Kolom

Kerja Pintar Bukan Kerja Rodi: Mengapa Pulang Tenggo Itu Profesional?

Kerja Pintar Bukan Kerja Rodi: Mengapa Pulang Tenggo Itu Profesional?
Ilustrasi kerja lembur (Unsplash/Vitaly Gariev)

Sobat Yoursay, pernahkah kamu merasa bahwa notifikasi pesan singkat dari atasan di luar jam kerja terasa lebih horor daripada film pengabdi setan? Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tas sudah tersampir di bahu, dan kamu sudah membayangkan segelas es kopi susu atau sesi rebahan yang hakiki di kamar. Namun, tiba-tiba terdengar denting aplikasi pesan yang isinya permintaan "revisi sedikit" atau "tolong kirimkan data ini sebentar saja". Pada saat inilah, banyak dari kita—terutama rekan-rekan dari Generasi Z—mulai mempraktikkan sebuah kecakapan baru yang sering disalahartikan oleh generasi pendahulu sebagai sikap malas, yaitu seni menetapkan batasan atau setting boundaries.

Bagi banyak orang dari generasi sebelumnya, lembur sering kali dianggap sebagai lambang loyalitas dan dedikasi. Semakin lama seseorang mendekam di kantor, semakin ia dianggap "berkinerja" di mata perusahaan. Namun, bagi Gen Z yang tumbuh di tengah arus informasi yang serba cepat dan tekanan mental yang masif, narasi itu mulai didekonstruksi secara total.

Menolak lembur bukan berarti kita antipati terhadap pekerjaan atau tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, ini adalah sebuah pernyataan sikap bahwa kehidupan kita tidak hanya berputar di atas meja kantor. Sobat Yoursay, bukankah sangat aneh jika kita menghabiskan sepertiga hidup kita untuk bekerja, namun kehilangan kemampuan untuk menikmati dua pertiga sisa hidup lainnya karena kelelahan yang luar biasa?

Gen Z adalah generasi yang sangat vokal mengenai isu kesehatan mental. Kita sadar betul bahwa burnout bukan saja istilah keren untuk gaya-gayaan, melainkan kondisi medis dan psikologis yang nyata yang bisa merusak produktivitas jangka panjang. Lembur yang dilakukan terus-menerus tanpa adanya jeda yang cukup akan memicu stres kronis, gangguan tidur, hingga penurunan fungsi kognitif.

Jadi, ketika seorang karyawan muda menolak untuk lembur secara rutin, ia sebenarnya sedang melakukan upaya pencegahan. Ia sedang berinvestasi pada kesehatan mentalnya agar tetap bisa bekerja secara optimal di hari esok, lusa, dan tahun-tahun mendatang. Ini adalah strategi maraton, bukan lari sprint yang menghabiskan napas di awal perjalanan.

Sobat Yoursay, otak manusia memiliki kapasitas fokus yang terbatas. Memaksakan diri bekerja hingga larut malam sering kali hanya menghasilkan pekerjaan yang penuh kesalahan, yang ujung-ujungnya harus diperbaiki lagi keesokan harinya. Ini adalah inefisiensi yang dibungkus dengan label "kerja keras".

Gen Z lebih menghargai konsep work smart daripada sekadar work hard. Jika pekerjaan bisa diselesaikan dengan efektif dalam delapan jam, mengapa harus menambah dua jam lagi hanya untuk terlihat sibuk di depan atasan? Batasan kerja yang tegas justru mendorong kita untuk lebih disiplin dan fokus selama jam kerja berlangsung.

Tantangan terbesar dalam mempraktikkan seni menolak lembur ini adalah stigma sosial di lingkungan kantor. Masih banyak budaya korporasi yang menerapkan guilt tripping atau pemberian rasa bersalah kepada mereka yang pulang tepat waktu.

Kalimat-kalimat sindiran seperti "Wah, tumben tenggo (teng langsung go)" atau "Enak ya yang pekerjaannya sudah selesai semua" sering kali menjadi senjata untuk meruntuhkan batasan yang sudah kita buat. Di sinilah keberanian Gen Z patut diacungi jempol. Menetapkan batasan membutuhkan kemampuan komunikasi asertif yang baik. Kita harus mampu menjelaskan bahwa kita berkomitmen pada hasil kerja, namun kita juga memiliki komitmen pada kehidupan pribadi, keluarga, dan hobi yang menjadi penyeimbang kewarasan kita.

Sobat Yoursay, dunia kerja modern saat ini sangatlah menuntut. Dengan adanya gawai, batasan antara ruang kantor dan ruang privat menjadi sangat kabur. Kita bisa bekerja dari mana saja, tapi konsekuensinya, kantor pun bisa mendatangi kita ke mana saja. Seni menolak lembur adalah cara kita untuk merebut kembali otoritas atas ruang privat tersebut.

Selain itu, Gen Z tidak lagi hanya melihat besaran gaji sebagai indikator utama kesuksesan. Keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance) kini menempati urutan teratas dalam pertimbangan memilih karier. Perusahaan yang tidak menghormati batasan waktu karyawannya akan kesulitan mempertahankan talenta muda yang potensial.

Jadi, praktik menetapkan batasan ini sebenarnya juga memberikan tekanan positif bagi perusahaan untuk memperbaiki sistem manajemen kerja mereka. Perusahaan dipaksa untuk lebih terorganisir, lebih menghargai waktu, dan tidak mengandalkan lembur sebagai solusi atas buruknya perencanaan proyek.

Seni menolak lembur adalah bentuk profesionalisme yang sehat. Kita memberikan yang terbaik selama jam kerja, dan kita mengambil hak kita sepenuhnya setelah jam kerja usai. Kebahagiaan kita di luar kantor akan berdampak positif pada semangat kerja kita di dalam kantor. Keduanya adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.

Sobat Yoursay, apakah kamu sudah mulai berani menetapkan batasan di tempat kerjamu? Atau kamu masih merasa terjebak dalam rasa sungkan yang membuatmu terus-menerus mengiyakan permintaan lembur yang sebenarnya tidak mendesak?

Mari kita mulai belajar untuk berkata "tidak" pada hal-hal yang melampaui kapasitas kita, tanpa perlu merasa bersalah. Kesehatan mentalmu adalah tanggung jawabmu sendiri, bukan tanggung jawab perusahaan. Selamat mempraktikkan seni menetapkan batasan, dan semoga kita semua bisa menikmati waktu luang kita dengan hati yang tenang dan pikiran yang benar-benar bebas dari urusan kantor.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda