News
Sampah Bantargebang Memakan Korban: Jangan Sampai Kita Jadi 'Target' Berikutnya Gara-Gara Plastik
Masalah sampah di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai sekarang. Produksi sampah masih terus meningkat. Bayangkan saja, sampah harian di Jakarta yang terangkut berkisar 7.400–8.000 ton. Akibatnya, sampah pun memakan korban. Tragedi korban longsoran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang mencapai 13 korban, di mana 7 orang meninggal dunia dan 6 orang selamat.
Kondisi ini pun memberikan duka bagi keluarga korban. Sampah tidak hanya dapat menyebabkan banjir, penyakit seperti diare, demam berdarah, dan penyakit pernapasan lainnya, namun juga dapat menyebabkan longsor sampah. Kalau sudah begitu, hal ini menjadi perhatian serius bagi kita sebagai orang yang memproduksi sampah sehari-hari.
Mengurangi Penggunaan Plastik
Aturan penggunaan sampah plastik difokuskan pada pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai, pembatasan produk plastik, dan kewajiban produsen mengelola plastik. Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam ketentuannya, diharapkan bahwa sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat.
Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik adalah dengan membawa tas bukan plastik pada saat berbelanja ke pasar maupun supermarket, atau memakai tote bag. Beberapa supermarket sudah memberlakukan pengurangan penggunaan kantong plastik dengan cara mewajibkan penggunaan tote bag agar dapat digunakan berkali-kali bahkan sampai seterusnya.
Ada pula tempat makan maupun restoran yang tidak lagi menggunakan sedotan plastik sebagai bentuk dari tindak lanjut pelarangan penggunaan sampah plastik sehingga tidak menyebabkan bahaya bagi kehidupan.
Selain itu, menjadi penting pula agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, selokan, maupun di sekitar lingkungan rumah. Apalagi membuang sampah-sampah yang sulit untuk diolah kembali. Alangkah baiknya sampah-sampah seperti itu dimusnahkan secara langsung dengan cara yang benar. Hal tersebut akan sangat membantu mengurangi lonjakan sampah di tempat pembuangan akhir.
Kesadaran bagi masyarakat dalam proses mengurangi penggunaan plastik harus terus digerakkan. Sirene bahaya sampah plastik harus diberikan. Pemerintah dalam hal ini harus terus memberikan edukasi dan pencerahan bagi masyarakat bahwa produksi sampah masih terus meningkat. Masyarakat harus terus disadarkan mengenai hal tersebut sebagai bentuk kewajiban dalam menjaga lingkungan bersih dan asri.
Kebiasaan untuk tidak menggunakan tas plastik namun memakai tote bag harus terus-menerus dibiasakan. Jika dimulai sejak sekarang, maka hal tersebut akan terus-menerus dilakukan. Peraturan tentang pelarangan penggunaan sampah plastik sudah ada. Sosialisasi pun sudah dilakukan, bahkan berbagai daerah sudah menerbitkan peraturan daerah mengenai pengurangan penggunaan sampah plastik sehingga harus ada realisasi dari masyarakat itu sendiri.
Kerja sama dari semua pihak untuk melaksanakan dan mematuhi peraturan tersebut sudah menjadi kewajiban sehingga tidak ada alasan lagi bagi korporasi maupun individu untuk terus membuang sampah dan memproduksi sampah. Sudah saatnya kita semakin bijak dalam mengelola sampah. Bila dari diri sendiri sudah menolak sampah, maka hal tersebut akan membawa kebaikan bagi kehidupan.
Mengelola Sampah Menjadi Barang Ekonomis
Sampah pada dasarnya tidak seratus persen membawa bencana maupun keburukan, namun dapat pula menjadi sumber rezeki bagi manusia. Sampah dapat dikelola menjadi barang yang ekonomis dengan cara-cara yang kreatif. Hal ini yang sering dilupakan. Paradigma masyarakat perlu diubah menjadi lebih kreatif untuk hasil yang bernilai ekonomis.
Saat ini, dapat kita temui orang-orang yang mengubah sampah menjadi barang yang dapat dijual. Misalnya, botol plastik diubah menjadi mainan anak-anak berupa kapal, suvenir gantungan kunci, dan juga dapat digunakan sebagai hiasan rumah seperti pohon Natal, hiasan dinding, dan lain sebagainya.
Cara-cara kreatif ini sebenarnya harus disebarluaskan. Jika perlu, ada pelatihan cara pengelolaan sampah menjadi bernilai ekonomis tersebut. Masyarakat perlu dilatih menjadi pelaku usaha mikro yang dapat meningkatkan sumber pendapatan sehingga perekonomian keluarga sekaligus Indonesia semakin meningkat pesat.
Kita ketahui bersama bahwa kemiskinan masih menjadi masalah lama yang belum dapat terselesaikan. Rakyat miskin tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan sehari-hari, kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Padahal, di sekitar kita banyak sampah plastik yang dapat dikelola menjadi uang.
Kampanye pengelolaan sampah plastik menjadi bernilai ekonomis masih terlalu minim. Masyarakat masih tidak tahu caranya. Masyarakat masih kaku dan berparadigma bahwa sampah itu dibuang maupun dimusnahkan hingga akhirnya menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Fakta telah membuktikan bahwa tumpukan sampah telah memakan korban. Tiap hari produksi sampah terjadi terus-menerus tanpa kita ketahui dampaknya di kemudian hari.
Semangat untuk memerangi sampah masih begitu rendah. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang begitu rumit dan kesadaran yang masih begitu rendah. Di saat manusia butuh uang sebagai penghasilan, namun pada saat itu juga kesadaran dan usaha untuk mengelola sampah menjadi uang masih belum tercipta.