Melihat Upaya Pemulihan Jalan Lembah Anai, Jaga Konektivitas Stabilitas Pangan

Bimo Aria Fundrika | Nita Lana Faera
Melihat Upaya Pemulihan Jalan Lembah Anai, Jaga Konektivitas Stabilitas Pangan
Sejumlah alat berat dikerahkan untuk proses pemulihan pascabencana di kawasan Lembah Anai, Sumatra Barat. (Dok.Istimewa)

Uni Lis berbisik pelan di sebelah saya. Hari itu, ia sebenarnya berencana memasak udang goreng balado untuk anggota keluarga. Namun, niat itu akhirnya ia urungkan setelah mendengar kabar harga cabai merah, bumbu dapur, serta sayuran lainnya yang sedang melonjak. Uang belanja yang diberikan suami tentu harus mencukupi semua kebutuhan hari itu, sementara untuk membeli cabai dan bawang saja, biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar.

Walhasil, akhirnya ia mengambil lima butir telur. Walau telur saat ini sudah tidak bisa lagi disebut sebagai pangan murah, namun setidaknya masih jauh lebih terjangkau dibandingkan udang.

Pagi itu, di penghujung November 2025, hujan masih teramat deras mengguyur Kota Padang dan di seluruh wilayah Sumatra Barat. Namun demi memenuhi kebutuhan meja makan keluarga, di tengah derasnya hujan, kami tetap melangkahkan kaki menuju kedai sayur.

Seperti rutinitas biasanya, kami sudah berkumpul di depan kedai Bu Ica bahkan sebelum pintu dibuka. Sekitar pukul sembilan pagi, Bu Ica yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Namun kali itu, ia hanya membawa sedikit belanjaan. Bahkan satu becak motor pun tidak penuh, sangat berbeda dari biasanya di mana ia harus menyewa dua becak motor sekaligus.

Kepada kami yang berkumpul, Bu Ica mengabarkan bahwa ia tidak bisa berbelanja sebanyak biasanya. Akses jalan di kawasan Lembah Anai yang luluh lantak diterjang tanah longsor dan banjir bandang, membuat mobil pemasok sayur tidak bisa melintas. Kalaupun mencari jalan alternatif, biaya BBM tentu akan membengkak drastis karena rute yang jauh lebih panjang. Akibatnya, harga pangan di pasar pun melonjak tak terkendali.

Lembah Anai: Antara Pesona dan Jantung Logistik Sumatra Barat

Ilustrasi Pesona Lembah Anai
Ilustrasi Pesona Lembah Anai

Kawasan Lembah Anai merupakan bagian dari cagar alam yang memesona di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang. Di jantung lembah ini membentang Jalan Nasional Padang-Bukittinggi, sebuah jalur vital yang membelah rimbunnya hutan tropis. 

Bagi kami yang berangkat dari arah Kota Padang, saat memasuki jalur nasional ini, akan menjumpai gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Tanah Datar.”

Saat kendaraan melaju di jalan lintas ini, sisi kiri jalan raya menyuguhkan kemegahan Air Terjun Anai yang menyiramkan kesegaran, sementara di sisi kanan mengalir Sungai Batang Anai yang meliuk jernih.

Perjalanan di lembah ini pun mencapai puncaknya saat kita melewati Jembatan Kembar SIlaiang, sebuah mahakarya infrastruktur yang berdiri kokoh sebagai gerbang keluar-masuk menuju Kota Padang Panjang. Jembatan ini bukan hanya penghubung fisik, melainkan juga sebagai simbol kekuatan akses bagi wilayah dataran tinggi.

Namun, jalan nasional dan jembatan ini bukan sekadar jalur wisata atau rute pulang kampung saja. Keduanya ini merupakan jantung pangan bagi warga. Alam Sumatra Barat terbagi menjadi dua wilayah, yaitu dataran tinggi dan pesisir pantai. Wilayah dataran tinggi menyuplai berbagai jenis sayuran, bumbu rempah, serta buah-buahan segar, sedangkan wilayah pesisir menyumbangkan hasil laut yang melimpah. 

Melalui aspal Jalan Nasional Padang-Bukittinggi inilah, "pertukaran pangan" itu dilakukan. Selain kebutuhan pangan, melalui jalan ini pula distribusi BBM dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga di dataran tinggi. Jalur ini merupakan jantung logistik yang memastikan kehidupan masyarakat di kedua wilayah tetap berjalan.

Longsor dan "Galodo" di Kawasan Lembah Anai: Putusnya Jalur Akses Pangan

Ilustrasi Sungai Batang Anai yang Hampir Meluap Ke Jalan
Ilustrasi Sungai Batang Anai yang Hampir Meluap Ke Jalan

Sejak 21 November 2025, langit sungguh enggan menampakkan cerahnya. Hujan mengguyur Sumatra Barat sehari semalam tanpa henti. Kecemasan mulai menyelinap saat satu per satu berita tentang luapan sungai di berbagai titik mulai bermunculan. Kabar tentang genangan air yang merendam permukiman dan luapan air sungai yang mulai mendekati badan jalan menjadi pembicaraan hangat di antara warga, mengingat mungkin ada sanak saudara atau teman-teman yang bermukim di wilayah tersebut.

Hingga pada Kamis, 27 November 2025, kabar duka itu terus bertambah: kawasan Lembah Anai dihantam tanah longsor sekaligus “galodo” atau banjir bandang. Tebing-tebing tinggi yang memagari Lembah Anai tak kuasa menahan kikisan air. Tanah longsor dan pohon tumbang menutup akses jalan secara total.

Kondisi ini diperparah dengan amukan Sungai Batang Anai. Sejak dari Jembatan Kembar Silaiang di gerbang Kota Padang Panjang, luapan air yang membawa material kayu dan batu menghantam apa saja yang dilewatinya. Serbuan lumpur dan material pepohonan menyebabkan amblasnya Jalan Nasional KM 53+500 sepanjang 150 meter, dengan kedalaman 6 hingga 7 meter dari permukaan sungai.

Saat ruas jalan nasional yang menjadi penghubung utama itu lumpuh, maka lumpuh pula aliran napas ekonomi kedua wilayah. Bahkan Jalan Provinsi Padang-Malalak-Bukittinggi yang menjadi jalur alternatif pun juga sempat tidak dapat dilintasi akibat longsor. Kebutuhan pangan dan BBM seketika langka, dan kelangkaan tersebut mencekik harga. Beban ini terasa sangat berat bagi mereka yang ekonominya terbatas, termasuk bagi sebagian dari kami para pelanggan setia di kedai sayur Bu Ica.

Pemulihan Jalan Nasional Padang-Bukittinggi: Sistem Buka Tutup Jalan

Pemulihan Kawasan Lembah Anai Pascagalodo
Pemulihan Kawasan Lembah Anai Pascagalodo

Setelah hujan mereda pada 28 November 2025, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat segera melakukan pemulihan pascabencana di ruas Jalan Nasional Padang–Bukittinggi yang terdampak banjir dan tanah longsor. Material longsoran berupa tanah dari tebing, lumpur akibat galodo, serta pepohonan yang menutup badan jalan langsung dibersihkan untuk memulihkan akses dan kelancaran lalu lintas.

Tim pekerja juga melakukan pengalihan alur Sungai Batang Anai yang sempat bergeser mendekati badan jalan, demi melindungi sisa konstruksi yang ada, termasuk memastikan fondasi jembatan dan struktur penyangga di sepanjang jalur ini tetap stabil.

Pemerintah menyatakan bahwa pemulihan konektivitas jalan nasional ini menjadi prioritas utama pascabencana di Sumatra Barat. Mengingat fungsinya sebagai jantung pergerakan masyarakat dan distribusi logistik, akses ini diupayakan kembali fungsional secepat mungkin. Sebanyak 26 unit alat berat diturunkan agar jalur ini dapat dimanfaatkan secara fungsional, paling lambat pada 16 Desember 2025.

Proses pemulihan dilakukan secara bertahap demi keamanan pengendara. Pada awalnya, jalan hanya dibuka untuk kendaraan roda dua. Menjelang 16 Desember 2025, kendaraan roda empat pun mulai diizinkan melintas secara terbatas, melalui sistem buka-tutup yang diatur ketat oleh petugas di lapangan. 

Pengaturan ini sangat penting, untuk memastikan keselamatan pengguna jalan di tengah proses pembersihan sisa material yang masih berlangsung. Selain jalur nasional, pemerintah juga turut mempercepat pemulihan Jalan Provinsi Padang-Malalak-Bukittinggi sebagai jalur alternatif.

Bencana hidrometeorologi ekstrem ini memang memberikan dampak luas di belasan kota dan kabupaten di Sumatra Barat. Walau pemulihan beberapa infrastruktur yang rusak parah memerlukan proses yang tidak sebentar, kami berharap Ranah Minang perlahan kembali pulih sepenuhnya. Begitu pun dengan saudara kami di Aceh dan Sumatra Utara. Salam hangat dari Padang!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak