Kolom

Dari Contekan ke Korupsi: Benang Merah yang Sering Kita Abaikan

Dari Contekan ke Korupsi: Benang Merah yang Sering Kita Abaikan
Ilustrasi Pelajar SMA (Pexels/airlangga)

Ada sebuah ironi yang sering terjadi di ruang kelas, tetapi dampaknya bisa terasa hingga ruang-ruang kekuasaan. Orang yang belajar sungguh-sungguh, menolak menyontek, tidak mau memberikan contekan, bahkan berani melaporkan kecurangan, justru kerap dicap sebagai teman yang tidak solid. Sebaliknya, mereka yang membantu praktik menyontek sering dianggap lebih setia kawan dan lebih mudah diajak bekerja sama.

Sekilas, ini hanya persoalan kecil yang terjadi saat ujian. Namun jika ditelusuri lebih dalam, cara masyarakat memandang kejujuran sejak bangku sekolah bisa menjadi cermin bagaimana integritas diperlakukan dalam kehidupan yang lebih luas.

Di banyak sekolah, menyontek sering dipandang sebagai pelanggaran ringan. Bahkan ada anggapan bahwa berbagi jawaban saat ujian adalah bentuk solidaritas. Siswa yang menolak dianggap pelit ilmu, egois, atau tidak peduli terhadap nasib teman-temannya. Tekanan sosial semacam ini membuat kejujuran justru menjadi posisi yang tidak nyaman.

Padahal, solidaritas dan kecurangan adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Solidaritas berarti saling membantu agar sama-sama berkembang melalui usaha yang benar. Menyontek justru menghilangkan makna belajar, mengorbankan keadilan bagi mereka yang telah bekerja keras, dan menciptakan keuntungan yang diperoleh tanpa usaha.

Masalahnya, ketika praktik semacam ini terus dianggap lumrah, seseorang perlahan belajar bahwa melanggar aturan bukan persoalan besar selama dilakukan bersama-sama. Yang salah bukan lagi perbuatannya, melainkan orang yang berani menolak atau membongkar praktik tersebut.

Pola pikir seperti inilah yang patut diwaspadai. Korupsi, kolusi, dan berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang jarang muncul secara tiba-tiba ketika seseorang telah menduduki jabatan tinggi. Semua itu sering kali berakar dari toleransi terhadap pelanggaran kecil yang berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah dianggap serius.

Seseorang yang terbiasa memperoleh nilai melalui contekan dapat tumbuh menjadi individu yang menganggap hasil lebih penting daripada proses. Ketika memasuki dunia kerja, pola yang sama bisa muncul dalam bentuk manipulasi laporan, pemalsuan dokumen, penyalahgunaan anggaran, hingga praktik suap. Skala pelanggarannya memang berubah, tetapi logikanya tetap sama: mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak semestinya.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah budaya sosial yang melindungi pelaku pelanggaran. Dalam banyak kasus, pelapor justru lebih banyak mendapat tekanan dibandingkan pelaku. Mereka diberi label sebagai pengkhianat, tidak tahu solidaritas, atau sengaja mencari masalah. Fenomena ini tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di kantor, organisasi, bahkan lembaga pemerintahan.

Akibatnya, banyak orang memilih diam. Mereka tahu ada yang salah, tetapi enggan bersuara karena takut dikucilkan. Budaya diam inilah yang kemudian menjadi lahan subur bagi tumbuhnya korupsi.

Padahal, masyarakat yang sehat justru membutuhkan lebih banyak orang yang berani berkata tidak terhadap kecurangan. Integritas bukan sekadar soal tidak mencuri uang negara. Integritas dimulai dari keberanian untuk tetap jujur ketika semua orang menganggap curang sebagai sesuatu yang biasa.

Tentu saja, persoalan korupsi tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat dari budaya menyontek. Faktor ekonomi, lemahnya pengawasan, penegakan hukum, hingga sistem politik juga memiliki peran besar. Namun pendidikan karakter tetap menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. Sekolah bukan hanya tempat mengajarkan matematika, sains, atau bahasa, tetapi juga tempat membentuk cara seseorang memandang benar dan salah.

Karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara memaknai solidaritas. Menolak memberikan contekan bukan berarti tidak peduli terhadap teman. Justru itu adalah bentuk penghormatan terhadap usaha, keadilan, dan kejujuran. Membantu teman seharusnya dilakukan sebelum ujian melalui belajar bersama, bukan saat ujian dengan melanggar aturan.

Bangsa yang ingin memberantas korupsi tidak cukup hanya memperberat hukuman bagi koruptor. Bangsa itu juga harus berani mengoreksi kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini dianggap sepele. Sebab korupsi bukan hanya lahir dari kesempatan, tetapi juga dari budaya yang terlalu lama memaklumi kecurangan.

Mungkin karena itulah orang jujur sering dianggap menyebalkan. Mereka mengganggu kenyamanan sebuah sistem yang terbiasa mencari jalan pintas. Namun jika kejujuran terus dipandang sebagai sikap yang mengganggu, jangan heran apabila suatu hari kita kembali bertanya mengapa begitu banyak orang yang cerdas justru menyalahgunakan kekuasaan ketika berada di posisi strategis.

Integritas tidak dibangun ketika seseorang sudah memegang jabatan, melainkan sejak pertama kali ia memilih untuk berkata tidak pada kecurangan kecil. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda