Kolom
FYP hingga Komentar: Bagaimana Media Sosial Mengubah Cara Kita Berbahasa?
Pernahkah kamu menemukan kata yang awalnya terdengar asing, tetapi beberapa hari kemudian justru ikut kamu gunakan saat mengobrol dengan teman?
Mulai dari istilah valid, relate, red flag, sampai ungkapan seperti “apapun itu, yang penting slay”. Belum selesai memahami satu tren bahasa, sudah muncul istilah baru yang memenuhi halaman For You Page (FYP). Tanpa disadari, media sosial memengaruhi cara kita berbicara.
Bagi Generasi Z, media sosial telah menjadi ruang pergaulan yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya menghadirkan tempat bagi anak muda untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman, sekaligus menciptakan istilah yang kemudian digunakan secara luas.
Bahasa yang dulunya berkembang melalui percakapan langsung kini bisa menyebar hanya dalam hitungan jam berkat satu video viral.
Ketika FYP Menjadi Kamus Baru
Jika dahulu kita mengenal kosakata baru melalui buku, televisi, atau percakapan dengan orang lain, sekarang media sosial menawarkan jalur yang jauh lebih cepat. Sebuah ungkapan yang digunakan kreator dalam video bisa langsung ditiru ribuan pengguna, lalu muncul kembali dalam berbagai konteks berbeda.
Kita bisa melihat bagaimana kata healing menjadi istilah populer untuk menggambarkan kegiatan menyenangkan, meskipun maknanya tidak selalu sama dengan pemulihan dalam pengertian yang lebih luas. Begitu pula istilah red flag yang digunakan untuk menandai perilaku yang dianggap bermasalah.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa bahasa memiliki kemampuan beradaptasi. Gen Z tidak sekadar menjadi pengguna bahasa, tetapi juga ikut membentuk perkembangannya. Mereka mengolah kata, menciptakan ungkapan baru, dan memberikan makna tambahan sesuai pengalaman serta budaya yang mereka kenal.
Namun, kecepatan penyebaran bahasa di media sosial juga membuat tren mudah berganti. Sebuah istilah bisa terasa sangat relevan hari ini, tetapi beberapa minggu kemudian dianggap basi. Akibatnya, mengikuti perkembangan bahasa terkadang terasa seperti mengikuti perlombaan yang tidak memiliki garis akhir.
Kolom Komentar dan Budaya Ikut-ikutan
Selain FYP, kolom komentar menjadi tempat penting bagi perkembangan bahasa Gen Z. Di sana, orang tidak hanya memberikan tanggapan, tetapi juga membangun lelucon bersama, menciptakan istilah, dan menunjukkan identitas kelompok melalui gaya bahasa tertentu.
Komentar singkat seperti “relate banget”, “real”, atau “bro is cooked” dapat menyampaikan emosi dan sikap tanpa penjelasan panjang. Dalam konteks digital yang serba cepat, ungkapan ringkas semacam ini terasa praktis dan mudah dipahami oleh orang-orang yang mengenal tren serupa.
Ada pula dorongan sosial untuk ikut menggunakan istilah yang sedang populer. Ketika hampir semua orang memakai ungkapan tertentu, seseorang mungkin merasa perlu menggunakannya agar tidak dianggap ketinggalan tren.
Meski begitu, kebiasaan mengikuti tren tidak selalu berarti buruk. Humor, plesetan, dan kreativitas dalam berbahasa dapat menciptakan kedekatan di antara pengguna media sosial. Persoalannya muncul ketika kita menggunakan istilah hanya karena viral, tanpa memahami makna atau konteksnya, sehingga pesan yang ingin disampaikan justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Apakah Bahasa Indonesia Mulai Tersingkirkan?
Di tengah ramainya istilah asing dan bahasa gaul, muncul kekhawatiran bahwa bahasa Indonesia semakin jarang digunakan dengan baik. Kekhawatiran ini perlu disikapi secara proporsional. Penggunaan bahasa gaul dalam percakapan santai tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar.
Bahasa memiliki ragam yang digunakan sesuai situasi. Berbicara dengan teman tentu berbeda dari menulis artikel, menyusun laporan, atau mengirim surat lamaran pekerjaan. Kita boleh menggunakan bahasa santai di kolom komentar, tetapi tetap perlu memahami kaidah bahasa Indonesia ketika konteksnya menuntut komunikasi yang lebih formal.
Tantangannya adalah memastikan bahwa kebiasaan berbahasa di media sosial tidak membuat kita kehilangan keluwesan dalam menggunakan ragam bahasa lainnya. Jangan sampai kita terbiasa menulis singkat dan spontan hingga kesulitan menyusun gagasan yang runtut ketika diperlukan.
Karena itu, menjaga bahasa Indonesia tidak harus dilakukan dengan melarang penggunaan istilah asing atau memusuhi bahasa gaul. Kita justru perlu memperkaya kosakata, membiasakan diri membaca, dan menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai bentuk karya digital yang menarik.
Menjadi Kreatif Tanpa Kehilangan Identitas
Media sosial akan terus melahirkan tren, termasuk tren bahasa. Gen Z tidak perlu menutup diri dari perubahan tersebut karena kreativitas merupakan bagian dari perkembangan bahasa. Hal yang lebih penting adalah memiliki kesadaran untuk memilih kata, memahami makna, dan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi.
Pada akhirnya, bahasa bukan sesuatu yang hidup hanya di dalam buku pelajaran atau ruang kelas. Bahasa hidup ketika digunakan, dipahami, dan dikembangkan oleh masyarakatnya. Dari FYP hingga kolom komentar, Gen Z memiliki kesempatan untuk ikut menentukan bagaimana bahasa berkembang di era digital.
Tren mungkin berganti, istilah viral mungkin terlupakan, tetapi kemampuan berbahasa akan selalu dibutuhkan. Sebab, menjadi bagian dari generasi digital bukan berarti harus mengikuti semua tren tanpa berpikir. Kita bisa tetap kreatif, relevan, dan modern tanpa kehilangan kedekatan dengan bahasa sendiri.