Kolom
Bersyukur atau Terpaksa? Dilema Bertahan di Tengah Upah yang Tak Layak
Tidak sedikit pekerja di Indonesia yang tetap bertahan meski merasa upah yang diterima belum mencukupi kebutuhan hidup. Fenomena ini kerap memunculkan perdebatan. Sebagian orang menilai pekerja bergaji rendah terlalu cepat puas atau tidak berani mencari kesempatan yang lebih baik. Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?
Bagi saya, dilema bertahan di tengah upah yang tak layak bukan hanya soal sikap individu. Ada persoalan yang lebih besar, mulai dari sempitnya lapangan kerja, lemahnya posisi tawar pekerja, hingga kemiskinan struktural yang membuat banyak orang terpaksa menerima kondisi yang sebenarnya tidak ideal.
Kemiskinan Struktural Membuat Banyak Orang Sulit Berkata "Tidak"
Saya sering merasa perdebatan ini terlalu berfokus pada individu, seolah-olah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki nasibnya. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Di Indonesia, kesempatan kerja yang layak masih belum sebanding dengan jumlah pencari kerja. Persaingan tinggi, lapangan pekerjaan formal terbatas, sementara biaya hidup terus meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, banyak orang akhirnya masuk ke mode bertahan hidup. Prioritas mereka bukan lagi mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan atau memberikan upah layak, melainkan pekerjaan apa pun yang bisa membuat mereka bisa makan.
Di sinilah saya melihat adanya masalah yang lebih besar, yaitu kemiskinan struktural. Kita tidak bisa menghakimi seseorang kurang bekerja keras atau kurang gigih mencari pekerjaan baru, karena kondisi seperti ini juga lahir dari struktur ekonomi yang membuat sebagian orang terus berada dalam posisi yang lemah.
Misalnya, seseorang yang lahir dari keluarga kurang mampu cenderung memiliki akses pendidikan yang lebih terbatas, jaringan profesional yang minim, dan kesempatan kerja yang tidak sebanyak mereka yang berasal dari keluarga lebih mapan.
Ketika akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji underpaid, mereka sulit keluar karena tidak memiliki tabungan, dana darurat, atau dukungan finansial jika sewaktu-waktu harus menganggur.
Sistem yang Membuat Pekerja Kehilangan Daya Tawar
Menurut saya, masalah ini juga tidak bisa dilepaskan dari bagaimana pasar tenaga kerja bekerja. Selama jumlah pencari kerja jauh lebih banyak daripada lapangan pekerjaan yang tersedia, posisi tawar pekerja akan selalu lebih lemah dibandingkan perusahaan.
Misalnya saja, ketika ada seratus orang melamar satu posisi, perusahaan tahu bahwa selalu ada orang yang bersedia dibayar murah. Akibatnya, pekerja menjadi sulit melakukan negosiasi.
Bahkan, banyak yang memilih diam meski merasa upahnya tidak sebanding dengan beban kerja, karena takut kehilangan pekerjaan.
Saat ini, sistem ekonomi yang ada memang menciptakan kondisi di mana pekerja yang tidak memiliki banyak pilihan akan lebih mudah menerima standar upah yang rendah.
Jika negara belum mampu menyediakan perlindungan sosial yang kuat, kesempatan kerja berkualitas masih terbatas, dan penegakan aturan ketenagakerjaan belum sepenuhnya efektif, pekerja pun dipaksa tidak punya pilihan selain nrimo.
Sebaiknya Kita Mulai Melihat Akar Masalahnya
Yang membuat saya heran, ada saja orang yang menyalahkan pekerjanya. Mereka dianggap kurang berani, kurang ambisius, atau terlalu cepat puas.
Padahal tidak semua orang memiliki privilege untuk resign sambil menunggu pekerjaan baru. Tidak semua orang punya tabungan yang cukup untuk bertahan tiga atau enam bulan tanpa pemasukan. Banyak yang sebagian waktunya sudah tersita untuk bekerja sehingga tidak sempat mencari peluang baru.
Menyuruh orang keluar dari pekerjaan bergaji rendah memang terdengar sederhana. Sama sederhananya dengan menyuruh orang yang kehausan memilih air bersih, ketika yang tersedia hanya air keruh.
Kalau setiap kritik selalu diarahkan kepada pekerja, jangan heran jika sistem yang menghasilkan upah murah akan terus berjalan. Korbannya disalahkan, sementara akar masalahnya dibiarkan.