda:

Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Umat Islam dianjurkan mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Karena itulah banyak orang meningkatkan ibadah pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.

Namun para ulama juga menekankan bahwa anjuran ini bukan berarti Lailatul Qadar pasti hanya terjadi pada malam ganjil secara mutlak.

Ada riwayat yang menunjukkan kemungkinan malam tersebut berpindah-pindah setiap tahun. Artinya, bisa saja seseorang justru mendapatkannya pada malam yang menurut perhitungan kalendernya terlihat genap.

Karena itulah sebagian ulama menyarankan pendekatan yang lebih sederhana: daripada sibuk menebak-nebak malam mana yang “paling mungkin”, lebih baik memaksimalkan ibadah di seluruh sepuluh malam terakhir.

Masih dari Aisyah, diriwayatkan:

Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir (Ramadan) melebihi kesungguhannya pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim no. 1175)

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi tidak hanya beribadah di malam ganjil saja, tetapi menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.

Pengingat Saudara Muslim: Antara Judi Waktu dan Takwil Berlebihan

Logikanya cukup sederhana. Jika seseorang hanya beribadah pada malam ganjil karena berharap itulah Lailatul Qadar, maka ia sebenarnya sedang “berjudi” dengan waktu. Tapi jika ia beribadah setiap malam, peluangnya tentu jauh lebih besar.

Selain itu, ada juga aspek teologis yang sering dibahas dalam kajian keislaman. Perlu diingat juga bahwa terlalu jauh berspekulasi tentang bagaimana Allah “mengatur” waktu bisa masuk ke wilayah yang disebut takwil berlebihan.

Misalnya bertanya apakah sepertiga malam mengikuti zona waktu tertentu, atau apakah Lailatul Qadar turun mengikuti kalender negara tertentu.

Jika logika ini diteruskan, pertanyaannya bisa menjadi semakin rumit. Ketika di Indonesia malam hari, di Amerika justru siang hari. Apakah malaikat menunggu semua negara mengalami malam terlebih dahulu?

Tentu saja cara berpikir seperti ini tidak perlu dibawa terlalu jauh.

Ketetapan Allah itu Mutlak dan Tak Terikat Aturan Mahluk

Dalam teologi Islam, Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu sebagaimana manusia. Karena itu, banyak ulama menyarankan agar umat Islam cukup memahami teks hadis sebagaimana adanya.

Cari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dan tingkatkan ibadah pada malam-malam tersebut.

Perbedaan metode penentuan awal Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah sebenarnya juga lahir dari tradisi keilmuan yang sama-sama kuat. Kedua pendekatan tersebut memiliki dasar ilmiah, metode, dan argumentasi yang dipelajari secara serius oleh para ahli.

Pada akhirnya, pencarian Lailatul Qadar bukan soal siapa yang paling tepat menentukan tanggal, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh dalam beribadah. Malam itu diyakini turun kepada hamba-hamba yang beriman dan bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah.

Jadi, daripada pusing memikirkan malaikat mengikuti kalender siapa, mungkin ada cara yang lebih sederhana.

Salat saja setiap malam.

Kalau ternyata Lailatul Qadar datang, kita sudah siap. Kalau pun tidak tahu persis malam yang mana, setidaknya sepuluh malam terakhir Ramadan telah diisi dengan ibadah terbaik yang bisa kita lakukan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak