Stop Paksa Bahagia! Inilah Bahaya Tersembunyi dari 'Toxic Positivity' yang Wajib Kamu Tahu

M. Reza Sulaiman
Stop Paksa Bahagia! Inilah Bahaya Tersembunyi dari 'Toxic Positivity' yang Wajib Kamu Tahu
Ilustrasi Toxic Positivity (Freepik.com)

Ada kalanya, kalimat seperti, “Kamu pasti bisa,” atau, “Pikirin yang positif aja, ya,” lebih terdengar seperti sebuah tuntutan daripada dukungan. Kita ingin didengar, tapi malah diberi motivasi instan. Kita butuh ruang untuk merasa marah, tapi justru diminta untuk segera kuat.

Di tengah budaya yang memuja kebahagiaan, muncul satu fenomena yang diam-diam bisa mengikis kesehatan mental kita, yaitu toxic positivity. Sebuah sikap yang terlihat cerah di permukaan, tetapi menyembunyikan tekanan emosional yang besar di baliknya.

Jadi, Apa Sebenarnya 'Toxic Positivity' Itu?

Toxic positivity bukan tentang "berpikir positif", melainkan tentang memaksakan diri atau orang lain untuk selalu terlihat bahagia, apa pun situasinya. Emosi-emosi negatif dianggap sebagai sesuatu yang harus disingkirkan, padahal justru itu adalah bagian yang sangat alami dari hidup.

Ketika seseorang sedang menjalani hari yang berat lalu dipaksa untuk tetap "semangat", perasaan sedih yang seharusnya diproses justru jadi tertahan. Sikap seperti ini seolah-olah membuat kita jadi tidak boleh lemah, tidak boleh kecewa, dan tidak boleh menunjukkan sisi kita yang rapuh. Lama-kelamaan, tekanan tersebut akan menumpuk. Orang akan mulai merasa bersalah hanya karena memiliki emosi negatif.

'Aku Gak Papa Kok' dan Tanda-tanda Lainnya

Fenomena ini sering muncul dalam bentuk yang sangat halus.

Menutup-nutupi Perasaan: Banyak orang yang lebih memilih untuk bilang, “Aku baik-baik saja,” meskipun sebenarnya sedang kelelahan secara mental.

Nasihat Serba Positif yang Gak Nyambung: Seperti saat ada teman yang baru kehilangan pekerjaan, lalu kita bilang, “Lihat sisi baiknya, mungkin ini kesempatan baru.”

Menolak Membicarakan Hal-hal yang 'Berat': Semua yang negatif dianggap bisa "mengganggu energi". Tanpa sadar, kita sedang menutup ruang bagi diri sendiri dan orang lain untuk bisa mengenali emosi secara lebih jujur.

Dampaknya Gak Ringan, Bisa Bikin Makin 'Ancur'

Mengabaikan emosi negatif bukan akan membuat hidup jadi lebih ringan, tetapi justru bisa memperparah tekanan batin. Perasaan yang terus-menerus dipendam dapat memicu stres yang berkepanjangan, kecemasan, hingga gangguan tidur.

Kondisi ini juga bisa membuat seseorang merasa sangat sendirian. Mereka mungkin dikelilingi oleh banyak orang, tetapi tidak merasa benar-benar dipahami, karena siapa pun yang mencoba untuk jujur tentang perasaannya malah "ditenangkan" dengan cara yang salah.

Gimana Cara Melawannya? Izinkan Dirimu untuk 'Gak Baik-baik Aja'

Melawan toxic positivity bukan berarti kita harus menjadi pesimis. Justru, ini adalah tentang menerima bahwa manusia memang punya seluruh spektrum emosi. Sedih, marah, dan kecewa—semuanya sah dan perlu untuk diakui. Memberikan ruang pada emosi-emosi negatif ini akan membantu kita untuk lebih memahami diri, memproses situasi, dan keluar dari masalah dengan cara yang lebih sehat.

Saat ada orang lain yang curhat, cobalah untuk mendengarkan terlebih dahulu. Tahan keinginan untuk memberikan motivasi yang cepat. Tawarkan empati, bukan solusi instan. Terkadang, seseorang tidak butuh untuk dikuatkan, mereka hanya butuh untuk ditemani.

Kebahagiaan itu penting, tetapi tidak harus dipaksakan. Ada hari yang cerah, ada hari yang berat, dan keduanya sama-sama valid.

(Flovian Aiko)

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak