Bukan Drama, Ini 5 Respons Penyintas Trauma yang Sering Disalahpahami

M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Bukan Drama, Ini 5 Respons Penyintas Trauma yang Sering Disalahpahami
ilustrasi penyitas trauma (Pexels/cottonbro studio)

Tidak semua orang merespons dunia dengan cara yang umum. Bagi sebagian penyintas trauma, cara berbicara, bersikap, atau mengambil keputusan sering kali terbentuk dari pengalaman emosional yang tidak mudah.

Sayangnya, respons ini kerap disalahartikan sebagai "berlebihan", dianggap "ribet", "terlalu sensitif", atau bahkan "drama".

Padahal, banyak dari sikap tersebut bukanlah soal ingin merepotkan orang lain, melainkan bentuk mekanisme pertahanan diri (coping mechanism).

Berikut ini adalah beberapa respons bertahan hidup dari penyintas trauma yang sering membuat orang lain salah paham, padahal sebenarnya sangat masuk akal jika dilihat dari sudut pandang empati.

1. Menyebut Hal-hal Kecil yang Dianggap “Tidak Perlu Dibahas”

Penyintas trauma sering kali menyebut detail kecil yang bagi orang lain terasa sepele. Misalnya, soal nada bicara, pilihan kata, atau perubahan sikap yang terlihat ringan. Bukan karena mereka ingin memperbesar masalah, tetapi karena otak trauma terbiasa memindai tanda bahaya sekecil apa pun.

Pengalaman masa lalu mengajarkan bahwa hal kecil sering menjadi awal dari konflik besar, manipulasi, atau penolakan. Bagi penyintas trauma, membahas hal kecil menjadi cara untuk memastikan situasi aman, mencegah kesalahpahaman sejak awal, dan menjaga kontrol emosional.

2. Mengklarifikasi Niat Sebelum Terjadi Salah Paham

Kalimat seperti, “Aku tidak bermaksud menyalahkan, ya, hanya mau menjelaskan,” atau, “Ini bukan menyerang, hanya mau jujur,” sering keluar dari mulut penyintas trauma. Bagi orang lain, mungkin terdengar berlebihan, tetapi bagi mereka, klarifikasi adalah bentuk perlindungan diri.

Mereka pernah berada di situasi di mana niat baiknya dipelintir, disalahartikan, atau digunakan untuk menyerang balik. Dengan mengklarifikasi sejak awal, mereka berharap pembicaraan tetap aman dan konflik tidak melebar.

3. Mengatakan Hal Sulit Lebih Awal, Meskipun Terasa Canggung

Sebagian penyintas trauma memilih untuk menyampaikan hal yang tidak nyaman sejak awal, meskipun terasa kaku atau terlalu serius. Misalnya, membahas batasan, ekspektasi, atau potensi konflik di awal sebuah hubungan.

Bagi penyintas trauma, pengalaman masa lalu mengajarkan mereka bahwa menunda pembicaraan yang sulit justru akan memperbesar luka. Mengatakan hal berat lebih awal dianggap lebih aman daripada memendamnya sampai meledak.

4. Menjelaskan Sesuatu Terlalu Detail

Penyintas trauma sering menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar, penuh konteks, bahkan berulang. Tujuannya bukan untuk mendominasi pembicaraan, melainkan agar dipahami secara utuh.

Biasanya, perilaku ini muncul karena pengalaman pernah tidak dipercaya, disalahpahami, atau ceritanya dipotong.

Detail menjadi cara untuk melindungi makna dari ucapannya dan memastikan tidak ada celah untuk salah tafsir. Sayangnya, ini sering dicap sebagai overexplaining atau “terlalu banyak alasan”.

5. Memilih Jujur daripada Sekadar Nyaman

Banyak penyintas trauma lebih memilih kejujuran, meskipun berisiko membuat suasana tidak nyaman. Mereka tidak tahan dengan kepalsuan, basa-basi yang menutupi masalah, atau hubungan yang terlihat baik tetapi penuh ganjalan.

Kejujuran menjadi bentuk integritas sekaligus cara bertahan agar tidak memendam emosi. Sikap ini sering dicap terlalu frontal atau kurang fleksibel. Padahal, bagi penyintas, ketidakjujuran jauh lebih melelahkan secara emosional dibandingkan ketidaknyamanan sesaat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak