Perbandingan Banjir Jakarta Dulu dan Sekarang: Cerita Warga Kelapa Gading Timur

M. Reza Sulaiman | Daffa Binapraja
Perbandingan Banjir Jakarta Dulu dan Sekarang: Cerita Warga Kelapa Gading Timur
Jalanan Gading Kusuma, Jakarta Utara, yang terkena banjir (Dok. Pribadi/Febriansyah Daffa Binapraja)

Pada hari Minggu, 18 Januari 2026, Mal Kelapa Gading yang menjadi tempat favorit saya saat berlibur sempat tergenang banjir. Lalu, dikutip dari Detikcom, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading juga sempat terendam pada hari Kamis, 22 Januari 2026.

Apa yang ingin saya ceritakan kepada Anda adalah pengalaman saya berurusan dengan banjir di Jakarta. Sebagai warga Kompleks PLN, Kelapa Gading Timur, saya sudah pernah berhadapan dengan banjir sejak tahun 2007-an. Saya dapat memberitahukan kepada Anda bahwa penanganan banjir, walaupun masih belum merata di beberapa tempat, sudah mulai berkembang.

Pengalaman Banjir Semasa Sekolah Dasar

SDN O4 Pagi Kelapa Gading Timur, tempat penulis dahulu bersekolah (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
SDN O4 Pagi Kelapa Gading Timur, tempat penulis dahulu bersekolah (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Sekitar tahun 2007-an dulu, begitu hujan turun deras di awal tahun, biasanya akan terjadi banjir di jalan raya sebelum akhirnya masuk ke rumah dan menggenang hingga setinggi lutut orang dewasa. Bagi saya yang berusia tujuh tahun kala itu, kedalamannya bisa mencapai perut saya. Orang tua sering menyuruh saya menetap di lantai atas rumah.

Jika sudah begini, sekolah diliburkan. Orang tualah yang diberitahu oleh pihak sekolah kapan anak-anaknya bisa masuk kembali. (Saat itu, saya tidak memiliki ponsel. Orang tua sayalah yang memberi tahu saya kapan sekolah dimulai lagi).

Jika hujan sudah berhenti dan air sedikit surut, kami berpindah ke rumah Ninik (ibu dari pihak bapak) dan menginap beberapa hari sampai banjir benar-benar hilang. Rumah Ninik kebetulan berada di area yang menanjak sehingga tidak terdampak banjir.

Kalau sudah banjir sedemikian dalamnya, perahu karet kadang muncul untuk mengangkut warga sekitar. Oh ya, hampir lupa: anak-anak pada zaman itu biasanya akan bermain air banjir, mulai dari menyiram teman hingga memakai ban bekas untuk berenang. Saya tidak ikut karena kulit saya langsung gatal-gatal jika terlalu lama berada di air banjir.

Bagaimana dengan kondisi perumahan keluarga saya pada zaman itu? Selokan tidak seterbuka zaman sekarang. Hampir 90% jalan kompleks ditutup dengan aspal dan beton. Garasi rumah pun dilapisi beton sebagai tempat parkir. Walaupun pada saat itu sisi kanan dan kiri garasi adalah tanah yang diisi tanaman, tetap saja tidak cukup untuk menangkis banjir karena selokan masih agak dangkal.

Sekitar tahun 2010-an, barulah ada proyek besar-besaran di kompleks rumah saya. Selokan digali lebih dalam, lantai parkir rumah diganti keramik yang dilubangi agar air bisa masuk ke selokan, dan jalanan ditinggikan agar tidak mudah tergenang.

Banjir di Kelapa Gading (dan Jakarta) Zaman Sekarang

Karena selokan Gading Kusuma lebih besar, banjir semakin cepat surut (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
Karena selokan Gading Kusuma lebih besar, banjir semakin cepat surut (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Zaman sekarang, Kompleks PLN alhamdulillah tidak pernah banjir lagi; biasanya hanya ada genangan air di beberapa titik. Namun, sebagai warga Kelapa Gading, saya merasa prihatin dengan beberapa lokasi seperti Kompleks Hibrida, Mal Kelapa Gading, atau Rumah Sakit Mitra Keluarga.

Pasalnya, beberapa tempat di Kelapa Gading masih menghadapi banjir yang lumayan parah. Dikutip dari MetroTV, Jalan Hibrida menjadi titik banjir tertinggi di Kelapa Gading dengan ketinggian sekitar 30–50 sentimeter pada 22 Januari 2026.

Perlu diketahui, Jalan Hibrida berada di dekat Mal Kelapa Gading. Inilah penyebab Mal Kelapa Gading ikut tergenang. Beberapa sisi jalan dekat mal tersebut terendam hingga tidak banyak mobil yang berani melintas.

Bahkan, menurut Detikcom, salah satu RT di Kelurahan Kapuk Muara, Jakarta Utara, masih mengalami banjir dengan ketinggian 40 cm karena curah hujan tinggi. Di Jakarta Timur, keadaan banjirnya masih parah. Sebanyak 4 RT di Kelurahan Bidara Cina dan Kampung Melayu masih terendam dengan ketinggian 50–80 cm karena hujan dan luapan Kali Ciliwung.

Lalu, bagaimana Pemerintah DKI Jakarta menangani banjir? Ternyata, ada beragam hal yang telah dilakukan.

Penanganan Banjir DKI Jakarta

Ilustrasi Awan Mendung (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)
Ilustrasi Awan Mendung (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Selain imbauan agar masyarakat membuang sampah pada tempatnya, pemerintah juga telah turun tangan. Saya sempat membaca berita di Liputan6 bahwa untuk menangani cuaca ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD DKI Jakarta) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Caranya dengan menerbangkan pesawat dan menyebarkan kalsium oksida di awan untuk mencegah kemunculan serta pergerakan awan hujan menuju Jakarta.

Dikutip dari Detikcom, OMC sudah dilaksanakan sejak 16 Januari 2026. Awalnya operasi ini menggunakan satu pesawat Casa TNI AU dan satu pesawat Cessna Caravan dengan posko di Lanud Halim Perdanakusuma. Lalu, armadanya ditambah oleh BNPB dengan tiga unit Cessna Caravan untuk memodifikasi cuaca di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. BMKG menilai operasi ini efektif karena berhasil mengurangi intensitas hujan di Jabodetabek sebesar 39,57%.

OMC bukan satu-satunya cara. Dikutip dari MetroTV, Dinas Sumber Daya Air (DSDA DKI Jakarta) telah mengerahkan personel "Pasukan Biru", pompa bergerak (mobile pump), dan pompa permanen. Ada sekitar 668 pompa permanen di 243 lokasi dan 536 unit pompa bergerak di lima wilayah administrasi Jakarta, serta 3.880 personel Pasukan Biru yang disiagakan.

Perlu diingat, masyarakat bisa menggunakan aplikasi JAKI atau menghubungi layanan darurat 112 jika membutuhkan bantuan. Semoga kita bisa tetap waspada di tengah cuaca yang saat ini tidak menentu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak