facebook

Menjadi Mahasiswa Baru dalam Kemelut Pandemi Covid-19

Ikasuyartiputri
Menjadi Mahasiswa Baru dalam Kemelut Pandemi Covid-19
Ilustrasi OSPEK (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Mengapa Ingin Menjadi Mahasiswa?

Agent of Change, itulah kalimat yang akan kita dengar jika membicarakan tentang mahasiswa. Yeah, banyak orang sudah tahu, mahasiswa adalah sosok yang dituntut untuk mampu menjawab tantangan globalisasi yang kian menanjak, mampu membawa perubahan yang positif bagi bangsa dan negara. Tak hanya itu, menjadi mahasiswa juga berpotensi dapat membuka peluang karier yang lebih luas dan bergengsi. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah sesuatu yang keren. Karena itulah status mahasiswa menjadi salah satu impian yang ingin diraih oleh hampir semua orang di negeri ini. 

Sayangnya, tidak semua orang bisa menyandang status tersebut dengan mudah karena beberapa faktor. Entah karena faktor ekonomi, faktor lingkungan sosial masyarakat, faktor keluarga, dan masih banyak lagi faktor lainnya. Tak dapat dimungkiri, faktor-faktor inilah yang membuat seseorang kehilangan minat dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Harapan Jika Dinyatakan Sah sebagai Mahasiswa

Bagi orang-orang yang beruntung karena keadaan yang mendukung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, umumnya mereka tidak merasa takut untuk menaruh ekspektasi besar terhadap hiruk pikuk kehidupan kampus.

Banyak harapan yang terlontar dari mulut-mulut calon mahasiswa baru. Hal-hal manusiawi dan sudah tidak asing lagi di telinga kita, yang diharapkan bisa terealisasi saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa baru. Hal-hal seperti bisa bertemu dan mengenal orang-orang baru secara langsung, mendapatkan rekan-rekan baru yang dewasa dan solid, merasakan sensasi wira-wiri di lingkungan kampus dengan memakai baju kasual, menambah skill dan relasi dengan menjajal organisasi-organisasi kampus yang menantang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sebenarnya harapan-harapan seperti ini dipandang sangat wajar, asalkan tidak menjadikan kuliah sebagai semata-mata pelarian.

Realitanya di Masa Pandemi Covid-19

Pada faktanya, tidak semua harapan yang telah disimpan sejak jauh-jauh hari oleh para mahasiswa baru kini dapat direalisasikan dengan utuh. Beberapa harapan skala kecil terpaksa harus ditarik dan dipendam dalam-dalam untuk sementara waktu. Covid-19 yang tengah mewabah di Indonesia saat ini seolah meluluhlantakkan terealisasinya harapan-harapan tersebut. 

Sebab, sebagaimana kebijakan dan arahan yang dikeluarkan oleh Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Nadiem Anwar Makarim, melalui SE (Surat Edaran) Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 pada tanggal 17 Maret 2020 perihal Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19), membuat aktivitas pendidikan seperti pembelajaran dan penyelenggaraan acara yang mengundang banyak peserta terpaksa dialihkan ke dalam media daring atau online. Terutama aktivitas di perguruan tinggi.

Hal ini disusul dengan pernyataan resmi yang dipaparkan Nadiem, “Karena keselamatan adalah yang nomor satu, saat ini semua perguruan tinggi masih melakukan (aktivitas pembelajaran) secara online sampai ke depannya mungkin kebijakan berubah. Tapi untuk saat ini belum berubah, jadi masih melakukan (aktivitas pembelajaran) secara daring,” dalam Keterangan Pers terkait Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19, Senin (15/06).

Jadi mau tidak mau, mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021 ini harus melalui kegiatan masa orientasi atau pengenalan kehidupan kampus seperti PKKMB, OSPEK, atau PBAK hingga kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan media daring seperti Zoom, YouTube, Google Meet, Microsoft Teams, atau media lain yang relevan. Ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah bagi mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan masa orientasi dan pembelajaran secara daring atau online.

Tak ayal, keadaan tersebut membuat tak sedikit mahasiswa baru yang mengeluh. Mereka kecewa karena tidak pernah merasakan sensasi menginjakkan kaki di lantai kampus dan menatap wajah-wajah baru secara langsung untuk pertama kalinya pada awal semester satu.

Tak hanya itu, perkuliahan daring juga menuntut mahasiswa baik itu mahasiswa baru maupun mahasiswa senior untuk memiliki media penunjang pembelajaran yang lengkap dan sinyal yang kuat. Sebab, dua hal inilah yang dapat mengoptimalkan aktivitas pembelajaran daring. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa berada dalam situasi dan kondisi yang sama serta memungkinkan untuk mengikuti pembelajaran dengan maksimal. 

Dalam sebuah perguruan tinggi umumnya terdaftar ratusan hingga ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda kota, provinsi, bahkan berbeda pulau dengan jangkauan kualitas jaringan yang berbeda-beda pula. Ada banyak sekali mahasiswa yang berasal dari daerah pelosok yang umumnya belum mendapatkan jangkauan sinyal yang memadai. Kondisi ini memaksa mereka untuk mencari daerah dengan deteksi sinyal yang kuat supaya tetap dapat mengikuti aktivitas pembelajaran.

Ada lagi, banyak mahasiswa baru yang tak jarang menemui kesulitan dalam menggali dan mengenali karakter dosen yang mengajar di kelas virtualnya, hal ini pun berdampak pada komunikasi yang mereka jalin bersama. Umumnya adalah terjadi kasus salah tangkap informasi atau miskomunikasi antara mahasiswa dengan dosen yang bersangkutan hingga membuat keduanya menaruh pandangan yang negatif terhadap satu sama lain. Ini bisa berdampak pada sistem penilaian yang diberikan dosen kepada mahasiswa terkait, sehingga dapat mempengaruhi kelulusan mata kuliah yang diajarkan.

Bagaimana Seharusnya Mahasiswa Baru Menyikapi Kondisi Ini?

Mahasiswa baru angkatan 2020/2021 memang akan merasa sangat asing dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa beradaptasi dengan aktivitas perkuliahan daring, dibandingkan dengan keadaan pada waktu normal. Mental yang dimiliki mahasiswa baru memang belum sepenuhnya terlatih. Ini adalah masa peralihan yang berat bagi mereka menuju manusia yang lebih dewasa. Sebab, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang baru saja tamat dari sekolah menengah (SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat). Di sinilah peran kakak tingkat dibutuhkan. 

Sebagai senior yang baik, jangan menunjukkan diri seolah-olah yang paling berkuasa. Kakak tingkat (kating) memiliki kewajiban untuk membimbing, mengakrabkan diri, dan bersedia ditanya-tanya oleh para juniornya dalam rangka menunjang proses adaptasi lingkungan dan kehidupan baru perkuliahannya.

Sebaliknya, tidak semata-mata berani mengakrabkan diri dengan teman seangkatan saja, mahasiswa baru juga harus memiliki keberanian untuk mengenal dekat dan mengakrabkan diri dengan kakak tingkat mereka, terutama yang masih satu prodi atau jurusan. Meski hanya saling kenal dan berkomunikasi via online untuk sementara waktu, itu tidak menjadi masalah. Kedekatan yang mereka jalin harus menjadi prioritas.

Menurut pandangan saya, ada banyak alasan mengapa mahasiswa baru harus dekat dengan kakak tingkat (kating) yang masih satu jurusan. Pertama, mahasiswa baru dapat memiliki gambaran yang jelas mengenai jurusan mereka, apa saja mata kuliahnya, apa saja peminatannya, dan apa organisasi internalnya.

Kedua, mahasiswa baru dapat memiliki informasi mengenai dosen-dosen yang mungkin akan mengajar di kelas mereka, bagaimana karakter dosen tersebut, bagaimana gaya mengajarnya, dan apa saja peraturan yang ditetapkannya.

Dengan mengetahui seluk-beluk dosen yang mengajar di jurusan, mahasiswa baru dapat mempersiapkan dirinya untuk menghadapi dosen-dosen tersebut sehingga dapat meminimalisir terjadinya miskomunikasi dan ketegangan di antara mereka meskipun kegiatan pembelajaran dilakukan tanpa tatap muka.

Terakhir, mahasiswa baru dapat memperoleh relasi yang sehat dan berpeluang menjadi partner yang solid bagi kakak tingkat dalam menyelesaikan proyek skala besar seperti PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) di masa mendatang.

Mahasiswa baru, biar bagaimanapun sulitnya hal-hal yang harus kalian lalui di tengah kemelut pandemi Covid-19 ini, jangan risau. Ini hanya sementara. Berjuanglah, terlalu banyak mengeluh bukan solusi yang tepat di situasi seperti saat ini. Perlu kalian tanamkan dalam diri, kuliah memang berat, baik itu dijalani secara online maupun offline.

Tidak ada yang istimewa kecuali kalian mau berusaha. Karena menjadi mahasiswa berarti harus siap menghadapi kerasnya dunia menuju proses dewasa. Jadilah mahasiswa yang cerdas, bijak, dan beretika. Ini penting mengingat mahasiswa adalah agen perubahan untuk masa depan bangsa dan negara yang lebih baik.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir, sehingga kita bisa menjalani aktivitas perkuliahan dengan normal kembali.

Oleh: Ika Suyarti Putri / Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Madiun.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak