Ulasan
Ulasan Munafik: Melawan Iblis, Iman Diuji oleh Kehilangan dan Kegelapan
Film horror Indonesia kini sedang banyak digandrungi oleh sebagian masyarakat Indonesia. Apalagi pada September 2026 ada beberapa film horror sudah tayang di Bisokop, salah satunya adalah ‘Munafik: Melawan Iblis’ yang baru saja dirilis pada 3 September 2026 kemarin.
Film yang diperankan oleh Arya Saloka, Dimas Aditya dan Acha Septriasa ini berhasil memukau pada hari pertama perilisan. Bahkan alurnya pun sangat dekat dengan kehidupan masa kini yang tentang menyekutukan Allah.
Sinopsis Film ‘Munafik: Melawan Iblis’
Film ‘Munafik: Melawan Iblis’ menghadirkan horor yang tidak hanya mengandalkan penampakan, kerasukan, atau kejutan mendadak. Di balik terornya, film ini mencoba membawa penonton masuk ke dalam pergulatan batin Adam, seorang praktisi ruqyah yang harus menghadapi krisis keimanan setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis. Kehilangan tersebut membuat Adam terpuruk hingga ia memilih berhenti membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan spiritual.
Ketika Duka Mengguncang Keimanan Manusia
Kekuatan utama ‘Munafik: Melawan Iblis’ terletak pada konflik personal Adam. Ia bukan sekadar tokoh yang melawan kekuatan gaib, tetapi juga seseorang yang sedang berusaha berdamai dengan rasa kehilangan.
Duka membuat keyakinannya goyah dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mungkin tidak pernah ia pikirkan.
Situasi berubah ketika Adam diminta membantu seorang perempuan yang mengalami depresi dan gangguan misterius. Keputusan untuk kembali melakukan ruqyah justru membawanya pada serangkaian kejadian mengerikan. Teror yang dihadapi semakin intens, tetapi yang lebih menarik adalah bagaimana gangguan tersebut perlahan menyeret Adam kembali pada luka masa lalunya.
Di titik ini, horror terasa lebih personal. Ketakutan tidak hanya datang dari sesuatu yang tidak terlihat, tetapi juga dari rasa bersalah, kehilangan, keraguan, dan ketidakmampuan manusia menerima kenyataan.
Sebagai film horor religi, sinema ini cukup efektif memanfaatkan unsur supranatural untuk membangun ketegangan. Adegan kerasukan dan kemunculan kekuatan gelap menjadi bagian penting dari cerita, tetapi film ini memiliki lapisan lain yang membuatnya lebih menarik untuk dibahas.
Judul ‘Munafik: Melawan Iblis’ sendiri memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar label terhadap karakter tertentu. Film ini mengajak penonton mempertanyakan bagaimana seseorang dapat terlihat baik di luar, tetapi menyimpan kelemahan, kebohongan, atau sisi gelap di dalam dirinya.
Dengan demikian, sumber kejahatan tidak selalu digambarkan sebagai sesuatu yang datang dari dunia gaib. Manusia pun dapat menjadi ruang munculnya keburukan ketika iman, kejujuran, dan keteguhan moral mulai kehilangan pijakan.
Namun, tontonan ini juga cukup jelas dalam menyampaikan pesan moralnya. Beberapa bagian terasa sangat menekankan hubungan antara keimanan dan kekuatan menghadapi gangguan, sehingga bagi sebagian penonton penyampaiannya mungkin terasa cukup didaktis. Meski begitu, pendekatan tersebut justru menjadi identitas utama sebagai horor religi.
Film ini mengingatkan bahwa menerima kehilangan bukan berarti melupakan orang yang telah pergi, melainkan belajar melepaskan rasa bersalah dan kembali menemukan pijakan hidup.
Sinema 'Munafik: Melawan Iblis' dapat dilihat sebagai film horor yang menggunakan unsur supranatural untuk membicarakan persoalan yang jauh lebih manusiawi: bagaimana seseorang tetap bertahan ketika keyakinannya sedang berada di titik paling rapuh.