Kolom

Biaya Hajatan Membengkak? Bukan Salah Tamu, tapi Kebocoran di Dapur Rewang

Biaya Hajatan Membengkak? Bukan Salah Tamu, tapi Kebocoran di Dapur Rewang
Ilustrasi AI biaya pernikahan membengkak (Gemini)

Pernahkah Anda mendengar cerita dari seorang teman atau kerabat yang baru saja menggelar pesta pernikahan di kampung, lalu mengeluh bahwa anggaran belanja membengkak drastis di luar perkiraan, padahal jumlah tamu yang diundang standar? Setelah ditelisik, kebocoran anggaran itu bukan terjadi di bagian sewa tenda, sound system, atau rias pengantin, melainkan di bagian dapur.

Di lingkungan pedesaan atau perumahan yang masih kental dengan adat ketimuran, ada tradisi mulia bernama rewang, lagan, atau nyinom. Ini adalah budaya di mana tetangga, terutama kaum ibu, datang berbondong-bondong membantu tuan rumah memasak untuk persiapan hajatan.

Niat awalnya adalah meringankan beban, sebuah wujud gotong royong yang indah dan sangat manusiawi. Namun, sayangnya, belakangan ini tradisi tersebut mulai ternoda oleh oknum-oknum yang memiliki mental "aji mumpung". Fenomena ini sering disebut dengan istilah halus nyinom, namun praktiknya jauh dari kata membantu. Alih-alih meringankan, kehadiran mereka justru menjadi beban ekonomi tambahan yang mencekik bagi penyelenggara hajat.

Realitas yang Meresahkan di Dapur Hajatan
Gambaran di lapangan sering kali sungguh memprihatinkan. Saat tuan rumah sibuk mengurus tetamu di depan, kondisi dapur sering kali di luar pengawasan. Oknum-oknum ibu-ibu ini bukannya bekerja efisien, malah sibuk "mengamankan" jatah untuk kepentingan pribadi.

Modusnya beragam dan terang-terangan. Ada yang secara diam-diam mengutil potongan ayam, sate, atau daging mentah yang seharusnya untuk tamu, lalu dimasukkan ke dalam tas belanjaan untuk dibawa pulang ke rumah keluarganya. Ada pula yang lebih nekat: saat sedang bertugas mengupas telur puyuh atau memotong sayuran, mereka menyambi makan di tempat. Bahkan, ada yang tanpa rasa bersalah meminta tolong tetangga lain untuk membungkuskan lauk matang—gulai, rendang, atau sambal goreng—sebelum acara dimulai, dengan dalih "buat anak di rumah".

Perilaku ini bukan sekadar mengambil jatah makan, melainkan tindakan pencurian terselubung yang dilakukan di rumah orang yang sedang kesusahan. Akibatnya, tuan rumah harus berulang kali belanja ke pasar untuk menutupi kekurangan bahan makanan yang "menguap" secara misterius. Biaya pernikahan pun membengkak tajam, membuat hajatan yang seharusnya menjadi momen syukur berubah menjadi beban finansial yang menyengsarakan.

Degradasi Moral dan Budaya "Tidak Enakan"

Mengapa hal ini bisa terjadi dan dibiarkan? Akar masalahnya adalah mentalitas konsumtif dan budaya "tidak enakan" yang sudah mengakar kuat. Pertama, hilangnya rasa empati. Oknum-oknum tersebut tidak memikirkan betapa sulitnya tuan rumah mencari uang untuk biaya nikah. Mereka hanya melihat peluang untuk mendapatkan makanan enak secara gratis tanpa perlu memasak di rumah sendiri. Mentalitas "mumpung gratis" telah mengalahkan semangat gotong royong.

Kedua, ketidaksediaan tuan rumah untuk menegur. Karena takut dicap pelit atau sombong oleh lingkungan, si empunya hajat sering kali memilih diam meskipun melihat bahan makanannya dijarah. Mereka lebih rela merugi daripada harus berkonflik dengan tetangga yang seharusnya membantu. Rasa takut akan sanksi sosial berupa gosip jauh lebih besar daripada kerugian materi yang mereka derita.

Antara Katering dan Label "Anti-Sosial"

Ironisnya, saat ada keluarga yang memilih menggunakan jasa katering demi efisiensi dan transparansi biaya, mereka justru sering menjadi sasaran "julid" tetangga. Keluarga tersebut sering dicap sombong, "nggaya", atau dianggap tidak mau srawung (bersosialisasi) dengan tetangga. Padahal, bagi banyak orang, katering adalah pilihan logis. Selain harganya jauh lebih terukur dan bisa disesuaikan dengan anggaran, katering juga menjamin efisiensi porsi.

Sayangnya, mereka yang mengkritik ini sering kali tidak sadar bahwa di balik layar dapur hajatan tradisional, terjadi kebocoran yang tak masuk akal. Banyak cerita viral di media sosial, baik di Twitter maupun Instagram, yang membagikan kisah "di balik layar" dapur hajatan.

Kejadian mengutil ayam atau telur puyuh itu bukan sekadar asumsi, melainkan realitas yang bisa dibuktikan. Padahal, jika menggunakan katering, tuan rumah bisa memastikan setiap tamu mendapat haknya tanpa perlu takut bahan makanan "menguap" sebelum acara dimulai.

Perlu ditekankan, memilih katering bukan berarti pelit atau anti-sosial. Tuan rumah yang menggunakan katering biasanya tetap menyediakan porsi khusus bagi tetangga yang membantu, justru dalam bentuk yang lebih layak dan tidak perlu menguras tenaga di dapur.

Mengembalikan Makna Gotong Royong

Sudah saatnya kita mengembalikan makna kematian maupun hajatan sebagai momen yang khidmat dan bersahaja. Bagi generasi boomer, mengangkat topik ini mungkin dianggap tabu.

Mari kita bangun kembali budaya gotong royong yang sehat. Datang ke hajatan tetangga dengan niat tulus meringankan, bukan untuk "berburu" makanan.

Jangan sampai istilah srawung hanya dijadikan topeng untuk menutupi tindakan yang justru merugikan tetangga sendiri. Hajatan adalah momen syukur. Jangan biarkan ternoda oleh tangan-tangan yang lebih mementingkan isi besek daripada ketulusan membantu sesama.

Jika kita ingin tradisi ini lestari, maka kejujuran adalah syarat mutlak. Dengan begitu, tradisi kita tetap terjaga tanpa harus mengorbankan ekonomi keluarga yang sedang berbahagia

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda