Capek Padahal Sudah Libur? Kenali Psychological Detachment dan Cara Istirahat yang Benar

M. Reza Sulaiman | Syamsul Alam
Capek Padahal Sudah Libur? Kenali Psychological Detachment dan Cara Istirahat yang Benar
Ilustrasi pekerja di hari libur. [Suara.com/Alfian Winanto]

Kadang Anda sudah libur, tetapi rasanya tetap capek. Badan memang ada di rumah, tetapi pikiran masih di kantor, kepikiran chat yang belum dibalas, target yang belum selesai, atau rasa bersalah karena tugas menumpuk. Di titik ini, masalahnya bukan kurangnya tanggal merah, melainkan kurangnya recovery (pemulihan) yang benar.

Dalam riset psikologi kerja, salah satu kunci pemulihan adalah psychological detachment, yaitu kemampuan untuk memutus sambungan dari urusan kerja saat jam kerja selesai, supaya energi mental bisa diisi ulang. Ketika detachment ini gagal, kelelahan cenderung menumpuk, tidur jadi tidak benar-benar memulihkan, dan emosi gampang meledak.

Berikut adalah 9 tanda yang sering muncul ketika Anda butuh istirahat yang betul-betul memulihkan, bukan sekadar "ganti lokasi" lelahnya.

1. Anda libur, tetapi otak tetap standby kerja

Anda sedang makan, mandi, atau rebahan, tetapi kepala tetap berputar: "Besok rapat apa, ya?", "Kalau klien tanya bagaimana?", "Kayaknya aku harus cek email sebentar." Ini bukan sekadar rajin, ini tanda otak Anda sulit lepas dari mode siaga. Riset tentang detachment menunjukkan bahwa ketika seseorang kesulitan switch off, kondisi itu berkaitan dengan lebih banyak keluhan kesehatan, masalah tidur, dan kelelahan emosional.

2. Jadi gampang marah atau sensitif untuk hal kecil

Kalau belakangan Anda cepat tersulut; suara kecil terasa mengganggu, atau komentar biasa terasa menekan, bisa jadi energi emosional Anda sudah menipis. Ini seperti baterai yang tinggal 5%, hal kecil saja bisa bikin mati. Kelelahan kronis sering menurunkan kapasitas regulasi emosi. Anda bukan berubah jadi orang galak, Anda mungkin sedang kekurangan pemulihan.

3. Tidur cukup, tetapi bangun tetap lelah

Anda bisa tidur 7–8 jam, namun bangun rasanya seperti belum diisi ulang. Ini sering terjadi saat pikiran terlalu penuh atau stres berkepanjangan sehingga kualitas pemulihan tidak sebanding dengan durasi tidur. Beberapa penelitian tentang burnout dan pemulihan menekankan bahwa kurangnya recovery dapat terkait dengan gangguan tidur dan kelelahan yang menetap.

4. Fokus gampang buyar, padahal tugas tidak lebih berat dari biasanya

Anda membaca satu paragraf tetapi tidak masuk ke pikiran, membuka laptop tetapi bengong, atau sering melamun saat kerja. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena kapasitas perhatian itu ada batasnya, dan Anda sudah terlalu lama mengurasnya tanpa jeda pemulihan. Tanda ini biasanya muncul sebelum burnout terasa dramatis. Ia datang halus membuat produktivitas turun, tetapi Anda memaksa diri naik lagi dengan kopi dan tekanan.

5. Hal yang dulu Anda nikmati sekarang terasa hambar

Hobi yang biasanya bikin senang jadi terasa melelahkan. Mengajak teman keluar (nongkrong) terasa seperti tugas. Musik yang Anda suka terasa biasa saja. Ini sering menandakan Anda bukan hanya capek fisik, melainkan juga capek mental, seolah reward system Anda sedang datar (flat). Dalam konsep pemulihan, bukan cuma tidur yang penting, melainkan juga pengalaman seperti relaksasi, rasa kontrol, dan kegiatan yang memberi rasa berkembang.

6. "Kabur" ke layar, tetapi setelahnya malah makin kosong

Scrolling media sosial dalam waktu lama, menonton terus-menerus, atau bermain game tanpa henti kadang terlihat seperti istirahat. Namun, kalau setelahnya Anda merasa tambah lelah, gelisah, atau menyesal, itu tanda aktivitas tersebut tidak memberi pemulihan yang Anda butuhkan. Istirahat yang benar biasanya membuat Anda merasa lebih ringan setelahnya, bukan justru makin berat.

7. Saat libur pun Anda merasa bersalah

Anda sudah istirahat, tetapi kepala Anda berkata, “Harusnya produktif.” Anda santai sedikit, lalu muncul rasa cemas. Ini tanda Anda butuh istirahat yang bukan cuma soal waktu, melainkan juga soal izin batin untuk pulih. Di banyak kasus, rasa bersalah ini membuat Anda gagal melakukan detachment, padahal hal itu adalah kunci pemulihan.

8. Setelah liburan, efek segarnya cepat hilang

Anda mungkin pernah mengalami liburan yang menyenangkan, tetapi baru beberapa hari kembali bekerja, rasa lelahnya balik seperti semula. Bahkan bisa lebih parah karena tugas menumpuk. Meta-analisis tentang efek liburan menemukan bahwa liburan memang cenderung memberi dampak positif pada kesehatan dan well-being, tetapi efeknya sering memudar setelah kembali bekerja. Artinya, libur saja tidak selalu cukup jika pola pemulihannya tidak berubah.

9. Tubuh mulai protes tanpa sebab yang jelas

Sakit kepala, tegang di leher dan bahu, perut tidak enak, mudah sakit, atau jantung berdebar saat memikirkan pekerjaan. Ini bisa jadi cara tubuh memberi sinyal bahwa beban stres sudah melewati ambang batas. Kalau keluhan fisik makin sering atau mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi ke tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Libur hanya memindahkan Anda dari rutinitas. Istirahat beneran memulihkan sistem tubuh dan pikiran; Anda bisa lepas dari mode siaga, tidur terasa menyegarkan, emosi lebih stabil, dan hidup kembali terasa punya ruang. Kalau Anda menemukan beberapa tanda di atas, anggap itu bukan kelemahan, melainkan sinyal cerdas dari tubuh agar Anda berhenti sejenak sebelum dipaksa berhenti lebih lama.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak