Kolom

Mengapa Sebagian Ibu Membenci Putrinya? Mengurai Luka Batin yang Diwariskan

Mengapa Sebagian Ibu Membenci Putrinya? Mengurai Luka Batin yang Diwariskan
Ilustrasi Kesedihan Anak (Unsplash/@dariakashleva)

Tidak semua luka berasal dari orang asing. Sebagian justru lahir dari rumah, dari sosok yang sejak awal dipercaya sebagai tempat paling aman: ibu. Masyarakat sering menganggap hubungan ibu dan anak perempuan sebagai ikatan yang secara alami penuh kasih sayang. Namun kenyataannya, tidak sedikit anak perempuan yang tumbuh dengan luka emosional akibat relasi yang penuh kritik, tuntutan, atau bahkan penolakan dari ibunya sendiri.

Fenomena ini bukan berarti seorang ibu terlahir sebagai sosok yang jahat. Sebaliknya, banyak ibu yang sedang berjuang melawan tekanan hidup, trauma masa lalu, hingga beban rumah tangga yang tidak pernah benar-benar selesai. Sayangnya, ketika luka itu tidak dipulihkan, anak perempuan sering menjadi sasaran pertama yang menerima dampaknya.

Dalam psikologi, salah satu pola yang sering ditemukan adalah parentifikasi. Seorang ibu yang mengalami stres berat, konflik rumah tangga, atau memiliki pasangan yang tidak suportif, tanpa sadar menjadikan putrinya sebagai tempat pelampiasan emosi. Anak diposisikan sebagai teman curhat, penengah konflik, bahkan penopang emosional bagi orang dewasa.

Padahal, seorang anak belum memiliki kematangan psikologis untuk memikul beban tersebut. Alih-alih menikmati masa tumbuh kembangnya, ia dipaksa menjadi "orang dewasa kecil" yang mengorbankan kebutuhan emosinya sendiri.

Di sisi lain, terdapat pula pola yang dikenal sebagai narcissistic mother. Dalam hubungan ini, ibu tidak melihat putrinya sebagai individu yang memiliki hak menentukan jalan hidupnya sendiri. Sang anak dipandang sebagai perpanjangan identitas ibu. Ketika putrinya memiliki cita-cita berbeda, pendapat yang tidak sejalan, atau gaya hidup yang tidak sesuai harapan, ibu merasa kehilangan kendali. Kritik tajam, sindiran, hingga upaya menjatuhkan kepercayaan diri anak menjadi cara untuk mempertahankan dominasi tersebut.

Konflik ibu dan anak perempuan sering kali berakar dari benturan harapan. Banyak ibu berharap putrinya menjadi versi yang mereka inginkan, sementara sang anak sedang berusaha menemukan identitasnya sendiri. Ketika dua kebutuhan ini saling bertabrakan tanpa adanya komunikasi yang sehat, hubungan berubah menjadi arena tarik-menarik yang melelahkan.

Faktor lain yang tidak kalah besar adalah trauma masa lalu. Ibu yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan, pengabaian, atau minim kasih sayang sering kali kesulitan menunjukkan afeksi kepada anaknya. Bahkan tanpa disadari, ia memproyeksikan rasa tidak aman, kemarahan, atau kebencian terhadap dirinya sendiri kepada putrinya.

Dalam kondisi tertentu, ibu bahkan dapat melihat putrinya sebagai ancaman. Masa muda, kecantikan, prestasi, atau kebebasan yang dimiliki anak bisa membangkitkan rasa iri yang tidak pernah disadari, sehingga hubungan berubah menjadi persaingan yang seharusnya tidak pernah ada.

Kondisi tersebut meninggalkan dampak psikologis yang panjang. Anak perempuan cenderung menyerap kecemasan yang dimiliki ibunya. Ia tumbuh dengan rasa takut melakukan kesalahan, selalu merasa kurang baik, dan sulit mempercayai dirinya sendiri. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan membangun hubungan romantis karena takut mengulangi kisah rumah tangga orang tuanya. Pernikahan bukan lagi dipandang sebagai harapan, melainkan ancaman.

Yang lebih mengkhawatirkan, luka ini dapat terus diwariskan. Psikologi menyebutnya sebagai intergenerational trauma atau trauma antargenerasi. Anak perempuan yang tidak pernah memulihkan luka batinnya berisiko mengulang pola pengasuhan yang sama kepada anak-anaknya kelak. Sikap dingin, kritik berlebihan, atau tuntutan yang dulu ia benci, dapat muncul kembali tanpa disadari. Inilah yang kemudian dikenal sebagai mother wound, luka emosional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Memahami fenomena ini bukan bertujuan menyalahkan ibu, melainkan menyadarkan bahwa kesehatan mental orang tua dan anak tidak dapat dipisahkan. Seorang ibu yang mendapatkan dukungan emosional, pasangan yang kooperatif, serta ruang untuk menyembuhkan traumanya akan lebih mampu membangun hubungan yang sehat dengan anaknya.

Pada akhirnya, setiap anak berhak tumbuh tanpa menjadi tempat pelampiasan luka orang tuanya. Dan setiap ibu juga berhak memperoleh kesempatan untuk menyembuhkan luka yang selama ini ia bawa. Sebab kasih sayang yang sehat bukanlah kasih sayang yang menuntut kesempurnaan, melainkan yang memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk bertumbuh sebagai dirinya sendiri.

Memutus rantai trauma bukanlah pekerjaan mudah, tetapi selalu mungkin dimulai dari satu keberanian. Mengakui bahwa luka itu ada, lalu memilih untuk tidak mewariskannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda