Hindari Menyesal, Ini 6 Kesalahan Finansial yang Perlu Dihindari Sejak Muda

M. Reza Sulaiman
Hindari Menyesal, Ini 6 Kesalahan Finansial yang Perlu Dihindari Sejak Muda
Ilustrasi keuangan, kesalahan finansial. (Pixabay/Steve Buissinne)

Usia 20-an sering disebut sebagai fase paling bebas dalam hidup. Di masa ini, seseorang mulai menghasilkan uang sendiri, menentukan arah karier, dan menikmati hasil kerja kerasnya.

Namun, kebebasan finansial tanpa pengelolaan yang baik justru bisa menjadi awal dari ancaman finansial di masa depan.

Banyak orang menyesal karena keputusan keuangan yang diambil di usia 20-an berdampak panjang hingga puluhan tahun kemudian. Oleh karena itu, penting untuk memahami kesalahan keuangan yang sering terjadi agar bisa dihindari sejak dini.

1. Tidak Membuat Anggaran Keuangan

Salah satu kesalahan paling umum adalah tidak memiliki anggaran. Tanpa anggaran, pengeluaran sering kali tidak terkontrol. Gaji terasa cepat habis tanpa tahu ke mana uang tersebut pergi. Padahal, anggaran bukan soal membatasi diri secara berlebihan, melainkan alat untuk mengatur prioritas.

Dengan anggaran, kita bisa memastikan kebutuhan utama terpenuhi, sekaligus tetap menyisihkan uang untuk tabungan dan tujuan jangka panjang.

2. Menunda Menabung dan Berinvestasi

Banyak orang berpikir bahwa menabung dan berinvestasi baru perlu dilakukan saat penghasilan sudah besar. Kenyataannya, waktu adalah faktor terpenting dalam keuangan. Menabung sejak muda, meskipun jumlahnya kecil, akan memberikan keuntungan jangka panjang.

Kebiasaan menunda hanya akan membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk membangun fondasi finansial yang kuat lebih awal.

3. Terjebak Gaya Hidup Berlebihan

Tekanan sosial dan media sosial sering membuat anak muda merasa harus mengikuti gaya hidup tertentu. Nongkrong mahal, belanja impulsif, hingga liburan yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial kerap dilakukan.

Gaya hidup seperti ini bisa membuat seseorang hidup dari gaji ke gaji dan sulit untuk menyiapkan masa depan.

4. Mengabaikan Dana Darurat

Banyak orang muda merasa bahwa dana darurat belum penting karena merasa masih sehat dan produktif. Padahal, kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau kebutuhan mendesak bisa terjadi kapan saja.

Tanpa dana darurat, seseorang bisa terpaksa berutang dan memperburuk kondisi keuangannya. Idealnya, dana darurat disiapkan sejak dini secara bertahap.

5. Terlalu Mudah Mengambil Utang

Kemudahan akses kartu kredit, paylater, dan pinjaman online membuat utang terasa sepele. Padahal, utang konsumtif untuk kebutuhan yang tidak mendesak bisa menjadi beban jangka panjang.

Jika tidak dikontrol, utang dapat menggerus penghasilan dan menghambat tujuan finansial di masa depan.

6. Tidak Mengenal Kondisi Keuangan Sendiri

Banyak orang tidak tahu secara pasti berapa pengeluaran bulanan, jumlah utang, atau tabungan yang dimiliki. Ketidaktahuan ini membuat sulit untuk mengambil keputusan finansial yang tepat.

Mengenal kondisi keuangan sendiri adalah langkah awal untuk mengelolanya dengan lebih bijak.

Kesalahan keuangan memang sering terjadi, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Semakin cepat seseorang menyadari dan mengubah kebiasaan finansialnya, semakin besar peluangnya untuk memiliki masa depan yang stabil dan aman.

(Flovian Aiko)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak