Kolom

Geliat Konten Affiliate: Potret Gagalnya Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja

Geliat Konten Affiliate: Potret Gagalnya Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja
Ilustrasi konten affiliate (magnific)

Setiap kali membuka media sosial, rasanya hampir semua orang sedang berusaha menghasilkan uang dari sana. Ada yang membuat konten, menjadi affiliator, sampai menjadikan media sosial sebagai etalase dagangan.

Fenomena ini menunjukkan geliat konten affiliate yang semakin ramai dan membuat pekerjaan di dunia digital terlihat seperti pilihan yang masuk akal untuk mencari penghasilan.

Padahal, maraknya orang mencari cuan lewat konten tidak selalu lahir dari keinginan menjadi terkenal atau cepat kaya. Bagi sebagian orang, pekerjaan semacam ini menjadi alternatif karena mencari pekerjaan formal dengan gaji layak dan jenjang karier yang jelas semakin sulit.

Oleh karena itu, geliat konten affiliate ini menarik untuk dilihat dari sudut pandang berbeda daripada sekadar tren media sosial. Di balik ramainya orang berjualan lewat video pendek dan mengejar komisi, ada persoalan yang lebih besar tentang kondisi pasar kerja Indonesia.

Kondisi Pasar Kerja yang Memaksa Orang Berjualan

Kita sering melihat orang yang menjadi affiliate sebagai sosok yang pintar membaca peluang. Hal itu memang ada benarnya. Di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan, kemampuan mengubah akun media sosial menjadi sumber penghasilan memang merupakan bentuk adaptasi yang patut diapresiasi.

Namun, di balik pujian tersebut ada masalah yang tak seharusnya luput dari perhatian. Mengapa masyarakat justru harus menciptakan peluang kerjanya sendiri?

Tidak semua orang punya keinginan menjadi content creator. Banyak orang sebenarnya hanya ingin pekerjaan yang cukup untuk membayar kebutuhan, punya jam kerja yang manusiawi, mendapatkan penghasilan yang layak, dan masih memiliki kepastian untuk merencanakan hidup.

Namun, pilihan semacam itu tidak selalu mudah ditemukan. Lowongan kerja saat ini diperebutkan banyak orang, sementara pekerjaan yang tersedia belum tentu menawarkan upah yang memadai.

Oleh karena itu, ketika media sosial membuka kemungkinan mendapatkan uang tanpa harus menunggu perusahaan merekrut, wajar jika banyak orang beralih ke sana.

Dari sini, ramainya affiliate seharusnya tidak hanya dilihat sebagai keberhasilan ekonomi digital. Fenomena tersebut juga menunjukkan ada kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya dijawab oleh pasar kerja formal.

Negara Tak Bisa Cuma Meminta Rakyat Adaptif

Kita hidup di masa ketika orang harus punya pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, dan kalau perlu pekerjaan sampingan dari pekerjaan sampingan. Semua disebut sebagai bentuk produktivitas. Padahal, kalau satu pekerjaan masih cukup untuk hidup layak, orang tidak perlu terus mencari pemasukan di tempat lain.

Masyarakat Indonesia memang sudah sangat adaptif. Ketika pekerjaan berubah, mereka menyesuaikan diri. Ketika teknologi berkembang, mereka belajar menggunakannya. Begitu pula ketika penghasilan berkurang, mereka akan mencari cara untuk menambah pemasukan.

Salah satu bentuk adaptasi itu terlihat dari semakin banyaknya orang yang menjadi affiliator. Media sosial dimanfaatkan bukan lagi sekadar untuk berkomunikasi atau mencari hiburan, tetapi juga sebagai tempat mencari nafkah.

Namun, pilihan ini sekaligus membuat penghasilan mereka bergantung pada hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, seperti algoritma platform, tren, dan daya beli konsumen.

Padahal, penghasilan affiliate tidak berdiri sendiri. Ada algoritma yang menentukan jangkauan, tren yang cepat berubah, serta konsumen yang punya kemampuan belanja terbatas. Artinya, peluang tersebut tetap berada di atas fondasi yang rapuh dan tidak selalu bisa diandalkan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, pertumbuhan pekerjaan digital seharusnya tidak membuat pemerintah merasa sudah berhasil menyediakan banyak kesempatan kerja.

Negara memang tidak bisa menjamin setiap orang mendapatkan pekerjaan impian. Namun, menyediakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda