Kolom
Bahasa Indonesia untuk Gen Z: Bertahan di Tengah Gempuran Istilah Nyeleneh
Pernahkah kita menyadari bahwa percakapan sehari-hari kini semakin dipenuhi istilah yang terdengar asing bagi sebagian orang?
Kata relate, healing, cringe, valid, hingga ungkapan seperti “no debat” dan “bjir” seolah sudah menjadi bagian dari kamus tidak resmi generasi muda. Belum lagi istilah baru yang bermunculan di TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya. Hari ini sebuah kata viral, besok muncul istilah baru yang tidak kalah nyeleneh.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa selalu bergerak mengikuti penggunanya. Namun, di tengah kreativitas Gen Z dalam menciptakan tren komunikasi, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan, bagaimana nasib Bahasa Indonesia ketika istilah asing dan bahasa gaul semakin mendominasi percakapan sehari-hari?
Bahasa Gaul dan Kreativitas Gen Z
Bagi Gen Z, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi. Bahasa juga menjadi sarana mengekspresikan emosi, membangun kedekatan, bahkan menunjukkan identitas dalam pergaulan. Menggunakan istilah yang sedang tren dapat membuat seseorang merasa menjadi bagian dari komunitas tertentu.
Media sosial turut mempercepat proses tersebut. Sebuah ungkapan yang awalnya hanya digunakan oleh kelompok kecil bisa menyebar luas setelah muncul dalam video viral atau konten kreator populer. Tidak mengherankan jika istilah baru begitu cepat masuk ke percakapan sehari-hari kita sekarang.
Kebiasaan mencampurkan Bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris pun semakin lazim. Kalimat seperti “Aku literally capek banget” atau “This is so relate sama hidupku” mungkin terdengar biasa bagi sebagian anak muda. Dalam konteks tertentu, kebiasaan ini merupakan bentuk kreativitas berbahasa yang mencerminkan keterbukaan terhadap budaya global.
Karena itu, bahasa gaul tidak seharusnya langsung dianggap sebagai ancaman. Bahasa memang berkembang, dan generasi muda memiliki peran dalam menciptakan perubahan tersebut. Persoalannya bukan semata-mata tentang seberapa sering Gen Z menggunakan istilah asing, melainkan bagaimana mereka memahami dan menempatkan bahasa sesuai konteksnya.
Ketika yang Viral Lebih Diingat daripada yang Bermakna
Meski demikian, derasnya arus tren digital tetap perlu disikapi secara kritis. Ada kalanya sebuah istilah digunakan hanya karena sedang populer, tanpa benar-benar memahami maknanya. Akibatnya, bahasa berisiko menjadi sekadar tren yang diikuti agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Kita mungkin lebih spontan menggunakan istilah asing ketika ingin menggambarkan perasaan, padahal Bahasa Indonesia juga memiliki banyak pilihan kata yang mampu menyampaikan makna serupa. Misalnya, kata overthinking dapat dijelaskan sebagai kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan.
Kata healing, yang sering digunakan dalam percakapan santai, juga memiliki makna berbeda bergantung pada konteksnya dan tidak selalu tepat jika dipakai untuk menggambarkan setiap kegiatan menyenangkan.
Tentu saja, menggunakan istilah asing bukan kesalahan dengan sendirinya. Akan tetapi, jika kebiasaan tersebut membuat kita kesulitan mengungkapkan gagasan dalam Bahasa Indonesia, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mengevaluasi kemampuan berbahasa sendiri.
Kemampuan menggunakan bahasa tidak hanya terlihat dari kelancaran mengikuti tren, tetapi juga dari kecakapan menyampaikan gagasan secara jelas, tepat, dan mudah dipahami. Terlebih dalam situasi formal, seperti menulis surat lamaran kerja, menyusun laporan, atau menyampaikan pendapat di ruang publik.
Menjaga Bahasa Indonesia Tanpa Harus Menjadi Kaku
Lantas, apakah menjaga Bahasa Indonesia berarti Gen Z harus berhenti menggunakan bahasa gaul? Tentu tidak. Kita tidak perlu memusuhi istilah asing atau menghapus slang dari percakapan sehari-hari. Yang lebih penting adalah memahami kapan bahasa santai sesuai digunakan dan kapan bahasa yang lebih baku diperlukan.
Gen Z dapat memulai dari kebiasaan sederhana, seperti membaca karya berbahasa Indonesia, memperkaya kosakata, serta membiasakan diri menulis dengan kalimat yang jelas. Media sosial pun bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan kata-kata Indonesia yang menarik, bukan hanya untuk mengikuti istilah viral.
Pada akhirnya, eksistensi Bahasa Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa sedikit istilah asing yang digunakan generasi muda. Eksistensinya justru bergantung pada kesediaan kita untuk terus menggunakan, mempelajari, dan mengembangkannya di tengah perubahan zaman.
Bahasa gaul boleh berganti setiap minggu, istilah viral boleh datang silih berganti, tetapi Bahasa Indonesia tidak seharusnya hanya hadir dalam buku pelajaran atau upacara resmi. Bahasa ini perlu tetap hidup dalam percakapan, tulisan, karya kreatif, dan ruang digital yang setiap hari kita tempati.
Karena untuk menjadi Gen Z yang gaul tidak berarti harus meninggalkan bahasa sendiri. Kita tetap bisa relate dengan tren global tanpa kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia. Yuk, lebih budayakan bahasa kita!