Kolom
Jogja Kota Padat, Kenapa Anak Mudanya Tetap Kesepian?
Ada sesuatu yang lucu dari Yogyakarta. Kota ini terlalu ramai untuk disebut sepi, tetapi cukup banyak orang di dalamnya yang merasa sendirian. Padahal pagi hari jalanan penuh motor, siang hari kampus penuh mahasiswa, malam hari kafe penuh manusia yang membawa laptop, buku, dan wajah sok sibuk. Kalau kesepian bisa dihalau dengan jumlah manusia, mestinya Jogja sudah menjadi kota paling bahagia di Indonesia. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Data BPS Kota Yogyakarta dalam laporan “Kota Yogyakarta Dalam Angka 2025” mencatat penduduk Kota Yogyakarta pada 2024 mencapai 415.605 jiwa. Dengan luas wilayah hanya 32,82 kilometer persegi, kepadatannya mencapai 12.664 jiwa per kilometer persegi. Kecamatan Ngampilan bahkan mencapai 21.327 jiwa per kilometer persegi. BPS juga mencatat Kota Yogyakarta memiliki 64.590 mahasiswa pada tahun akademik 2024/2025. Kota ini memang padat. Bahkan cukup padat untuk membuat seseorang harus berjuang mencari parkiran hanya demi membeli kopi.
Lalu mengapa orang masih bisa merasa sendirian? Jawabannya mungkin karena kesepian memang tidak pernah dihitung dengan jumlah kepala. Kita bisa berdiri di tengah ribuan manusia sambil tetap merasa tidak punya siapa-siapa. Orang-orang di sebelah kita mungkin banyak, tetapi belum tentu ada satu pun yang mengetahui bahwa hari ini kita sedang tidak baik-baik saja.
Persoalan tersebut bukan sekadar dugaan. Alya Fauziyyah dan Sutarimah Ampuni dalam penelitiannya “Depression Tendencies, Social Skills, and Loneliness among College Students in Yogyakarta” yang diterbitkan Jurnal Psikologi UGM, Vol. 45 No. 2, 2018, halaman 101, meneliti 645 mahasiswa di Yogyakarta. Mereka menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur kesepian. Hasilnya menunjukkan keterampilan sosial yang lebih rendah berkaitan dengan tingkat kesepian yang lebih tinggi. Kesepian kemudian berperan sebagai mediator dalam hubungan antara keterampilan sosial dan kecenderungan depresi.
Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan perbedaan berdasarkan tahun kuliah. Mahasiswa tahun kelima dan seterusnya memiliki tingkat keterampilan sosial lebih rendah serta kesepian dan kecenderungan depresi yang lebih tinggi. Ada sesuatu yang menyedihkan di sini. Semakin lama seseorang berada di lingkungan yang katanya penuh teman, belum tentu semakin banyak teman yang benar-benar tinggal bersamanya.
Penelitian Erika Rahmawati dari Universitas Negeri Yogyakarta pada 2023 memberi gambaran lain. Dalam skripsinya, “Kualitas Persahabatan sebagai Prediktor bagi Kesepian pada Mahasiswa di Yogyakarta”, ia melibatkan 387 mahasiswa. Penelitian tersebut menemukan bahwa kualitas persahabatan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap kesepian. Kualitas persahabatan memberikan sumbangan efektif 10,1 persen terhadap kesepian. Artinya, punya teman saja belum cukup. Yang menentukan adalah seperti apa hubungan itu.
Ini mungkin bagian yang sering gagal kita pahami dari kehidupan kota. Kita terlalu senang menghitung keramaian. Berapa jumlah penduduk? Berapa jumlah mahasiswa? Berapa banyak kafe? Berapa banyak komunitas? Berapa banyak acara akhir pekan? Setelah semuanya dihitung, kita lalu merasa kota tersebut pasti punya kehidupan sosial yang sehat. Padahal manusia bukan ayam yang akan merasa aman hanya karena kandangnya penuh.
Mahasiswa rantau datang ke Jogja membawa koper dan harapan. Sebagian datang pertama kali tanpa keluarga, tinggal di kamar kos, makan sendirian, mengatur uang sendiri, lalu perlahan belajar bahwa menjadi dewasa ternyata hanya nama lain dari mengerjakan banyak hal tanpa ada yang menyuruh. Teman-teman baru memang datang. Masalahnya, kedekatan tidak selalu ikut datang bersama mereka.
Penelitian Raissa Pramitha dalam “Hubungan Kesejahteraan Psikologis dengan Kesepian pada Mahasiswa yang Merantau di Yogyakarta” pada 2019 bahkan secara khusus melibatkan 113 mahasiswa perantau. Penelitian tersebut menemukan hubungan negatif yang kuat antara kesejahteraan psikologis dan kesepian dengan koefisien korelasi r = -0,655. Semakin baik kesejahteraan psikologis, kecenderungan kesepian dalam kelompok tersebut semakin rendah.
Maka barangkali persoalan Jogja adalah manusia datang ke kota ini dengan kehidupan masing-masing. Mereka berpapasan setiap hari tanpa harus benar-benar saling mengenal. Kita duduk bersebelahan di kelas, bekerja di meja yang berdekatan, bertemu di kedai kopi, mengikuti acara yang sama, bahkan saling mengikuti Instagram. Setelah itu pulang ke kamar masing-masing. Betapa ironisnya kehidupan modern perkotaan ini.
Kita sekarang punya seribu cara untuk terhubung dan semakin sedikit alasan untuk benar-benar bertemu. Kita tahu siapa yang sedang makan apa, bepergian ke mana, dan baru putus dengan siapa. Kita tahu semuanya tentang kehidupan orang lain kecuali apakah mereka membutuhkan seorang teman malam ini.
Jogja tetap ramai, jalanannya tetap macet, kampusnya tetap penuh, kos-kosan tetap berdempetan, kafe tetap sesak menjelang malam. Hanya saja, keramaian ternyata tidak pernah menjadi obat otomatis bagi kesepian.
Sebab manusia tidak membutuhkan sekadar banyak orang di sekelilingnya. Ia membutuhkan hubungan yang membuat keberadaannya terasa berarti. Dan mungkin itulah ironi terbesar kota ini: Jogja berhasil membuat kita tidak pernah benar-benar sendirian secara fisik, tetapi belum tentu berhasil membuat kita merasa ditemani secara emosional.