Kolom
Ilusi Program MBG: Sejuta Lapangan Kerja atau Sejuta Penerima APBN?
Dalam setiap pemerintahan, penciptaan lapangan kerja selalu menjadi ukuran penting keberhasilan ekonomi. Karena itu, setiap klaim mengenai bertambahnya kesempatan kerja layak diapresiasi sekaligus dikaji secara kritis.
Penyerapan tenaga kerja melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang benar membuka lapangan kerja yang berkelanjutan atau hanya program yang sangat bergantung pada belanja negara?
Program MBG memang membutuhkan banyak tenaga kerja. Mulai dari juru masak, petugas distribusi, pengelola dapur, pemasok bahan pangan, hingga tenaga administrasi. Kehadiran program ini menciptakan permintaan terhadap berbagai jenis pekerjaan yang sebelumnya tidak ada dalam skala sebesar itu. Dalam pengertian tersebut, program ini memang dapat menyerap tenaga kerja.
Namun, perlu dibedakan antara penyerapan tenaga kerja melalui belanja pemerintah dan penciptaan lapangan kerja yang tumbuh secara mandiri melalui aktivitas ekonomi. Keduanya sama-sama menghasilkan pekerjaan, tetapi memiliki karakter yang berbeda.
Lapangan kerja yang lahir dari pertumbuhan ekonomi biasanya bertumpu pada meningkatnya investasi, berkembangnya dunia usaha, bertambahnya permintaan pasar, inovasi, dan produktivitas. Selama kegiatan ekonomi terus berjalan, pekerjaan tersebut memiliki peluang untuk tetap bertahan meskipun tidak terus-menerus dibiayai oleh APBN.
Sebaliknya, pekerjaan yang sepenuhnya bergantung pada program pemerintah akan sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan anggaran. Ketika anggaran diperkecil, dihentikan, atau dialihkan ke program lain, sebagian pekerjaan yang tercipta berpotensi ikut berkurang. Hal ini bukan berarti pekerjaan tersebut tidak bernilai, tetapi menunjukkan bahwa keberlangsungannya sangat bergantung pada keputusan fiskal pemerintah.
Perbedaan ini penting agar publik memahami secara utuh makna penciptaan lapangan kerja. Negara memang dapat menjadi motor ekonomi, terutama ketika sektor swasta sedang melemah. Belanja pemerintah juga sering digunakan sebagai instrumen untuk mendorong aktivitas ekonomi pada masa krisis. Akan tetapi, dalam jangka panjang, pembangunan ekonomi tetap membutuhkan sektor usaha yang mampu tumbuh secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada pengeluaran negara.
Karena itu, keberhasilan suatu program tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya tenaga kerja yang terserap selama program berlangsung. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah program tersebut mampu melahirkan usaha baru, meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal, dan menciptakan ekosistem ekonomi yang tetap hidup meskipun suatu saat dukungan anggaran dikurangi.
Selain itu, program dengan anggaran besar juga menuntut tata kelola yang sangat baik. Semakin besar dana publik yang dikelola, semakin besar pula kebutuhan akan transparansi, pengawasan, dan akuntabilitas. Pengadaan barang dan jasa, distribusi, kualitas layanan, hingga evaluasi manfaat harus dilakukan secara terbuka agar masyarakat yakin bahwa setiap rupiah dari APBN digunakan secara efektif. Pengawasan yang kuat bukan berarti menganggap penyimpangan pasti terjadi, melainkan merupakan bagian dari prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Pada akhirnya, negara memang memiliki peran penting dalam menciptakan kesempatan kerja, terutama melalui kebijakan fiskal. Namun, tujuan akhirnya seharusnya bukan sekadar memperbanyak pekerjaan yang bergantung pada anggaran, melainkan menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan dunia usaha berkembang, investasi tumbuh, produktivitas meningkat, dan masyarakat memperoleh pekerjaan yang berkelanjutan.
Masyarakat tentu menginginkan setiap rupiah pajak yang dibayarkan menghasilkan manfaat nyata. Oleh karena itu, evaluasi terhadap program-program besar perlu dilakukan secara terbuka dan berbasis data. Jika sebuah program mampu menjadi jembatan menuju ekonomi yang lebih produktif dan mandiri, maka ia layak dipertahankan. Namun, apabila keberhasilannya hanya bertahan selama aliran anggaran terus mengalir, maka pemerintah perlu menjelaskan secara jujur batasan dan tujuan program tersebut.
Lapangan kerja yang paling kokoh bukanlah yang hidup karena infus APBN semata, melainkan yang tumbuh dari ekonomi yang sehat, inovatif, dan mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.