Kolom

Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar

Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar
Ilustrasi suasana kelas saat sedang ujian (dok. Gemini)

Selain membawa pulang peluang investasi yang mencapai triliunan rupiah, kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri juga kerap membawa oleh-oleh sampingan berupa instruksi pengajaran bahasa asing dari negara-negara yang dikunjunginya. Namun sayangnya, keinginan orang nomor satu di Indonesia tersebut berpotensi untuk menguap begitu saja, imbas krisis literasi nasional yang kini tengah melanda generasi penerus bangsa.

Seperti yang kita ketahui bersama, pada rangkaian kunjungan luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Prabowo dalam dua tahun belakangan ini, pemimpin eksekutif tertinggi Indonesia tersebut selalu membawa "hasil samping" untuk dunia pendidikan.

Berdasarkan informasi dari laman Suara.com, dalam kunjungan terakhirnya ke Prancis pada Mei 2026, Presiden Prabowo membawa oleh-oleh berupa penginstruksian mata pelajaran bahasa Prancis di sekolah-sekolah dalam negeri. 

"Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis melihat perkembangan dunia ke depan," ucap Presiden Prabowo dalam pidatonya di Prancis, seperti yang dikutip dari laman Suara.com.

Bukan hanya bahasa Prancis, pada kunjungannya ke Brasil tahun 2025 lalu, Presiden Prabowo juga menginstruksikan hal serupa. Namun, karena di Brasil bahasa nasional yang mereka pergunakan adalah bahasa Portugis, maka politisi sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan instruksi kepada sekolah yang ada di Tanah Air untuk mengajarkan bahasa Portugis.

Seperti yang telah saya tuliskan beberapa waktu lalu, bagi saya pribadi keinginan (atau instruksi) dari Presiden Prabowo ini sendiri sejatinya adalah sebuah visi yang sangat bagus. Karena bagaimanapun, semakin banyak bahasa yang dikuasai oleh anak-anak Indonesia, maka peluang mereka untuk bersaing di kancah global pun akan semakin terbuka pula.

Namun sayangnya, di balik pandangan visioner yang saya dapatkan dari instruksi-instruksi presiden, saya juga melihat adanya sebuah ketergesaan dari keinginan beliau. Karena pada kenyataannya, dalam dunia kebahasaan di Indonesia saat ini, yang dibutuhkan bukanlah penambahan skill berbahasa asing, namun pembenahan terkait kemampuan literasi para penerus bangsa ini.

Nilai Tes Kemampuan Akademik yang Rendah, PR untuk Segera Dibenahi

Beberapa hari kemarin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengumumkan hasil dari Tes Kemampuan Akademik tahun 2026. Sebagai informasi, Tes Kemampuan Akademik atau yang sering disingkat menjadi TKA ini adalah asesmen nasional terstandar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengukur dan memetakan capaian akademik siswa.

Tes ini sendiri menyasar kepada para peserta didik yang duduk di kelas tertinggi setiap jenjang. Sehingga untuk tingkatan SD/MI dan sederajat diikuti oleh siswa kelas VI, kemudian tingkatan SMP/MTs sederajat diikuti oleh siswa kelas IX dan untuk tingkatan SMA/SMK sederajat diikuti oleh mereka yang duduk di kelas XII.

Untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs sederajat, tes ini menyasar pada kemampuan siswa dalam hal literasi dan numerasi. Bidang literasi sendiri diwakili dengan pelajaran bahasa Indonesia, sementara bidang numerasi diwakili dengan mata pelajaran matematika.

Adapun untuk jenjang SMA/SMK sederajat, TKA mengukur kemampuan peserta didik di tiga mata pelajaran wajib yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika, serta dua mata pelajaran pilihan.

Berdasarkan hasil yang dipaparkan oleh pihak kementerian, capaian para siswa yang menjadi sasaran TKA ini dapat dikatakan cukup rendah, termasuk dalam tes kebahasaan. Untuk tingkatan SD/MI mata pelajaran bahasa Indonesia (literasi) rerata nasionalnya berada di angka 60,14 sementara untuk tingkatan SMP/MTs sederajat, nilai rerata nasionalnya berada di angka 60,83.

Meskipun rerata nilai yang didapatkan oleh para siswa peserta TKA SD/MI dan SMP/MTs sederajat ini lebih dari 50 yang kerap kali menjadi "angka mati" dalam dunia pendidikan, namun hal tersebut tak lantas membuat kita harus berbangga hati. Pasalnya, nilai literasi yang berada di angka 60 tersebut terbilang cukup memprihatinkan, mengingat bahasa Indonesia sendiri dapat dikatakan sebagai "makanan sehari-hari" masyarakat Indonesia. 

Logika kasarnya adalah, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa santapan sehari-hari, maka sudah seharusnya hasil tes dari anak-anak tersebut mendapatkan nilai yang tinggi. Toh, mereka sudah terbiasa dalam bersinggungan dengan bahasa Indonesia ini. Namun pada kenyataannya tidak demikian, bukan?

Orang-orang Indonesia (atau dalam hal ini adalah mereka yang menjadi sasaran dari TKA tahun 2026), ternyata tak mampu "menaklukkan" bahasa Indonesia yang sudah begitu familiar dengan kehidupan sehari-hari mereka. Angka 60, bukanlah sebuah angka yang istimewa, terlebih untuk sesuatu yang sudah biasa mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai 60, bagi saya justru menjadi indikator lemahnya generasi penerus bangsa ini dalam memahami permasalahan yang mana disajikan secara tekstual. Dengan kata lain, rerata nilai 60 di pelajaran bahasa Indonesia yang didapatkan oleh para siswa peserta TKA ini adalah sebuah barometer bahwa sejatinya negeri ini tengah mengalami krisis literasi.

Coba bayangkan saja, dari jutaan siswa yang ikut dalam TKA ini, secara nasional hanya ada sekitar delapan ribuan siswa saja yang bisa mendapatkan nilai sempurna. Berapa coba persentasenya jika kita hitung? Sangat minim dan menyajikan sebuah kenyataan yang miris serta mengenaskan, bukan?

Dan hal inilah yang seharusnya menjadi salah satu fokus utama pembenahan pemerintah di dunia pendidikan. Terus terang, sebagai guru yang bersinggungan langsung dengan tataran akar rumput, saya memandang pembenahan kemampuan para siswa dalam berliterasi ini menjadi suatu urgensi yang nilainya jauh lebih besar ketimbang penambahan mata pelajaran bahasa asing yang diinstruksikan oleh Presiden Prabowo.

Karena bisa jadi, tanpa kemampuan berliterasi yang memadai, penyisipan mata pelajaran bahasa asing yang diinginkan oleh Presiden Prabowo, akan kembali berakhir dengan kegagalan imbas lemahnya kemampuan bangsa ini dalam berliterasi. 

Alasannya simpel, jika di bidang Bahasa Indonesia, yang notabene sudah mereka kenal sedari lahir saja anak-anak ini belum sepenuhnya mampu menguasai dengan baik, bagaimana dengan bahasa Portugis dan bahasa Prancis yang kemarin-kemarin diinstruksikan oleh Pak Presiden? Bukankah hal ini seperti kita melakukan sebuah perjalanan untuk mencapai suatu tempat namun mendapatkan hadangan dari tembok tebal yang berlapis-lapis?

Wong bahasanya sendiri saja mereka belum mampu menguasainya dengan baik, apalagi bahasa asing yang sangat minim singgungannya dengan kehidupan kita? Ingat, secara hierarki, tingkat "keasingan" bahasa Prancis dan Portugis sendiri di Indonesia saat ini berada di level ketiga atau keempat untuk dikuasai, setelah bahasa ibu, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Takutnya lagi, krisis literasi yang saat ini tengah dialami oleh Indonesia dalam skala nasional hanya akan menjadi tembok penghalang bagi keinginan orang nomor satu di Indonesia. Karena apa? Tentu saja karena kita semua paham, literasi adalah gerbang masuk yang harus dikuasai dan dipahami oleh siapa pun untuk mempelajari ilmu-ilmu tertentu.

Bahkan rendahnya kemampuan literasi generasi kita saat ini bisa jadi bukan hanya akan menjadi penghalang. Jika kita meminjam istilah di dunia geografi dan mengibaratkan pelajaran bahasa asing yang diinginkan oleh Presiden Prabowo ini adalah benua Australia, maka kemampuan literasi anak-anak kita saat ini adalah Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef) yang mana akan menjadi permasalahan besar untuk dilewati sebelum anak-anak di sekolah Indonesia mendapatkan pelajaran yang diinginkan Presiden Prabowo itu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda