Kolom
Ketimpangan Jejak Karbon: Emisi Orang Kaya di Balik Kampanye Go Green
Kita sering diminta untuk menyelamatkan bumi dengan melakukan hal-hal kecil seperti mengurangi plastik, membawa tote bag, menghemat listrik, dan menggunakan barang yang bisa dipakai berulang kali.
Namun, di tengah kampanye go green tersebut, banyak yang lupa bahwa tidak semua orang menghasilkan jejak karbon dalam jumlah yang sama.
Sebab, jejak karbon orang biasa tentu berbeda dengan orang kaya yang bisa terbang dengan jet pribadi, bepergian ke luar negeri berkali-kali, memiliki banyak kendaraan, atau menghabiskan energi dalam jumlah besar hanya untuk memenuhi gaya hidup.
Di sinilah ketimpangan jejak karbon menjadi penting untuk dibicarakan. Mengapa tanggung jawab menjaga lingkungan terus dibebankan kepada individu, sementara emisi orang kaya sering kali tidak mendapat sorotan yang sebanding?
Kampanye Go Green yang Dibebankan kepada Individu
Selama ini, kampanye go green sering kali membuat krisis iklim terasa seperti persoalan individu. Seolah-olah bumi akan terselamatkan jika semua orang mulai membawa tote bag, menggunakan sedotan stainless, dan membeli produk ramah lingkungan.
Padahal, jejak karbon tidak pernah benar-benar setara. Orang yang mengonsumsi karena kebutuhan tentu tidak bisa begitu saja disamakan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk mengonsumsi secara berlebihan.
Emisi orang kaya dan emisi orang biasa tidak berada dalam skala yang sama. Namun, tanggung jawab untuk menyelamatkan bumi sering kali justru dibicarakan seolah-olah semua orang memiliki kontribusi yang sama terhadap krisis iklim.
Jejak Karbon Orang Kaya Tidak Bisa Disamakan dengan Orang Biasa
Di sinilah pentingnya membicarakan ketimpangan jejak karbon. Tidak semua orang memiliki kemampuan konsumsi yang sama.
Orang yang memiliki kekayaan lebih besar tentu memiliki akses terhadap lebih banyak barang, kendaraan, perjalanan, rumah, dan berbagai bentuk konsumsi lainnya.
Kekayaan memungkinkan seseorang mengonsumsi lebih banyak. Dan semakin besar konsumsi, semakin besar pula potensi jejak karbon yang dihasilkan.
Ketika suhu meningkat, bencana terjadi, kualitas udara memburuk, atau ruang hidup rusak, masyarakat kecil sering kali menjadi pihak yang paling rentan.
Di sisi lain, kita sering melihat gaya hidup orang kaya sebagai sesuatu yang inspiratif. Ketika seseorang memiliki mobil mewah, rumah besar, atau bahkan jet pribadi, respons yang muncul sering kali berupa kekaguman.
Namun, di tengah krisis iklim, gaya hidup mewah seharusnya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang layak dikagumi.
Ketika Orang Biasa Disuruh Berhemat, Orang Kaya Terus Mengonsumsi
Hal yang paling mengganggu dari narasi lingkungan hari ini adalah standar ganda dalam melihat konsumsi.
Orang miskin bisa dianggap tidak ramah lingkungan karena membeli produk sachet. Masyarakat biasa bisa disalahkan karena menggunakan plastik. Konsumen bisa diberi ceramah karena membeli makanan dengan kemasan sekali pakai.
Sementara itu, gaya hidup orang kaya yang mengonsumsi jauh lebih banyak sering kali tidak diperlakukan dengan sama.
Bukan hanya soal bepergian dengan jet pribadi, tetapi juga penggunaan energi dalam kehidupan sehari-hari. Rumah besar dengan banyak ruangan yang terus-menerus menggunakan AC, misalnya, jarang dikritik seperti ketika masyarakat biasa dianggap boros karena menggunakan listrik.
Inilah yang membuat saya merasa bahwa kampanye go green tidak boleh berhenti pada perubahan perilaku individu.
Jangan sampai kampanye go green hanya menjadi cara untuk membuat orang biasa merasa bersalah atas setiap kantong plastik yang mereka gunakan, sementara orang kaya tetap bebas mengonsumsi energi dan sumber daya dalam jumlah besar.