Filosofi Rumah Jawa: Ruang, Bentuk, dan Hiasan

Hernawan | Herna Wan
Filosofi Rumah Jawa: Ruang, Bentuk, dan Hiasan
Penampakan salah satu rumah joglo di Gunungkidul yang masih terjaga keasliannya - (SuaraJogja.id/Julianto)

Rumah sebagai tempat tinggal berasal dari kata “omah”. Rumah dalam kebudayaan Jawa sendiri menjadi salah satu komponen penting dalam kehidupan yang tergabung dalam rangkaian sandang, pangan, dan papan.  Secara tipologi, rumah tradisional Jawa pada umumnya berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang. Arsitektur rumah jawa tidak mengenal bentuk oval atau bulat dalam pembuatan rumah tradisional.

Bentuk Rumah Tradisional Jawa

1. Penggangpe

Rumah panggangpe merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana dan bahkan merupakan bentuk bangunan dasar. Bangunan ini memiliki empat sampai enam tiang dan sisi-sisinya diberi dinding. Dalam perkembangannya, penggangpe ini memiliki berbagai variasi. Rumah penggangpe hanya memiliki satu ruangan yang multifungsi.  

2. Kampung

Rumah kampung adalah bentuk rumah yang setingkat lebih sempurna dari bentuk penggangpe. Rumah kampung ini biasanya memiliki empat, enam, atau delapan tiang atau saka. Atap rumah jenis ini terdapat pada dua belah sisinya dengan satu hubungan atau wuwung. Seperti halnya jenis penggangpe, jenis kampung juga memiliki berbagai variasi bentuk seiring berjalannya waktu.

3. Limasan

Kata limasan berasal dari kata “lima-lasan” yang berarti 15. Limasan adalah bentuk rumah yang merupakan perkembangan dari bentuk yang sudah ada sebelumya yakni panggangpe dan kampung.

4. Joglo

Dari bangunan-bangunan sebelumnya, Joglo merupakan bangunan yang paling sempurna. Joglo relatif berukuran lebih luas dan umumnya menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Ciri umum yang dapat dijumpai di joglo adalah “blandar” bersusun yang disebut blandar tumpangsari. Joglo disangga oleh saka guru dan dilengkapi sunduk yang berfungsi sebagai penguat bangunan. 

Ruang Dalam Rumah Tradisional Jawa

Pada prinsipnya, susunan ruang dalam bangunan tradisional Jawa berupa joglo adalah sebagai berikut:

1. Pendopo

Pendopo adalah bagian dari rumah yang difungsikan sebagai tempat berlangsungnya acara-acara formal seperti pertemuan, upacara, pagelaran seni, dan sebagainya.

2. Pringgitan

Pringgitan berasal dari kata ringgit yang artinya wayang kulit. Jadi, pringgitan dapat diartikan sebagai tempat untuk pertunjukan wayang. Oleh karenanya, maka tempat itu dinamakan pringgitan. Adapun letak dari pringgitan berada di belakang pendapa atau antara pendapa dan ruang dalam atau dalem.[2]

3. Omah Njero

Omah njero atau yang biasa disebut dengan dalem terletak di belakang pringgitan yang di dalamnya terdapat senthong kiwo, senthong tengah, dan senthong tengen. 

4. Senthong Kiwo

Senthong kiwo biasanya difungsikan sebagai kamar tidur keluarga atau sebagai tempat penyimpanan beras dan alat-alat bertani.

5. Senthong Tengah (Krobongan)

Untuk golongan petani, senthong tengah biasaya difungsikan sebagai tempat penyimpanan benih dan gabah. Namun, terkadang senthong tengah juga berfungsi sebagai tempat beribadah.

6. Senthong Tengen

Senthong tengen memiliki fungsi yang sama dengan senthong kiwo.

7. Gandhok

Gandhok adalah ruang yang berada di samping kiri, kanan, dan belakang dalem. Adapun fungsi dari Gandhok adalah untuk ruang keluarga. 

Selain ketujuh ruang diatas, terdapat pula beberapa ruangan yang biasanya terdapat dalam bangunan tradisional jawa seperti

1. Kuncungan

Kuncungan adalah ruang yang terletak di depan pendopo. Kuncungan berfungsi sebagai tempat transit atau pemberhentian sementara kendaraan tamu yang akan masuk ke dalam pendapa. Kuncungan dapat dijumpai di Dalem Joyodipuran.

2. Gadri

Gadri adalah sebutan untuk ruang dapur. Biasanya, gadri terletak di belakang gandhok. Bentuknya memanjang dari timur ke barat. 

3. Seketheng

Seketheng adalah pintu gerbang kecil yang terletak diantara dalem dengan masing-masing gandhok. Seketheng merupakan pembatas antara dalem dengan halaman luar.

4. Longkangan

Biasa dijumpai pada joglo-joglo bangsawan yang ada di kota. Longkangan adalah batas pemisah antara pringgitan dengan pendopo. Biasanya longkangan ini berbentuk gang yang kecil.

Hiasan dalam Rumah Tradisional Jawa

Rumah Jawa tradisional biasanya memiliki hiasan-hiasan yang mengandung makna yang baik, bukan hanya sekedar tempelan yang berfungsi sebagai penghias rumah. Fungsi hiasan pada suatu bangunan adalah untuk memperindah bangunan dengan ragam hias yang diharapkan mampu memberikan pengaruh yang positif. Rumah tradisional Jawa biasanya ada yang dibangun menggunakan bahan kayu, bambu, tembikar, batu dan logam. Oleh karena itu, hiasan yang ada disesuaikan dengan bahan utama pembuatan rumah. 

Hiasan pada bangunan rumah Jawa tradisional pada dasarnya ada dua macam, yaitu hiasan yang konstruksional dan hiasan yang tidak konstruksional. Yang dimaksud dengan hiasan konstruksional adalah hiasan yang menjadi satu dengan bangunannya. Jadi, hiasan ini tidak dapat dilepaskan dari bangunannya. Sedangkan hiasan yang tidak konstruksional adalah hiasan yang dapat terlepas dari bangunannya dan tidak berpengaruh terhadap konstruksi bangunannya. Hiasan yang terdapat pada bangunan rumah Jawa tradisional pada umumnya bersifat konstruksional yang selalu satu dengan bangunannya.[3]

Secara garis besar, ragam hias pada bangunan rumah Jawa tradisional dibagi ke dalam lima kelompok yakni flora, fauna, alam, agama dan kepercayaan, dan anyam-anyaman. Flora yang digunakan dalam hiasan bangunan rumah Jawa tradisional adalah macam-macam flora yang memiliki makna suci, berwarna indah, berbentuk halus, simetris atau yang serba estetis.

Sedangkan macam fauna yang digunakan biasanya berupa hiasan dalam perwujudan yang distelisasi seperti yang sering dijumpai dalam candi dan pewayangan. Ragam hias yang perwujudannya menggunakan bentuk alam juga distelisasi, sedangkan macamnya antara lain berupa gunung, matahari, bulan, petir, air, api dan lain sebagainya.

Kemudian ragam hias yang mengandung unsur agama dan kepercayaan pada rumah Jawa tradisional didasarkan pada bangunan rumah sejak zaman Mataram Islam hingga sekarang. Adapun macam ragam hias seni anyaman pada bangunan rumah Jawa tradisional banyak ditemukan pada dinding rumah (gedheg), atau sekat-sekat pada bangunan.

Referensi

Darto Handoko, dkk, Rumah Kebangsaan Dalem Jayadipuran Periode 1900-2014, (Yogyakarta, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, 2014).

H.J.Wibowo, dkk, Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta, (Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1998)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak