Kolom
Ketika Brasil Tumbang, Piala Dunia Mulai Kehilangan Logikanya
Saya terbangun dengan mata masih perih sekitar pukul lima subuh. Refleks, saya langsung membuka layar laptop yang sejak malam tadi masih menyala. Saya biasanya menonton lewat laptop karena televisi di rumah sudah digital dan tidak ada antena. Kalau ingin menonton lewat televisi, saya harus mengunduh aplikasi tertentu.
Lebih gampang menonton di laptop, tinggal buka website. Sekalian juga nyambi menyelesaikan pekerjaan di sana.
Biasanya kalau break—yang semenjak Piala Dunia 2026 ada empat kali, ditambah dua hydration break kalau tidak salah—saya buka window lain untuk menyelesaikan pekerjaan.
Di layar laptop, terpampang skor 1-0 untuk Norwegia atas Brasil. Tak lama kemudian, gol kedua Erling Haaland hadir memastikan kemenangan timnya. Rasanya seperti palu godam yang menghantam jantung para pendukung Selecao, termasuk saya. Nyesek memang. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya saya sudah menduga hasil seperti ini bakal terjadi.
Brasil memang sering kerepotan ketika menghadapi tim-tim asal Skandinavia. Mereka bermain sederhana, tetapi sangat disiplin. Kekuatan fisik mereka juga luar biasa. Belum lagi semangat pantang menyerah yang seolah tidak pernah habis sampai peluit panjang dibunyikan. Karakter seperti itu membuat tim-tim Amerika Selatan, termasuk Brasil, sering kehilangan kenyamanan dalam memainkan sepak bola indah yang menjadi ciri khas mereka.
Entah kebetulan atau tidak, saya selalu merasa ada semangat bangsa Viking yang masih hidup dalam cara bermain negara-negara Skandinavia. Mereka tidak banyak gaya, tetapi sangat efektif. Ketika mendapat peluang, mereka langsung menghukum lawan. Haaland menjadi contoh paling nyata bagaimana perpaduan kekuatan fisik, kecepatan, dan penyelesaian akhir bisa menjadi mimpi buruk bagi siapa pun.
Selain itu, sejarah juga tidak terlalu bersahabat dengan Brasil ketika bertemu Norwegia. Dalam catatan Piala Dunia, Selecao memang belum pernah mengalahkan mereka. Pertemuan yang paling dikenang tentu terjadi pada Piala Dunia 1998 di Prancis. Saat itu, Norwegia menang 2-1 di babak penyisihan. Brasil memang tetap lolos ke fase gugur sebagai juara grup, tetapi kekalahan itu menjadi pertanda bahwa mereka tidak benar-benar dalam kondisi terbaik. Puncaknya, Selecao dibungkam Prancis 3-0 di final.
Rupanya, hampir tiga dekade kemudian, cerita pahit itu kembali terulang. Hanya saja, bedanya kali ini Brasil dihajar di fase gugur sehingga harus angkat koper lebih awal.
Saya memang bukan tipe yang terlalu percaya mitos dalam sepak bola. Namun, ada kalanya sejarah seperti mempunyai cara sendiri untuk berulang. Ketika melihat bagan fase gugur beberapa hari lalu, saya sudah punya firasat bahwa jalan Brasil tidak akan mudah. Bahkan, saya sempat berkata kepada istri saya tercinta bahwa Norwegia bisa menjadi batu sandungan yang sangat merepotkan.
Istri saya, yang mungkin punya feeling, bilang juga waktu saya tanya langsung, “Brasil atau Norwegia, Bunda?” Tanpa berpikir lama, dia langsung menjawab, “Norwegia.”
Sesuai perkiraan saya sebelumnya, kalau Brasil tersingkir lebih awal saat Piala Dunia berlangsung di Benua Amerika, biasanya Argentina mampu melangkah setidaknya sampai final. Pola seperti ini pernah beberapa kali terjadi. Akan tetapi, sepak bola selalu punya cerita baru. Bukan tidak mungkin kali ini justru muncul tim kuda hitam yang berhasil mengacak-acak prediksi banyak orang.
Kolombia menjadi salah satu kandidat yang layak diperhitungkan. Permainan mereka semakin matang dari pertandingan ke pertandingan. Namun, Norwegia juga tidak kalah menarik. Mereka mempunyai penyerang kelas dunia, organisasi permainan yang rapi, dan mental bertanding yang sedang berada di titik terbaiknya.
Kalau Norwegia mampu melewati Inggris di perempat final, peluang mereka menuju final tentu akan semakin besar. Di atas kertas, lawan yang mungkin menunggu adalah Prancis atau Spanyol. Tentu, keduanya bukan lawan yang mudah. Namun, setelah mampu menumbangkan Brasil, rasa percaya diri Norwegia pasti meningkat berlipat ganda.
Kalau skenario itu benar-benar terjadi, berarti untuk kedua kalinya Eropa kembali berjaya di Benua Amerika. Itu akan menjadi catatan sejarah yang menarik. Selama ini, banyak orang menganggap Amerika Selatan selalu lebih diunggulkan ketika menjadi tuan rumah. Namun, sepak bola modern tampaknya mulai menghapus anggapan-anggapan lama semacam itu.
Yang jelas, saya termasuk penikmat sepak bola yang senang melihat kejutan. Dominasi negara-negara besar memang menyenangkan untuk disaksikan. Akan tetapi, lahirnya kekuatan baru selalu membuat Piala Dunia terasa lebih hidup. Itulah yang membuat turnamen ini berbeda dengan kompetisi lainnya.
Bayangkan kalau akhirnya Norwegia menjadi juara dunia untuk pertama kalinya. Atau Kolombia yang mengangkat trofi emas Piala Dunia setelah puluhan tahun hanya menjadi tim penggembira. Bahkan, bukan tidak mungkin tuan rumah Amerika Serikat ikut membuat kejutan. Mereka kini ditangani Mauricio Pochettino, pelatih berpengalaman, yang perlahan mulai membangun fondasi permainan yang lebih kompetitif.
Apa pun hasil akhirnya nanti, Piala Dunia 2026 sudah memberikan satu pelajaran penting. Nama besar ternyata tidak pernah benar-benar menjamin kemenangan. Di lapangan, yang paling menentukan tetap kerja sama tim, kerja keras, disiplin, keberanian mengambil peluang, dan sedikit keberuntungan. Mungkin itulah alasan mengapa kita tidak pernah bosan menunggu Piala Dunia. Selalu ada cerita yang tidak pernah berhasil ditebak sepenuhnya.