Terjebak dalam Gaya Hidup Konsumtif, Masih Bisa Sembuh Kok!

Tri Apriyani | chanisagnp
Terjebak dalam Gaya Hidup Konsumtif, Masih Bisa Sembuh Kok!
Ilustrasi gaya hidup konsumtif. (Shutterstock)

Gaya hidup konsumtif, tentu Anda tidak asing lagi kan dengan kata-kata itu? Atau kaum milenial sering menyebutnya dengan ‘hedonisme’. Kata-kata ini identik dengan boros dalam menggunakan uang secara berlebihan tidak sesuai kebutuhan, mengkonsumsi barang secara berlebihan dengan mengutamakan kesenangan tanpa mempertimbangkan kebutuhan.

Yaaa, tidak dapat dipungkiri, kita hidup di era globalisasi, di mana kemajuan teknologi kini sangat berdampak kepada para penggunanya di berbagai aspek, dan salah satunya adalah perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat dalam berbelanja.

Maraknya toko daring atau online shop menjadi pemicu seseorang terjebak dalam perilaku konsumtif, apalagi kini iklan ini bermunculan dimana-mana dengan memberikan segudang iming-iming, jadi bagi para pengguna media sosial seakan mereka dihantui oleh maraknya onlineshop karena ‘dipaksa’ menonton iklan ketika menggunakan situs internet.

Nah gimana sih ciri-cirinya kalau seseorang itu termasuk dalam kategori gaya hidup konsumtif? Mari kita bahas ciri-ciri gaya hidup konsumtif terlebih dahulu.

1. Gengsi yang tinggi dan lingkup pergaulan

Sifat yang satu ini memang biasanya menjadi pendorong utama seseorang terjebak dalam perilaku konsumtif, apalagi bagi kaum millenial yang baru saja mendapatkan pekerjaan, mereka ingin dipandang mampu dimata teman-teman sebayanya, terutama dari segi finansial. Banyak pula yang beranggapan bahwa dengan berteman dengan kelompok yang cenderung konsumtif akan dianggap gaul. Gaul bukan berarti harus konsumtif kok!

2. Membeli produk hanya untuk status

Tak jarang pula individu menganggap bahwa barang yang mereka gunakan akan menunjukan status sosialnya di masyarakat. Mereka merasa harus menggunakan sesuatu dengan ‘merek’ terkenal dengan harga yang tinggi hanya agar terlihat keren dimata orang lain dengan mengesampingkan kebutuhan mereka.

3. Membeli produk karena terperdaya iklan atau endorsement

Banyak juga nih, masyarakat yang termakan iklan atau iming-iming dari suatu penawaran produk, entah itu kemasan yang menarik, hadiah atau bisa jadi karena model yang mengiklankan adalah artis, influencer, atau idola mereka

4. Selalu mengikuti tren

Tren gadget, tren fashion dan sebagainya. Individu itu cenderung tidak ingin dirinya ketinggalan dengan tren yang ada, setiap produk terbaru muncul dia tidak segan untuk merogeh koceknya demi suatu tren yang berkembang. Padahal apabila mengikuti tren, tidak akan ada habisnya. Sebenarnya, mengikuti perkembangan bukan hal yang negatif, tentu harus diimbangi dengan kontrol yang tepat

Nah, setelah kita tahu ciri-ciri perilaku konsumtif, yuk renungkan sejenak, apakah Anda ini termasuk dalam kategori perilaku konsumtif? Atau selama ini Anda terjebak tetapi tidak menyadarinya? Jangan khawatir, perilaku konsumtif bisa sembuh kok asal ada kemauan dan komitmen dari internal diri sendiri. Simak tips berikut ya!

Buatlah daftar prioritas kebutuhan dan alokasi anggaran

Langkah awalnya, tulis dan list daftar tersebut dan tanamkan dalam hati dan pikiran Anda sebagai reminder. Nah, reminder ini yang akan mengontrol Anda ketika hasrat untuk membeli sesuatu di luar kebutuhan muncul lagi, tentu harus didampingi komitmen dalam melaksanakannya.Jangan lupa untuk membuat alokasi anggaran dari sumber penghasilan Anda untuk mengetahui seberapa besar kemampuan Anda untuk mengkonsumsi sesuatu.

Selesaikan hutang-perhutangan

Apabila Anda sudah terlanjur terjebak dalam pehutangan yang rumit, rapikan dulu kewajiban Anda. Prioritaskan untuk segera menyelesaikan hutang ini agar tidak mengganggu kehidupan perekonomian Anda di masa datang.

Kurangi penggunaan kartu kredit

Kartu kredit memudahkan seseorang dalam berbelanja, membeli barang, membeli tiket, makan di restoran dan sebagainya. Kartu kredit ini juga marak menawarkan pembayaran cicilan yang menarik, ini sama saja dengan berhutang, kalau telat ya ada denda dong. Pastikan memakai kartu kredit sesuang kemampuan anggaran Anda.

Buat emergency fund dan mulailah berinvestasi

Nah sebelum berinvestasi, lebih baik siapkan anggaran untuk emergency fund atau dana darurat terlebih dahulu. Sedetail apapun perencanaan keuangan yang sudah kita buat akan selalu ada hal-hal yang tak terduga. Nah dana darurat ini akan meminimalisisir kerugian dan melindungi dana yang sudah Anda targetkan untuk keperluan lain. Nah kalau sudah, mulailah untuk menabung dan berinvestasi.

Beramal dan Sedekah

Anda harus berpikir bahwa banyak orang yang hidupnya tak seberuntung Anda dan membutuhkan bantuan Anda, kuncinya bersyukur dan lihatlah orang-orang yang tak seberuntung Anda. Hal tersebut akan membantu Anda untuk berpikir lagi ketika akan menghamburkan uang Anda.

Nah, jika 5 tips ini sudah dilaksanakan, Anda juga harus berkomitmen demi keuangan Anda yang lebih baik kedepannya. Selamat mencoba, semoga sukses.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak