Kolom
Sindrom Ring of Fire: Mengapa Gempa Jepang Bikin Kita Refleks Panik?
Kabar mengenai gempa kuat bermagnitudo 6,8 yang mengguncang wilayah Honshu, Jepang, langsung memicu riak di tanah air. Hanya dalam hitungan menit setelah berita itu rilis di media daring, ruang digital kita langsung diserbu satu pertanyaan krusial yang seragam: "Apakah berdampak tsunami ke Indonesia?" Beruntung, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak cepat mengeluarkan rilis resmi bahwa pesisir nusantara aman dari ancaman.
Namun, ada satu fenomena psikologis menarik yang tertinggal di lini masa. Mengapa kita begitu reaktif—bahkan cenderung cemas berlebihan—terhadap bencana yang terjadi di halaman rumah negara lain yang jaraknya ribuan kilometer? Mengapa kata "gempa" dan "tsunami" di belahan bumi lain selalu berhasil memicu alarm bahaya di kepala kita?
Trauma yang Menetap di Alam Bawah Sadar
Jika kita bedah secara psikologi massa, kepanikan spontan warganet Indonesia bukan sekadar bentuk rasa ingin tahu yang tinggi. Ini adalah manifestasi dari apa yang bisa kita sebut sebagai "Sindrom Ring of Fire"—sebuah kecemasan kolektif yang mengakar akibat trauma sejarah bencana yang belum sepenuhnya sembuh.
Sebagai bangsa yang hidup di atas pertemuan lempeng-lempeng aktif, ingatan kita secara genetik dan sosial telah mengunci memori kelam Tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, hingga petaka Palu 2018.
Ketika mendengar berita bencana dari Jepang, alam bawah sadar kita secara refleks memutar kembali pita rekaman kelam tersebut. Kita tidak sedang mencemaskan Jepang; kita sedang mencemaskan diri kita sendiri. Ketakutan ini valid, sebuah survival instinct (insting bertahan hidup) yang sangat manusiawi.
Ironi Kecemasan yang Bersifat Reaktif
Namun, mari kita tengok sisi ironisnya. Mengapa pola kecemasan massal ini selalu berulang? Kita riuh dan panik saat membaca berita viral, lalu kembali abai dan tenang begitu otoritas mengetuk palu bahwa status kita "aman".
Kecemasan kolektif publik kita sayangnya masih bersifat reaktif, bukan antisipatif.
Kita sibuk berdebat di media sosial, tetapi berapa banyak dari kita yang setelah membaca berita gempa Jepang langsung bergerak memeriksa kelayakan struktur bangunan rumah sendiri? Berapa banyak keluarga di pesisir kita yang hari ini memiliki Tas Siaga Bencana (TSB) di sudut kamarnya?
Kecemasan kita sering kali menguap begitu saja tanpa pernah dikonversi menjadi tindakan mitigasi yang nyata. Kita takut pada dampaknya, tetapi kerap alfa dalam mempersiapkan diri menghadapi risikonya.
Mengubah Ketakutan Menjadi Ketangguhan
Hidup di wilayah Ring of Fire adalah takdir geografis yang tidak bisa kita negosiasikan. Pilihannya hanya dua: terus-menerus hidup dalam paranoia yang melelahkan setiap kali ada berita gempa bumi global, atau berdamai dengan takdir itu lewat kesiapan yang matang.
Kecemasan kolektif yang kita miliki sebenarnya adalah modal sosial yang sangat besar. Rasa takut yang masif ini mengindikasikan bahwa publik sebetulnya memiliki kepekaan yang tinggi terhadap isu bencana. Tugas kita sekarang adalah menggeser energi ketakutan itu menjadi energi bersiap-siap.
Masyarakat Jepang telah lama merayakan kepasrahan geografis itu dengan disiplin mitigasi sejak dini, bukan dengan kepanikan musiman di kolom komentar.
Pada akhirnya, gempa Honshu tempo hari hanyalah satu dari sekian banyak alarm pengingat yang dikirimkan bumi. Jadi, mari kita tanyakan pada diri sendiri secara jujur: Saat alarm bencana berikutnya berbunyi, apakah kita masih ingin menjadi bangsa yang gagap di media sosial, atau kita sudah siap menjadi bangsa yang tangguh dan tahu persis ke mana harus melangkah?