Kolom

Di Balik Gema Takbir: Menolak Dosa Ekologis Plastik Hitam Kurban

Di Balik Gema Takbir: Menolak Dosa Ekologis Plastik Hitam Kurban
Ilustrasi daging kurban (Unsplash/teguhyudhatama)

Aroma khas panggangan daging dan gema takbir yang bersahutan selalu berhasil membawa kehangatan di setiap sudut pemukiman saat Hari Raya Idul Adha tiba. Momentum ini adalah saat di mana kesalehan ritual umat Muslim mencapai puncaknya, ditandai dengan kerelaan berbagi protein kepada sesama melalui penyembelihan hewan kurban.

Sayangnya, di balik kekhidmatan ibadah dan selebrasi sosial yang masif tersebut, ada sebuah pemandangan kontras yang kerap luput dari perhatian kita. Tumpukan kantong plastik hitam sekali pakai yang menggunung di sudut-sudut masjid dan aliran parit yang berubah warna menjadi merah pekat seolah menjadi saksi bisu dari sebuah ironi yang terus berulang setiap tahun.

Sobat Yoursay, jika kita mau sedikit membuka mata lebih lebar pasca-prosesi penyembelihan selesai, kita akan menemukan fakta bahwa ritual suci ini sering kali menyisakan beban berat bagi alam.

Jutaan kantong plastik kiloan dibagikan secara masif dalam satu hari, yang ujung-ujungnya akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai.

Belum lagi urusan limbah domestik seperti darah, kotoran, dan jeroan hewan yang kerap dibuang begitu saja ke selokan atau sungai terdekat. Pola penanganan konvensional yang abai ini tanpa sadar telah melahirkan sebuah "dosa ekologis" yang mencederai esensi dari ibadah kurban itu sendiri.

Banyak kepanitiaan masjid konvensional yang masih terjebak pada formalitas fikih penyembelihan: yang penting hewan sehat, disembelih secara syar'i, dan dagingnya habis dibagikan. Perkara kantong plastiknya mencemari lingkungan atau darahnya menimbulkan bau busuk dan sarang penyakit di lingkungan sekitar, itu dianggap sebagai urusan belakangan yang bukan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Padahal, Islam secara tegas mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah yang menjaga kepanjangan napas bumi, bukan justru menjadi agen perusak ekosistem melalui limbah yang dihasilkan.

Menjaga bumi dari kerusakan akibat aktivitas ibadah sebenarnya adalah bagian integral dari esensi takwa yang sesama kita kejar. Konsep Eco-Islam ini menuntut kita untuk mendefinisikan ulang makna kurban yang bersih. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kenyamanan ibadah kita hari ini tidak boleh mengorbankan hak generasi masa depan atas air yang bersih dan tanah yang bebas dari polusi mikroplastik.

Untungnya, solusi untuk keluar dari jebakan dosa ekologis ini sebenarnya sangat dekat dan kearifan lokal kita sudah menyediakannya dengan sangat melimpah. Sobat Yoursay pasti tahu bahwa Indonesia kaya akan material alami yang jauh lebih estetis dan ramah lingkungan ketimbang selembar plastik kresek.

Penggunaan wadah alternatif seperti besek bambu, daun jati, daun pisang, atau bahkan keranjang anyaman pandan adalah opsi lokal yang sangat cerdas namun sayangnya masih sering dianggap underrated. Memanfaatkan daun jati atau besek dapat mengurangi angka sampah plastik sekaligus membantu menggerakkan roda ekonomi para pengrajin lokal dan petani di pedesaan yang menyediakan bahan-bahan alami tersebut.

Beralih ke urusan sanitasi, masalah lain berupa bau menyengat dari darah kurban dan pencemaran air sebenarnya bisa diatasi dengan sentuhan teknologi biologi yang sangat sederhana, yakni eco-enzyme.

Cairan organik hasil fermentasi sampah kulit buah dan sayuran ini memiliki kemampuan luar biasa dalam menetralkan bau amonia seketika sekaligus mengurai bakteri patogen dalam limbah darah sebelum dialirkan ke saluran pembuangan.

Menyemprotkan eco-enzyme di area penyembelihan atau mencampurkannya pada air pembersihan bukan hanya membuat lingkungan masjid tetap higienis, melainkan juga mengembalikan air ke alam dalam kondisi yang jauh lebih aman.

Gerakan Green Idul Adha ini tentu tidak akan bisa terwujud jika hanya menjadi wacana di atas kertas atau sekadar obrolan di media sosial. Dibutuhkan keberanian dan komitmen besar dari para pengurus dewan kemakmuran masjid untuk mulai menyusun prosedur operasional baru yang berwawasan lingkungan.

Panitia bisa mulai mengedukasi warga agar membawa wadah sendiri dari rumah saat hendak mengambil hak daging kurban mereka, atau menyisihkan sebagian kecil anggaran kurban untuk membeli besek bambu dan memproduksi cairan organik pembersih.

Idul Adha memang mengajarkan kita tentang arti pengorbanan, dan barangkali, hal terbesar yang harus kita korbankan hari ini adalah ego serta kenyamanan kita yang terbiasa menggunakan plastik sekali pakai demi kelestarian bumi.

Sobat Yoursay, mari kita jadikan momentum hari raya kali ini sebagai titik balik untuk membuktikan bahwa iman dan kepedulian pada lingkungan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan mewujudkan kurban yang hijau dan bersih, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk bagi bumi yang kita pijak hari ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda