Lifestyle

Stop Tunggu Mood, Ini Lima Insight Disiplin Menulis dari J.S. Khairen

Stop Tunggu Mood, Ini Lima Insight Disiplin Menulis dari J.S. Khairen
Official Thumbnail tayangan podcast bertajuk “Keluh Kesah Penulis Buku” yang menghadirkan penulis J.S. Khairen bersama Raditya Dika di kanal YouTube Raditya Dika. (Youtube/Raditya Dika)

Menunggu inspirasi datang seringkali menjadi alasan utama seseorang menunda untuk mulai menulis. Gagasan mungkin sudah menumpuk di kepala, tetapi proses menulis tidak kunjung berjalan karena terlalu lama menunggu waktu luang, suasana yang tenang, atau mood yang dirasa pas. Padahal, sebuah kebiasaan kecil bisa menjadi langkah awal yang efektif untuk membangun rutinitas menulis yang konsisten.

Dalam podcast bertajuk “Keluh Kesah Penulis Buku” di kanal YouTube Raditya Dika yang tayang akhir Oktober 2026 lalu, penulis J.S. Khairen membagikan cerita seputar kebiasaan dan proses kreatifnya. Salah satu poin menarik yang ia bagikan adalah kebiasaannya untuk selalu membawa keyboard kecil saat bepergian, sehingga ia bisa langsung mengetik kapan pun ada kesempatan.

Dari obrolan santai tersebut, terdapat lima pelajaran penting yang bisa dipetik oleh para penulis pemula untuk membangun disiplin, mengasah keterampilan, dan menyelesaikan karya mereka.

1. Jangan Menunggu Mood untuk Menulis

J.S. Khairen membiasakan diri untuk menulis pada pagi hari, bahkan sejak pukul empat subuh. Ia juga sempat mendokumentasikan rutinitas tersebut melalui siaran langsung di TikTok, yang ditemani oleh suara ketikan keyboard hingga menjadi semacam ASMR bagi para penontonnya.

Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa aktivitas menulis sebenarnya dapat dibangun melalui jadwal yang konsisten. Sebagai penulis pemula, kita bisa memulainya dengan menyediakan waktu khusus sekitar 15 hingga 30 menit saja setiap hari. Durasi yang pendek ini tetap akan sangat berguna asalkan dilakukan secara rutin.

2. Selalu Siapkan Alat untuk Menangkap Ide

Keyboard kecil yang selalu dibawa oleh J.S. Khairen menunjukkan betapa pentingnya kesiapan dalam bekerja. Ide cerita sering kali muncul secara tidak terduga saat kita sedang bepergian, mengobrol, membaca, atau sekadar mengamati kejadian sederhana di sekitar.

Tentu tidak semua penulis harus membawa keyboard ke mana-mana. Memanfaatkan ponsel, aplikasi catatan digital, atau buku saku kecil sudah lebih dari cukup untuk menyimpan gagasan sebelum terlupakan. Kebiasaan mencatat ini sangat membantu penulis dalam mengumpulkan bahan yang kelak bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita utuh.

3. Terus Belajar meski Sudah Menerbitkan Buku

Pengalaman menerbitkan banyak buku tidak lantas membuat proses belajar seorang penulis terhenti. Dalam obrolannya bersama Raditya Dika, Khairen menceritakan bagaimana ia masih terus mempelajari karya-karya dari penulis lain, seperti Tere Liye, Boy Candra, dan Dewi Lestari.

Aktivitas membaca karya orang lain ini bisa menjadi sarana latihan yang baik untuk memahami cara membuka cerita, membangun emosi, serta menjaga perhatian pembaca. Kuncinya terletak pada kemampuan kita dalam mengamati teknik menulis mereka, lalu mengolahnya kembali menggunakan karakter dan gaya tulisan sendiri.

4. Menulis Cepat Tetap Membutuhkan Riset

Proses mengetik sebuah novel mungkin bisa berlangsung relatif singkat, tetapi persiapan di baliknya bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. J.S. Khairen menjelaskan bahwa proses riset dan pengembangan kerangka cerita seringkali membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang daripada proses pengetikan naskahnya itu sendiri.

Oleh karena itu, produktivitas menulis tidak bisa hanya diukur dari banyaknya halaman yang selesai setiap hari. Aktivitas seperti membaca, mengamati situasi, mengumpulkan informasi, membangun karakter, hingga merancang konflik juga merupakan bagian penting dari pekerjaan seorang penulis. Persiapan yang matang inilah yang nantinya membantu cerita terasa jauh lebih hidup dan meyakinkan bagi pembaca.

5. Mulai Cerita dari Konflik yang Menarik

Salah satu pelajaran teknis yang dibagikan oleh J.S. Khairen adalah pentingnya menghadirkan persoalan sejak awal cerita. Pembaca perlu segera menemukan sesuatu yang memicu rasa penasaran agar mereka tertarik untuk terus mengikuti perjalanan sang tokoh.

Sebaliknya, pembukaan yang terlalu panjang dan hanya berisi rutinitas atau deskripsi latar berisiko membuat cerita kehilangan momentum. Dalam bukunya yang berjudul “Dompet Ayah Sepatu Ibu”, Khairen langsung menghadirkan persoalan emosional yang kuat, sehingga membantu pembaca langsung terhubung dengan karakter di dalamnya. Penulis pemula bisa belajar dari teknik ini dengan cara menempatkan konflik lebih awal, lalu mengembangkan detail latar dan karakter secara bertahap seiring berjalannya cerita.

Disiplin menulis itu pada akhirnya bisa tumbuh dari kebiasaan sehari-hari yang konsisten dijalankan, bukan sekadar dari niat yang besar. Langkah-langkah konkret seperti menyediakan waktu khusus, rajin mencatat ide, membaca karya penulis lain, melakukan riset, hingga menyusun konflik yang matang adalah fondasi utama untuk berkembang sebagai penulis.

Ingatlah bahwa naskah pertama tidak harus langsung sempurna. Fokuslah untuk menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu, baru kemudian perbaiki kekurangannya melalui proses revisi. Sebab, kemampuan menulis akan terus berkembang seiring dengan kemauan kita untuk terus berlatih, membaca, dan membenahi karya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda