Ini Dia Upaya Pemerintah Atasi Bencana Pulau Sumatra

Bimo Aria Fundrika | Firsty Molyndi
Ini Dia Upaya Pemerintah Atasi Bencana Pulau Sumatra
Akses Jembatan Krueng Tamiang Kembali Dibuka, Kementerian PU Pulihkan Konektivitas

Keramahan rakyat Indonesia beserta keelokan alamnya bersatu dalam keberagaman. Suatu anugerah terindah yang patut disyukuri sebab belum tentu dimiliki negeri seberang. 

Dibalik keindahan itu tersimpan risiko kerawanan bencana alam yang tinggi. Banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem berulang kali mendera untuk menguji kekuatan bangsa. Semuanya menuntut perhatian dan tanggung jawab bersama.

Beberapa waktu terakhir, kita adalah saksi sejarah bencana di Pulau Sumatera. Tepatnya di daerah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Untuk itulah, pemerintah lewat Dirjen Bina Marga berkomitmen buat memperbaiki infrastruktur dan pembangunan di Sumatera. 

Seluruh mata dan uluran tangan masyarakat saat ini tertuju pada bencana di Pulau Sumatera. Kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat bahu-membahu untuk membantu dan menghibur untuk menyeka air mata para korban. 

Pemulihan Pasca Bencana Mutlak Diperlukan

Pemulihan Pasca Bencana Mutlak Diperlukan
Pemulihan Pasca Bencana Mutlak Diperlukan

Bencana juga tidak hanya menyenggol perekonomian negara, dengan cara merusak akses dan sarana publik, tetapi juga menyulitkan masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas. 

Sehingga upaya pemulihan sarana juga menjadi hal paling penting agar aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik serta mobilitas dapat kembali berjalan. 

Terkait dengan hal ini, Pemerintah turut hadir mengulurkan tangan lewat berbagai upaya, diantaranya : 

1. Kisah Pak Dedy : Singkirkan Trauma Demi Pulihkan Sesama

pak dedy singkirkan trauma demi pulihkan sesama
Dedy Saputra singkirkan trauma demi pulihkan sesama

Banjir dengan ganas meninggalkan sisa-sisa lumpur, sekaligus trauma mendalam bagi warga.

Terlebih bagi sebagian besar masyarakat Aceh yang juga merupakan penyintas tsunami 2004, luka yang sempat pulih seolah kembali terkoyak oleh sembilu baru, 21 tahun kemudian.

Namun, di balik kotornya lumpur dan perihnya luka, harapan tetap menyala melalui kehadiran para pejuang tangguh yang bekerja dalam senyap. Mereka menjadi cahaya di tengah gelap dan pelipur lara di tengah duka.

Salah satu sosok itu adalah Dedy Saputra, Pengawas Lapangan PPK 1.5 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Ia bercerita telah lebih dari sebulan meninggalkan anak dan istrinya di Banda Aceh demi menjalankan tugas sebagai abdi negara.

Tugas utamanya jelas, yakni membuka kembali akses jalan untuk mengakhiri isolasi wilayah demi kelancaran distribusi logistik dan keberlangsungan aktivitas pendidikan.

Namun, tugas ini bukan sekadar pekerjaan sebagai aparatur negara. Ada motivasi mendalam sekaligus trauma masa lalu yang menyertainya.

Dedy merupakan penyintas tsunami Aceh 2004 yang merenggut nyawa kedua orang tua dan adiknya. Hingga kini, keberadaan mereka pun tak pernah diketahui.

Meski demikian, trauma itu ia singkirkan jauh-jauh. Justru dari sanalah semangatnya tumbuh untuk membantu sesama korban dan memulihkan daerah terdampak.

Sesekali rasa rindu terhadap keluarga muncul menghampiri. Ia sangat mensyukuri kehadiran keluarganya yang selalu memberikan dukungan atas setiap usaha dan dedikasinya.

Saat listrik dan jaringan komunikasi tersedia, Dedy menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarganya melalui panggilan video.

Sapaan “Papa” dari sang anak menjadi penghibur di tengah lelah bekerja di atas lumpur yang kotor, di bawah dinginnya cuaca ekstrem, dan di medan yang curam.

Api semangat itu akhirnya berbuah hasil. Pada Sabtu, 27 Desember 2025, Kementerian Pekerjaan Umum berhasil memulihkan akses Jembatan Krueng Tamiang.

Peristiwa ini menjadi momen penting bagi kembalinya mobilitas dan roda perekonomian warga yang sempat terputus akibat bencana banjir bandang.

2. Agar Warga Tetap Terhubung: Percepatan Normalisasi Sungai Batang Sumpur

Normalisasi Sungai Batang Sumpur
Normalisasi Sungai Batang Sumpur

Bencana banjir memutus akses dan merusak sejumlah ruas jalan, membuat masyarakat kesulitan mendapatkan bantuan.

Di Sumatera Barat, banjir meluluhlantakkan Jalan Raya Sumpur–Padang Panjang dan menimbulkan ancaman banjir susulan. Kondisi ini mendorong pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat menata kembali alur sungai agar lebih terkendali.

Tebing sungai diperkuat untuk mencegah luapan air kembali menggenangi badan jalan dan permukiman. Selain itu, dibangun jalan penghubung sementara yang menghubungkan kembali Nagari Sumpur dan wilayah Malalo yang sebelumnya terisolasi akibat luapan sungai.

Upaya ini perlahan memulihkan harapan warga. Di tengah duka pascabencana, senyum mulai kembali terlihat berkat kolaborasi yang solid dan langkah pemulihan yang berkelanjutan.

3. Memulihkan Nyala Pelita Ilmu di Pesantren Darul Mukhlisin

Pesantren Darul Mukhlisin
Pesantren Darul Mukhlisin

Terjangan banjir di Aceh Tamiang memadamkan cahaya ilmu di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin.

Ruang-ruang belajar yang biasanya dipenuhi lantunan ayat suci seketika berubah menjadi hamparan lumpur dan puing. Gelondongan kayu menutup akses santri menuju pesantren, seolah menghalangi jalan menuju sumber keilmuan.

Namun, dari kegelapan itu, cahaya perlahan menyala kembali. Negara hadir menggenggam tangan warga, menegaskan bahwa harapan untuk bangkit masih ada.

Pembina Yayasan Darul Mukhlisin, Muhammad Ichsan, mengungkap kisah yang menyisakan keharuan. Kayu-kayu yang terbawa banjir hanya mengelilingi kawasan pesantren tanpa memasuki area masjid. Puing justru menghantam area santri perempuan dan merusak bangunannya, sementara gedung pesantren seolah menjadi tameng bagi desa-desa di belakangnya.

Menurut Ichsan, jika gelondongan kayu tersebut lolos, tiga hingga empat desa berpotensi hilang dari peta. Ia berharap bantuan pemerintah dapat segera memulihkan aktivitas belajar-mengajar di pesantren.

Pihak yayasan bersama Kementerian Pekerjaan Umum telah bersepakat menata ulang kawasan pesantren secara menyeluruh. Pemulihan tidak hanya mencakup bangunan, tetapi juga peralatan dan infrastruktur pendidikan seperti komputer, perabot, furnitur, serta tempat tidur santri yang rusak akibat banjir.

Obat Hati untuk Ibu Pertiwi yang Berduka

Ibu Pertiwi yang Berduka
Ibu Pertiwi yang Berduka

Ibu Pertiwi tengah berduka. Namun, waktu tak memberi jeda untuk larut dalam tangis. Tindakan cepat menjadi keharusan.

Upaya pemulihan bukan sekadar memperbaiki yang rusak, tetapi juga mencegah duka berlarut dan luka kian dalam. Agar alam dapat pulih, bernapas kembali, dan memberi ruang bagi kehidupan untuk bangkit bersama.

Melalui setiap langkah penanganan, pemerintah berupaya hadir menjemput harapan masyarakat, memastikan pemulihan berjalan dan duka tidak berkepanjangan. Sedikit demi sedikit, tanah air kembali menata diri menuju kebangkitan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak