Kolom
Kemiren Lawan Komersialisasi Budaya Lewat Wirausaha UMKM Berkelanjutan
Di tengah menjamurnya desa wisata di Indonesia, keberhasilan masih terlalu sering diukur melalui angka. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin tinggi pendapatan, atau semakin banyak penghargaan yang diraih, maka sebuah desa dianggap sukses.
Cara pandang seperti ini sebenarnya menyisakan persoalan mendasar. Ketika orientasi pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, budaya perlahan bergeser dari identitas masyarakat menjadi sekadar komoditas yang diperdagangkan.
Fenomena tersebut tidak sedikit terjadi di berbagai daerah. Festival budaya disusun mengikuti kalender wisata, pertunjukan tradisional dipersingkat agar sesuai dengan jadwal paket tur, bahkan produk budaya mulai kehilangan makna karena lebih menyesuaikan selera pasar dibanding nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Akibatnya, masyarakat memang memperoleh manfaat ekonomi, tetapi pada saat yang sama perlahan kehilangan otoritas atas budayanya sendiri.
Di tengah kecenderungan tersebut, Desa Sejahtera Astra Kemiren di Banyuwangi menghadirkan pendekatan yang berbeda. Desa yang menjadi rumah masyarakat Osing ini tidak menjadikan budaya sebagai alat untuk mengejar keuntungan semata, melainkan sebagai fondasi pembangunan ekonomi.
Tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, musik tradisional, kuliner khas, hingga rumah adat tetap dijalankan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar dipentaskan ketika wisatawan datang.
Wirausaha UMKM Harus Menjadi Penjaga Budaya, Bukan Mesin Komersialisasi
Pariwisata memang mampu membuka lapangan kerja melalui homestay, UMKM, jasa pemandu wisata, maupun ekonomi kreatif. Namun, ketika seluruh aktivitas ekonomi hanya berorientasi pada permintaan pasar, budaya berisiko kehilangan makna sosialnya. Tradisi tidak lagi diwariskan karena diyakini masyarakat, melainkan karena dinilai mampu mendatangkan keuntungan.
Inilah titik kritis yang sering luput dalam pembangunan desa wisata. Wirausaha tidak boleh hanya dipahami sebagai cara meningkatkan pendapatan, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal. Produk UMKM semestinya tidak sekadar menjual motif Osing, kopi khas, atau kuliner tradisional, melainkan juga membawa nilai, cerita, dan identitas masyarakat yang melahirkannya.
Data Astra Trip menunjukkan Kemiren menerima lebih dari 3.000 wisatawan setiap tahun, didukung sekitar 50 homestay dengan 92 kamar, 40 pelaku UMKM lokal, serta 40 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis pun meningkat sekitar 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
Namun, angka tersebut seharusnya dibaca sebagai konsekuensi dari budaya yang tetap hidup, bukan indikator utama keberhasilan. Wisatawan datang justru karena Kemiren masih menawarkan pengalaman budaya yang autentik. Jika suatu saat budaya hanya dipertontonkan demi mengejar jumlah kunjungan, maka daya tarik itu sendiri akan memudar.
UMKM Berkelanjutan Tidak Bisa Berdiri Tanpa Pendidikan, Lingkungan, dan SDM
Keunggulan Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak hanya terletak pada pengembangan sektor wisata, tetapi juga pada upaya memperkuat ekosistem yang menopang UMKM. Sejak 2024, program Desa Sejahtera Astra mengembangkan empat pilar utama, yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Pendekatan ini patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa ekonomi desa tidak dapat tumbuh secara sehat jika hanya mengandalkan promosi destinasi wisata. UMKM membutuhkan sumber daya manusia yang terampil, lingkungan yang lestari sebagai penopang aktivitas ekonomi, serta pendidikan yang memastikan generasi muda tetap memahami identitas budayanya.
Muhammad Edy Saputro atau Kang Edai, Local Hero Desa Sejahtera Astra Kemiren, mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra tersebut, fokus pengembangan masih berada pada kewirausahaan. Setelah Astra hadir, ruang geraknya meluas hingga pendidikan budaya Osing, pengelolaan sampah, produksi pupuk organik, serta penguatan kesehatan masyarakat melalui Posyandu yang dipimpin oleh ibu-ibu PKK.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan memerlukan pendekatan lintas sektor. Wirausaha yang kuat tidak lahir dari modal dan promosi saja, tetapi juga dari masyarakat yang sehat, lingkungan yang terjaga, serta budaya yang tetap diwariskan.
Hambatan Terbesar Bukan Berakhirnya Pendampingan Astra, Melainkan Ketergantungan UMKM
Keberhasilan Desa Sejahtera Astra Kemiren selama ini tidak dapat dilepaskan dari pendampingan yang dilakukan Astra melalui penguatan kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Namun, keberhasilan sebuah program pemberdayaan seharusnya tidak diukur dari capaian selama program berlangsung, melainkan dari kemampuan masyarakat mempertahankan bahkan mengembangkan hasilnya ketika pendampingan telah berakhir.
Inilah ujian sesungguhnya bagi UMKM Kemiren. Tantangan terbesar bukan sekadar hilangnya bantuan, tetapi munculnya ketergantungan terhadap fasilitasi eksternal.
Tidak sedikit program pemberdayaan di Indonesia menunjukkan pola yang sama, pelaku UMKM berkembang ketika ada pelatihan, promosi, dan dukungan pendanaan, tetapi mengalami stagnasi ketika seluruh dukungan tersebut berhenti. Akibatnya, wirausaha yang seharusnya mandiri justru bergantung pada keberadaan program.
Kang Edai juga ikut mengakui bahwa hingga kini proses penyesuaian masih terus dilakukan karena karakter setiap desa berbeda. Pernyataan ini mengandung pesan penting bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa disalin begitu saja ke daerah lain.
Namun, pernyataan tersebut juga menjadi pengingat bahwa Kemiren sendiri masih menghadapi pekerjaan rumah untuk membangun ekosistem UMKM yang benar-benar tangguh dan tidak bergantung pada pendampingan.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah orientasi pasar. Meningkatnya kunjungan wisata memang membuka peluang ekonomi, tetapi juga berpotensi membentuk pola usaha yang terlalu bergantung pada wisatawan.
Jika sebagian besar UMKM hanya hidup dari penjualan suvenir, kuliner, atau jasa yang bergantung pada arus kunjungan, maka ekonomi desa akan rentan terhadap setiap penurunan sektor pariwisata. Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa ketika wisata berhenti, banyak pelaku usaha lokal kehilangan sumber pendapatan dalam waktu singkat.
Karena itu, UMKM Kemiren perlu memperluas pasar melalui digitalisasi, penguatan merek lokal, diversifikasi produk, hingga jaringan distribusi yang mampu menjangkau konsumen di luar kawasan wisata.
Di sisi lain, tekanan pasar juga membawa ancaman yang lebih halus, yaitu komersialisasi budaya. Ketika produk UMKM lebih sibuk mengikuti tren dibanding mempertahankan nilai budaya Osing, identitas lokal perlahan akan terkikis. Kopi Osing, kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga homestay bukan hanya dituntut menarik secara komersial, tetapi juga harus tetap merepresentasikan pengetahuan, filosofi, dan karakter masyarakat Kemiren.
Jika inovasi hanya diarahkan untuk meningkatkan penjualan tanpa menjaga keaslian budaya, maka UMKM justru menjadi pintu masuk bagi hilangnya identitas yang selama ini menjadi kekuatan utama desa.
Karena itu, keberhasilan UMKM tidak cukup diukur dari kenaikan omzet, bertambahnya jumlah wisatawan, atau banyaknya penghargaan yang diterima.
Indikator yang jauh lebih penting adalah tingkat kemandirian pelaku usaha, kemampuan menciptakan inovasi tanpa meninggalkan akar budaya, regenerasi wirausaha muda, serta keberhasilan memperluas pasar tanpa kehilangan identitas lokal.
Kemiren telah menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi fondasi ekonomi yang kuat. Namun, agar model ini benar-benar berkelanjutan, UMKM harus bertransformasi dari sekadar penerima manfaat program menjadi pelaku usaha yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
Jika transformasi itu berhasil, Kemiren tidak hanya dikenal sebagai desa wisata budaya, tetapi juga sebagai contoh bagaimana kewirausahaan lokal mampu melawan komersialisasi budaya melalui ekonomi yang tumbuh tanpa kehilangan jati diri.