Kolom
Ketika Mengajar Tak Lagi Menjanjikan: Kesejahteraan Guru Terus Tertinggal
Dalam sejumlah kondisi, penghasilan asisten rumah tangga (ART) dapat lebih besar daripada penghasilan guru. Hal ini tentu tidak berlaku untuk semua orang. Besaran pendapatan guru maupun ART sangat bergantung pada status pekerjaan, daerah, pengalaman, serta pemberi kerja.
Namun, di balik perbandingan itu tersimpan persoalan yang lebih penting: mengapa masih ada guru yang memperoleh penghasilan jauh dari layak?
Membandingkan profesi guru dengan ART bukanlah upaya merendahkan salah satunya. Keduanya merupakan pekerjaan yang memiliki nilai dan kontribusi masing-masing. ART membantu menjaga keberlangsungan rumah tangga, sementara guru membentuk kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa. Persoalannya bukanlah siapa yang pantas menerima gaji lebih besar, melainkan mengapa profesi yang memegang peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa masih dihadapkan pada persoalan kesejahteraan.
Realitas menunjukkan bahwa tidak semua guru menikmati pendapatan yang memadai. Guru berstatus pegawai negeri sipil dengan masa kerja tertentu umumnya memperoleh gaji dan tunjangan yang relatif lebih baik. Namun, masih banyak guru honorer yang bertahun-tahun mengajar dengan penghasilan yang sangat terbatas. Mereka menjalankan tanggung jawab yang hampir sama—mengajar, menyusun perangkat pembelajaran, menilai hasil belajar, hingga mendampingi siswa—tetapi menerima imbalan yang jauh berbeda.
Ironisnya, masyarakat sering menaruh harapan yang sangat tinggi kepada guru. Mereka diminta mencetak generasi yang cerdas, membangun karakter peserta didik, menguasai teknologi, terus meningkatkan kompetensi, bahkan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Semua tuntutan tersebut memang wajar karena guru memiliki peran yang sangat penting. Akan tetapi, penghargaan terhadap profesi itu tidak boleh berhenti pada pujian dan slogan. Penghargaan juga harus tercermin dalam kesejahteraan yang layak.
Negara memang telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru melalui sertifikasi, tunjangan profesi, dan program pengangkatan aparatur sipil negara. Namun, implementasinya belum sepenuhnya menjangkau seluruh tenaga pendidik. Masih terdapat kesenjangan antara guru yang telah memperoleh berbagai tunjangan dengan mereka yang berstatus honorer atau mengajar di daerah dengan keterbatasan anggaran.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan yang lebih besar. Jika pendidikan benar-benar ditempatkan sebagai investasi masa depan bangsa, mengapa masih ada pendidik yang harus memikirkan kebutuhan hidup dasar di tengah tanggung jawab yang begitu besar? Sulit mengharapkan pendidikan berkualitas apabila sebagian tenaga pendidiknya masih dibayangi persoalan ekonomi.
Di sisi lain, masyarakat juga patut memberikan apresiasi kepada siapa pun yang memberikan upah layak kepada pekerjanya, termasuk ART. Hubungan kerja yang adil dan manusiawi merupakan hal yang patut didorong. Persoalannya bukan karena ART memperoleh penghasilan yang baik, melainkan apabila guru justru masih menerima penghasilan yang tidak sebanding dengan beban dan tanggung jawab profesinya. Meningkatkan kesejahteraan guru tidak harus dilakukan dengan mengurangi penghargaan terhadap profesi lain.
Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang lebih konsisten terhadap sektor pendidikan. Anggaran pendidikan yang besar semestinya tidak hanya tercermin pada pembangunan fisik atau program administratif, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup para pendidik. Guru yang sejahtera memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan kompetensi, berinovasi dalam pembelajaran, dan memberikan perhatian penuh kepada peserta didik.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari gedung sekolah yang megah atau tingginya angka partisipasi pendidikan, tetapi juga dari cara bangsa tersebut memperlakukan orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar. Ketika masih ada guru yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan yang minim, persoalannya bukan sekadar soal nominal gaji.
Persoalannya adalah tentang prioritas. Sebab, negara yang benar-benar menempatkan pendidikan sebagai fondasi masa depan akan memastikan bahwa mereka yang mendidik generasi penerus memperoleh penghargaan yang layak, baik dalam bentuk penghormatan maupun kesejahteraan.