Kolom

Kartini di Era 5G: Melawan 'Pingitan Digital' dan Kekerasan Siber

Kartini di Era 5G: Melawan 'Pingitan Digital' dan Kekerasan Siber
Ilustrasi perundungan siber (Freepik/pikisuperstar)

Membicarakan Raden Ajeng Kartini sering kali membawa ingatan kita pada bayangan sebuah meja kayu kecil, selembar kertas, dan goresan pena yang menari di bawah temaram lampu minyak. Di masa itu, surat adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan Kartini dengan dunia luar, satu-satunya cara bagi dia untuk "melarikan diri" dari pengapnya pingitan di Jepara.

Namun, bayangkan jika kita menarik sosok Kartini ke tahun 2026 dan memberinya sebuah ponsel pintar dengan koneksi internet 5G yang stabil. Mungkin beliau tidak akan menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menunggu balasan surat dari Belanda. Dengan sekali ketukan layar, dunia yang dulu ia impikan—dunia yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan pertukaran ide—akan langsung terhampar di depan matanya.

Bagi Kartini, informasi adalah kemerdekaan. Dalam surat-suratnya, beliau berkali-kali menekankan betapa pentingnya pendidikan agar perempuan tidak lagi bisa dibodohi atau ditindas oleh keadaan. Sobat Yoursay, internet yang ada di genggaman kita hari ini sebenarnya adalah perwujudan dari "pintu yang terbuka" yang dulu sangat diidam-idamkan oleh Kartini. Kita sekarang punya akses ke jutaan jurnal, perpustakaan digital, hingga kursus daring gratis yang bisa diakses bahkan sambil rebahan.

Namun, dunia digital yang serba terbuka ini rupanya bukan tanpa celah. Jika dulu Kartini harus berhadapan dengan tembok batu keraton dan aturan adat yang kolot, perempuan masa kini menghadapi tantangan yang lebih abstrak namun tak kalah menyakitkan, yaitu Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO).

Sobat Yoursay mungkin sering melihat atau bahkan mendengar cerita tentang penyebaran konten pribadi tanpa konsensus, pelecehan di kolom komentar, hingga penguntitan digital (cyberstalking). Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa tren kekerasan di ruang siber ini terus meningkat setiap tahunnya, sering kali menyasar perempuan muda yang vokal di media sosial.

Ini adalah ironi yang harus kita hadapi bersama. Di satu sisi, teknologi memberikan kita panggung untuk bersuara, namun di sisi lain, panggung itu juga dipenuhi oleh "predator" yang ingin membungkam perempuan dengan cara-cara yang manipulatif.

Jika Kartini memegang ponsel pintar hari ini, beliau pasti akan sangat cerewet soal pentingnya menjaga keamanan digital. Beliau mungkin akan mengingatkan kita bahwa memiliki akses informasi saja tidak cukup; kita juga harus punya kedaulatan atas identitas digital kita.

Sobat Yoursay, kita tidak boleh membiarkan ruang digital berubah menjadi tempat pingitan model baru. Pingitan digital terjadi ketika seorang perempuan merasa takut untuk berpendapat karena ancaman doxing, atau ketika ia merasa harus menutup akunnya karena tidak tahan dengan perundungan yang terus-menerus.

Jika kita diam saja melihat rekan perempuan kita dilecehkan secara daring, maka sebenarnya kita sedang membangun kembali tembok-tembok yang dulu coba diruntuhkan oleh Kartini. Solidaritas di ruang digital adalah kunci agar "pintu" yang sudah terbuka ini tidak tertutup kembali oleh ketakutan.

Penting bagi kita, terutama generasi muda, untuk mulai melek terhadap keamanan privasi. Mengaktifkan autentikasi dua faktor, memahami pengaturan privasi di media sosial, hingga berani melaporkan konten yang berbau KGBO adalah langkah-langkah kecil yang sangat berarti. Literasi digital adalah bentuk emansipasi masa kini. Dengan menjadi pengguna internet yang cerdas, kita sedang menghormati perjuangan Kartini yang ingin melihat perempuan bangsanya menjadi manusia-manusia yang berdaulat secara pikiran dan raga.

Kartini pernah menulis bahwa "Banyak hal yang menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri." Dalam konteks digital, sikap kita dalam menyaring informasi dan menjaga etika berselancar adalah penentu apakah teknologi ini akan membebaskan kita atau justru menjerat kita.

Sobat Yoursay, internet adalah perpustakaan terbesar sekaligus medan perang yang dinamis. Mari kita gunakan ponsel di tangan kita bukan hanya untuk mengikuti tren yang lewat, tapi sebagai alat untuk terus belajar, berkarya, dan saling melindungi.

Menjadi Kartini di era digital berarti berani vokal namun tetap waspada. Kita punya kesempatan untuk belajar apa pun yang kita mau, mulai dari manajemen bisnis hingga koding, tanpa perlu izin dari siapa pun. Tapi di saat yang sama, kita punya tugas kolektif untuk memastikan bahwa ruang digital ini aman bagi semua orang, terutama bagi mereka yang suaranya paling sering coba dibungkam.

Mari kita jadikan setiap ketukan di layar ponsel kita sebagai langkah menuju pembebasan yang sesungguhnya, sebuah kemerdekaan yang tidak hanya bebas dari pingitan fisik, tapi juga bebas dari segala bentuk intimidasi di dunia maya.

Sobat Yoursay, menurutmu, langkah kecil apa yang bisa kita mulai hari ini agar ruang digital kita menjadi tempat yang lebih ramah bagi semua perempuan?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda