Kolom

Tagihan Paylater Diam-diam Jadi Beban: Tanggal Tua Terasa Makin Menakutkan?

Tagihan Paylater Diam-diam Jadi Beban: Tanggal Tua Terasa Makin Menakutkan?
Ilustrasi belanja dengan paylater (Pexels/Mikhail Nilov)

Di era digital seperti sekarang, belanja menjadi semakin mudah. Hanya dengan beberapa klik, barang yang diinginkan bisa langsung dipesan tanpa perlu keluar rumah. Bahkan, jika saldo rekening sedang menipis, masih ada solusi yang sering dianggap menyelamatkan: paylater. Fitur ini hadir dengan konsep 'beli sekarang, bayar nanti' yang dianggap sangat membantu. 

Awalnya, fitur ini terlihat sangat solutif, terutama jika ada kebutuhan mendesak. Namun, di balik kemudahan tersebut, saya melihat ada 'teror' baru: tanggal tua terasa semakin menakutkan karena tagihan paylater yang diam-diam menumpuk.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang baru menyadari bebannya ketika tagihan mulai berdatangan satu per satu. Saat tagihan datang, stres mulai terasa dekat. 

Kemudahan yang Terlihat Menguntungkan

Saya tidak memungkiri kalau paylater memang menawarkan kemudahan. Ketika ada kebutuhan mendadak atau barang yang sedang diskon besar, fitur ini terasa seperti penyelamat.

Tidak perlu menunggu gajian. Tidak perlu menabung terlebih dahulu. Tidak perlu berpikir terlalu lama. Cukup klik "bayar nanti", transaksi selesai.

Bagi generasi yang terbiasa hidup serba cepat, konsep ini tentu sangat menarik. Kita terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan secara instan, dan paylater seolah mendukung kebiasaan tersebut.

Masalahnya, kemudahan sering kali membuat kita lupa klaau setiap transaksi tetap harus dibayar pada waktunya.

Awalnya Sedikit, Lama-lama Menumpuk

Menurut saya, salah satu jebakan terbesar paylater adalah nominal cicilannya yang terlihat kecil. Ketika dilihat satu per satu, jumlahnya memang tidak terasa besar. 

Namun, saat beberapa transaksi terkumpul dalam waktu bersamaan, total tagihan bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Saat checkout baik-baik saja, tapi mulai panik setelah melihat rincian tagihan di akhir bulan. Dan ironisnya, sebagian besar barang yang dibeli sebenarnya bukan kebutuhan mendesak.

Tanggal Tua Jadi Sumber Kecemasan

Dulu, tanggal tua identik dengan kondisi dompet yang mulai menipis sebelum gajian datang. Namun sekarang, ada tambahan kekhawatiran baru: tagihan digital.

Gaji belum masuk, tapi sudah memikirkan: tagihan paylater, cicilan belanja online, dan berbagai pengeluaran lainnya. Akibatnya, momen tanggal tua berubah menjadi sumber stres setiap bulan.

Saya merasa banyak anak muda saat ini hidup dalam siklus yang berulang. Setelah gajian datang, sebagian besar pendapatan langsung digunakan untuk membayar transaksi yang dilakukan bulan sebelumnya.

Ketika Paylater Menjadi Pelarian Emosional

Hal yang menurut saya lebih mengkhawatirkan adalah ketika paylater tidak lagi digunakan sebagai pelarian emosional, bukan untuk kebutuhan mendesak. 

Sedang stres? Checkout. Sedang sedih? Cari diskon. Sedang bosan? Buka aplikasi belanja.

Dan arena proses pembayarannya ditunda, kita sering merasa keputusan tersebut tidak terlalu berisiko. Padahal kenyataannya, masalah hanya bergeser ke masa depan.

Rasa senang saat membeli barang memang datang dengan cepat, tapi tagihan tetap menunggu. Saat tagihan datang, perasaan lega yang sempat muncul biasanya langsung menghilang.

Media Sosial dan Budaya Konsumtif

Saya juga melihat kalau media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat fenomena ini. Setiap hari kita melihat orang memamerkan barang baru, mengikuti tren terbaru, atau membuat konten haul belanja. 

Tanpa sadar, muncul dorongan untuk ikut memiliki hal yang sama. Akibatnya, banyak keputusan belanja tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, tapi keinginan untuk mengikuti tren atau agar tidak tertinggal.

Paylater kemudian menjadi alat yang mempermudah semua itu. Padahal, tidak semua yang terlihat menarik di media sosial harus dimiliki saat itu juga.

Belajar Menikmati Proses Menunggu

Salah satu hal yang menurut saya mulai hilang dari generasi sekarang adalah kemampuan menunggu. Dalam hal ini menunggu memiliki sesuatu yang sebenarnya belum mampu kita beli secara langsung.

Padahal ada pelajaran penting dalam menunda keinginan. Ketika menabung terlebih dahulu sebelum membeli, kita memiliki waktu untuk berpikir apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat.

Sering kali, setelah beberapa minggu berlalu, keinginan itu bahkan hilang dengan sendirinya. Jeda waktu ini jadi momentum pertimbangan dan prosea mengambil keputusan yang bijak. 

Paylater dan Kemampuan Finansial

Paylater bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Dalam kondisi tertentu, fitur ini bisa membantu ketika digunakan secara bijak dan sesuai kemampuan finansial.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika paylater berubah menjadi kebiasaan. Saat setiap keinginan dipenuhi dengan pembayaran yang ditunda, tanggal tua perlahan menjadi semakin menakutkan.

Pada akhirnya, ketenangan finansial tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang berhasil dibeli. Hidup sesuai kemampuan tanpa dihantui tagihan setiap bulan jauh lebih menenangkan. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda