Aceh dan Bencana: Ketangguhan di Tanah Serambi Mekkah

Bimo Aria Fundrika | Pida Alandrian
Aceh dan Bencana: Ketangguhan di Tanah Serambi Mekkah
Pembangunan kembali Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, oleh Bina Marga (IDok. Ist)

Anak : “Mak, kenapa kakak harus pindah sekolah?”

Ibu : “Nggak papa, kan biar kakak lebih dekat sekolahnya dengan rumah. Jadi kakak nggak harus naik RBT (sebutan ojek di Aceh) terus atau harus tunggu di antar dan dijemput dulu kan?”

Anak : “Apa karena lagi ada suara tembak?”

Si Ibu pun terdiam dengan celetukan sang anak yang tidak disangka akan keluar dari mulut si kecilnya.

Sebuah ingatan yang mungkin akan sulit hilang. Kehidupan masa Sekolah Dasar (SD) yang banyak mengajarkanku banyak hal tentang seperti apa Provinsi Aceh yang menjadi tempat lahirku yang sebenarnya. 

Ketika anak-anak di daerah lain bisa bermain dengan teman-temannya dengan bebas, kami anak-anak Aceh pada masa itu harus mendekam di dalam rumah yang sewaktu-waktu peluru pun bisa menembus dinding rumah kami.

Yang sebenarnya pada masa itu tempat dimana pun di Aceh tidak ada yang aman. Hanya keyakinan kami kepada Sang Pencita lah yang bisa menyelamatkan kami hingga sekarang dan kami bisa menceritakan kembali sejarah kelam yang tersimpan rapi kepada generasi selanjutnya..

Apakah cerita suram kami di Aceh hanya sampai di masa konflik itu saja??

Tentu saja tidak. 

Kalau ada yang bertanya apa yang terlintas pertama kali ketika mendengar kata Aceh, mungkin orang-orang akan menjawab “syariat islamnya”. Namun yang terlintas dibenakku adalah konflik dan bencananya.

Miris? SANGAT. Tapi itulah fakta.

Aceh bukan sekadar titik di ujung barat Indonesia. Ia adalah ruang panjang yang dipenuhi ingatan, doa, luka, dan keteguhan. Di tanah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini, sejarah berjalan beriringan dengan ujian. Konflik, bencana alam, dan perubahan zaman datang silih berganti. Namun, satu hal yang tak pernah benar-benar runtuh adalah daya bertahan masyarakat Aceh.

Di balik berita duka dan angka statistik korban yang terus bertambah, Aceh menyimpan cerita tentang manusia - tentang bagaimana sebuah daerah berkali-kali jatuh, namun selalu menemukan cara untuk bangkit.

Aceh, Lebih dari Sekadar Sejarah dan Luka Masa Lalu

Aceh, Lebih dari Sekadar Sejarah dan Luka Masa Lalu
Aceh, Lebih dari Sekadar Sejarah dan Luka Masa Lalu

Sebelum dunia mengenal Aceh lewat tsunami 2004, Aceh lebih dulu dikenal sebagai wilayah konflik yang berkepanjangan. Selama puluhan tahun, masyarakat Aceh hidup dalam situasi yang serba tidak pasti. Kebisingan yang berasal dari suara senjata, ketegangan, dan ketakutan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi sebagian generasi Aceh, masa konflik bukanlah catatan sejarah di buku pelajaran, melainkan kenangan hidup yang membekas. Anak-anak tumbuh dengan kewaspadaan, orang tua belajar bertahan dalam sunyi, dan masyarakat dipaksa kuat bahkan ketika mereka tidak punya pilihan.

Namun, dibalik semua tragedi yang terjadi, konflik tidak mematikan jati diri Aceh. Justru dari sanalah terbentuk karakter masyarakat yang tegar, religius, dan sangat menjunjung solidaritas. Perdamaian yang lahir kemudian bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan harapan kolektif untuk hidup lebih manusiawi.

Aceh belajar bahwa luka tidak selalu harus disembunyikan - dari luka bisa menjadi sumber kekuatan.

Aceh dan Bencana Alam: Ujian yang Menempa Ketangguhan

Bencana Aceh
Bencana Aceh

Tanggal 26 Desember 2004 menjadi garis pemisah dalam sejarah Aceh. Tsunami datang tanpa aba-aba, meluluhlantakkan pesisir, merenggut ratusan ribu nyawa, dan mengubah wajah Aceh selamanya. Dalam hitungan menit, rumah menjadi puing, keluarga terpisah, dan masa depan terasa runtuh.

Dunia melihat Aceh sebagai wilayah yang porak-poranda. Namun di tengah kehancuran itulah, muncul pemandangan yang tak kalah kuat dari gelombang tsunami: keteguhan manusia Aceh.

Para penyintas bangkit dari reruntuhan dengan kehilangan yang tak terbayangkan. Mereka membangun kembali rumah, menyusun ulang hidup, dan belajar berdamai dengan trauma. Tsunami tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga pelajaran tentang makna kebersamaan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Aceh tidak menolak rasa sakit—Aceh mengubahnya menjadi kekuatan.

Di Balik Bencana, Ada Aceh yang Terus Bertahan

Jembatan Krueng Tingkeum
Jembatan Krueng Tingkeum

Tsunami bukan akhir dari ujian. Hingga hari ini, Aceh masih berhadapan dengan banjir tahunan, longsor, gempa bumi, dan cuaca ekstrem. Setiap musim hujan, sebagian wilayah kembali waspada. Setiap getaran bumi, ingatan lama ikut bergetar.

Kalau kamu memilih destinasi liburan akhir tahunmu di Aceh, maka kamu akan melihat cuaca ekstrim dengan curah hujan langganan di setiap bulan November dan Desember. Di beberapa titik lokasi banjir yang datang setiap tahunnya seakan masyarakat Aceh sudah biasa dan mereka tidak akan terkejut lagi.

Namun berbeda dengan bencana di akhir tahun 2025, masyarakat terkejut dan trauma kembali. Bukan hanya Aceh, tagar-tagar #BanjirSumatera mulai ramai, ditambah dengan padamnya lampu. Seakan mereka diingatkan kembali dengan Tsunami di tahun 2004 silam. Hanya yang berbeda di tahun ini kayu-kayu gelondonganlah yang meluluhlantakkan rumah yang selama ini menjadi tempat mereka pulang dan berteduh dan berkumpul bersama keluarga hingga hilang tidak bersisa.

Dari update data terbaru untuk Aceh 514 jiwa meninggal hingga 377,9 ribu jiwa masih ditempat pengungsian karena sebagian rumah penduduk yang masih berlumpur dan ada yang hilang, hancur terbawa arus tanpa sisa.

Berawal dari hujan yang mulai mengguyur Aceh, di Aceh Timur sendiri hujan mulai turun dari Jum’at, 21 hingga 25 November 2025 tanpa henti disertai angin kencang. Puncaknya 26 November 2025 sore, tiba-tiba arus air tinggi ntah datang dari mana, mengejutkan semua orang yang berada di dataran tinggi hingga tidak sempat menyelematkan barang-barang penting lainnya kecuali yang ada di badan.

Belum cukup dengan bencana alam yang datang tiba-tiba, Lampu mati karena tower-tower yang roboh karena dihantam banjir mengakibatkan semua akses internet ikutan putus. Aceh seakan mencekam. Jauh dari dunia luar. Ingin mengabari sanak saudara tidak bisa, masyarakat mulai linglung dengan keadaan. 

Bahkan ada dari mereka yang harus kembali kehilangan keluarga yang tidak sempat mereka tolong, karena arus air yang tiba-tiba datang dengan ketinggian yang tidak biasanya.

Mereka mengeluh? Awalnya.

Namun setelahnya mereka sadar, jika mereka terus mengeluh, siapa yang akan membereskan kekacauan ini jika bukan diri mereka sendiri?

Selagi menunggu bantuan dari Pemerintah dan siapa saja, Mereka bangkit. Masyarakat bangkit. Korban bantu korban. 

Seakan hidup di Aceh masyarakatnya sudah diasah untuk tanggap bencana alam.

Namun yang menarik dari setiap bencana alam yang terjadi, masyarakat Aceh tidak pernah sepenuhnya larut dalam ketakutan. Mereka terbiasa hidup berdampingan dengan risiko. Ketika bencana datang, solidaritas bergerak lebih cepat daripada bantuan.

Warga saling membuka pintu rumah, dapur umum berdiri dari inisiatif masyarakat, dan gotong royong kembali menjadi kekuatan utama. Akses jalan yang dibersihkan, jembatan putus dicarikan solusi bersama agar aktivitas warga tetap berjalan.

Yang paling berdampak tentu saja jembatan putus di daerah Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang yang menjadi lalu lintas utama di Kabupaten Biruen. Untuk menginisiasi lalu lintas tetap berjalan normal, pasca banjir arus kendaraan dialihkan sementara ke daerah Awe Getah yang sudah dibangun jembatan panel darurat agar mobilitas masyarakat tetap berjalan semestinya.

Berkat bantuan dari Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU dan tim perlahan kini jembatan Krueng Tingkeum sudah mulai bisa diakses kembali. Jembatan darurat yang menggantikan jembatan lama tentu sangat diharapkan dapat mempercepat pemulihan akses yang sempat terputus.

Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, yang sempat putus total selama sebulan kembali beroperasi [Suara.com/Kementerian PU]
Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, yang sempat putus total selama sebulan kembali beroperasi [Suara.com/Kementerian PU]

Di Aceh, bertahan hidup bukan hanya soal individu - ia adalah urusan bersama. Bencana mungkin berulang, tetapi semangat untuk saling menjaga tidak pernah padam.

Aceh dan Kearifan Lokal yang Menjaga Jati Diri

Ketangguhan Aceh tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari nilai-nilai lokal yang dijaga turun-temurun. Adat, agama, dan kebersamaan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi setiap ujian.

Kearifan lokal Aceh mengajarkan pentingnya musyawarah, kepedulian terhadap sesama, dan hubungan harmonis dengan alam. Dalam banyak komunitas, tanda-tanda alam masih dibaca, nasihat orang tua masih didengar, dan nilai agama menjadi pegangan utama ketika keadaan sulit.

“Punya tanah kosong di halaman rumah, tanamlah sayur-sayuran. Jadi ketika ada bencana dan musibah yang datang kita nggak perlu rebut-rebutan di pasar karena stok yang menipis.”

Salah satu cuitan orang tua kampung ketika melihat efek #pascabencana, masyarakat jadi panic buying, harga sembako mahal, BBM antri panjang.

Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, masyarakat Aceh tetap berusaha menjaga jati diri. Mereka percaya bahwa kehilangan identitas sama berbahayanya dengan kehilangan rumah akibat bencana.

Kearifan lokal bukan nostalgia—ia adalah strategi bertahan.

Aceh, Rumah yang Tak Pernah Kehilangan Harapan

Aceh, Rumah yang Tak Pernah Kehilangan Harapan
Aceh, Rumah yang Tak Pernah Kehilangan Harapan

Aceh adalah rumah bagi jutaan cerita tentang kehilangan dan harapan. Ia adalah tempat di mana luka tidak disangkal, tetapi dirawat bersama. Di setiap azan yang berkumandang, di setiap doa yang dipanjatkan setelah bencana, selalu ada keyakinan bahwa hidup harus terus berjalan.

Anak-anak Aceh hari ini tumbuh dengan cerita masa lalu, bukan untuk menakuti, melainkan untuk menguatkan. Mereka diajarkan bahwa tanah ini pernah jatuh sangat dalam, namun selalu mampu bangkit.

Aceh mungkin dikenal sebagai daerah rawan bencana. Tetapi lebih dari itu, Aceh adalah simbol ketangguhan manusia - tentang bagaimana iman, solidaritas, dan harapan mampu berdiri lebih kokoh daripada gelombang apa pun.

Karena bagi Aceh, bencana bukanlah akhir dari sebuah cerita. Bencana hanyalah satu bab dalam perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih kuat.

Semoga semuanya lekas membaik kembali Aceh lon sayang ‘-’

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak