Kolom
Bahaya Scroll Society: Saat Anak Muda Mahir Scrolling, Lupa Berpikir
Pernahkah kita membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts hanya untuk melihat satu menit sebelum tidur? Kemudian satu menit berubah menjadi lima menit. Lima menjadi dua puluh. Tiba-tiba sudah hampir satu jam berlalu, sementara kita bahkan tidak ingat apa saja yang baru saja ditonton.
Barangkali kita tidak sedang mencari sesuatu. Kita hanya terbiasa menggeser layar setiap kali sesuatu tidak lagi menarik perhatian.
Di situlah persoalan “scroll society” bermula. Istilah ini bukan berarti semua aktivitas scrolling itu buruk. Media sosial bisa menjadi tempat belajar, mencari informasi, membangun jejaring, bahkan menemukan peluang. Persoalannya muncul ketika kita semakin terbiasa menerima dunia dalam potongan-potongan pendek, cepat, dan sudah dipilihkan oleh algoritma.
Scroll Sebentar, Ternyata Sudah Satu Jam
Fenomenanya tidaklah kecil. Reuters Institute dalam Digital News Report 2026 mencatat bahwa 64 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui platform seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. Bahkan, media sosial dan jaringan video kini menjadi sumber berita utama bagi 48 persen responden Indonesia, naik 8 poin dibanding tahun sebelumnya.
Artinya, kita sebetulnya tidak benar-benar mencari informasi. Lebih dari itu, informasi yang datang kepada kita.
Kita membuka ponsel, lalu algoritma menyajikan apa yang dianggap menarik. Video politik muncul setelah video hiburan. Berita ekonomi muncul setelah konten makanan. Persoalan sosial muncul di antara video komedi. Semua hadir dalam satu aliran yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Ketika Otak Terbiasa dengan Stimulus Cepat
Masalahnya, kita tidak hanya sedang mengonsumsi konten. Kita juga sedang membentuk kebiasaan perhatian.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup 71 studi dengan 98.299 partisipan menemukan bahwa penggunaan video pendek yang lebih tinggi berkaitan dengan performa kognitif yang lebih buruk. Hubungan paling kuat terlihat pada perhatian dan *inhibitory control*, yaitu kemampuan menahan respons atau dorongan yang tidak relevan.
Namun, penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa scrolling secara langsung “merusak otak”.
Perbedaan ini penting. Masalahnya mungkin bukan otak kita menjadi “tumpul”, tetapi kita semakin terbiasa hidup dalam lingkungan yang menuntut perhatian berpindah dengan sangat cepat.
Coba lihat kehidupan sehari-hari. Membaca jurnal dua puluh halaman terasa berat. Menyelesaikan buku tiga ratus halaman sering ditunda. Belajar bahasa Inggris selama satu jam tanpa membuka media sosial terasa membosankan. Menulis sesuatu sampai selesai membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Sebaliknya, scrolling terasa ringan. Kalau sebuah video membosankan, tinggal geser saja. Kalau topiknya tidak menarik, geser lagi. Selalu ada sesuatu yang baru beberapa detik kemudian.
Lama-kelamaan, kita bisa menjadi tidak sabar terhadap sesuatu yang hasilnya tidak langsung terlihat. Padahal hampir semua hal penting dalam hidup bekerja dengan cara sebaliknya. Belajar membutuhkan waktu. Menulis membutuhkan latihan. Membaca membutuhkan ketekunan. Membangun karier membutuhkan proses.