Kolom

Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?

Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?
Ilustrasi perempuan dan gaya hidup aesthetic (Pexels/Yan Krukau)

Gaya hidup aesthetic sering terlihat menarik di media sosial, tapi sayangnya tidak selalu ramah untuk dompet. Fakta ini tentu membuat Gen Z perlu meninjau ulang standar hidup cantik dan Instagramable yang selama ini dikejar mati-matian.

Dulu, ada masa ketika hidup sederhana terasa cukup. Namun, kehadiran media sosial membuat kesederhanaan pun seolah memiliki standar visual tertentu, bahkan untuk aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan semua orang.

Kamar harus ditata dengan warna netral. Meja kerja perlu dihiasi lilin aromaterapi dan tanaman kecil. Minuman harus disajikan dalam gelas cantik. Bahkan aktivitas membaca buku hingga berolahraga sering kali dianggap lebih menarik jika memiliki tampilan estetik.

Masalahnya, gaya hidup yang terlihat sederhana tersebut tidak selalu murah. Di balik foto bernuansa hangat dan rapi, ada biaya untuk membeli dekorasi, pakaian, peralatan makan, produk perawatan diri, hingga berbagai barang pendukung lainnya.

Akhirnya, konsep hidup aesthetic yang awalnya dianggap sebagai bentuk kenyamanan justru berubah menjadi tekanan konsumsi. Lalu, sebenarnya kita sedang menikmati keindahan atau malah sekadar mengejar standar sosial?

Aesthetic Tidak Selalu Berarti Sederhana

Secara tampilan, gaya hidup aesthetic memang sering terlihat minimalis. Namun, minimalisme secara visual belum tentu berarti minimalis juga dalam hal pengeluaran. Ada banyak ‘pendukung’ tampilan estetik yang harus dibayar.

Satu meja kerja yang tampak sederhana mungkin butuh lampu khusus, organizer, vas bunga, diffuser, notebook, hingga aksesori dekoratif. Sementara itu, gaya berpakaian effortless bisa saja melibatkan banyak produk fashion, skincare, makeup, dan aksesori.

Hal ini menunjukkan kalau estetika bisa menjadi industri tersendiri, bahkan ikut membentuk tren konsumerisme. Sesuatu yang terlihat natural dan tidak berlebihan tetap bisa membutuhkan biaya besar untuk menciptakan kesan tersebut.

Media Sosial dan Standar Kehidupan yang Terlihat Indah

Media sosial tidak hanya menampilkan produk, tapi juga menawarkan gambaran mengenai kehidupan ideal. Kamar yang rapi, rutinitas pagi yang tenang, sarapan sehat, outfit nuansa earth tone, dan aktivitas produktif seolah menjadi paket lengkap.

Tanpa disadari, seseorang bisa mulai membandingkan kehidupan sehari-harinya dengan tampilan orang lain di layar. Padahal, konten yang terlihat hanya bagian kecil dari kehidupan. Kita tidak selalu tahu biaya, proses, atau kondisi di balik tampilan tersebut.

Ketika standar aesthetic dijadikan ukuran kebahagiaan, seseorang bisa merasa kurang hanya karena rumahnya tidak cukup rapi, pakaiannya tidak cukup menarik, atau rutinitasnya tidak terlihat Instagramable.

Keinginan Mempercantik Hidup Bisa Berubah Menjadi Konsumerisme

Tidak ada yang salah dengan membeli barang yang membuat ruang hidup terasa nyaman. Masalah muncul ketika setiap rasa tidak puas selalu dijawab dengan belanja. Pola ini justru menciptakan siklus konsumsi tanpa akhir.

Kamar terasa membosankan, solusinya membeli dekorasi baru. Merasa kurang percaya diri, solusinya menambah produk kecantikan. Rutinitas terasa tidak menarik, solusinya membeli perlengkapan lifestyle yang sedang tren.

Barang yang dibeli dan keinginan untuk memperbarui setelah tren berganti akan selalu muncul. Pada akhirnya, gaya hidup aesthetic bukan lagi sarana menikmati hidup, melainkan tuntutan untuk terus mengikuti standar visual.

Aesthetic Seharusnya Bisa Disesuaikan dengan Kemampuan

Gaya hidup cantik sebenarnya tidak harus selalu identik dengan barang mahal. Menata ulang ruangan, menggunakan kembali barang lama, atau membuat dekorasi sendiri juga bisa menciptakan suasana menyenangkan.

Begitu pula dengan penampilan. Merawat diri tidak harus dilakukan menggunakan banyak produk. Kebersihan, kenyamanan, dan kebiasaan sederhana sering kali jauh lebih penting daripada mengikuti seluruh tren kecantikan.

Kuncinya adalah membedakan antara menciptakan kenyamanan dan membeli citra kehidupan. Jangan sampai pembelian dilakukan hanya demi mengikuti tren. Ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya: “Ini untuk diriku atau untuk penilaian orang lain?”

Menikmati Hidup Tanpa Harus Terlihat Sempurna

Pada akhirnya, aesthetic seharusnya menjadi pilihan personal, bukan kewajiban sosial. Hidup yang nyaman tidak harus selalu memiliki warna senada. Rutinitas yang bermakna tidak harus direkam dengan pencahayaan sempurna.

Dan lebih dari itu, kebahagiaan tidak otomatis bertambah hanya karena sebuah aktivitas terlihat cantik di media sosial. Kita boleh menikmati hal-hal indah, tapi juga perlu menyadari kalau keindahan tidak selalu harus dibeli.

Sebab, gaya hidup yang benar-benar ramah dompet bukan tentang menolak estetika, melainkan memahami batas antara menikmati keindahan dan mengejar standar yang tidak pernah selesai.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda