Semangat Ramadan biasanya sudah merasuk ke dalam hati sebelum bulannya tiba. Hal ini terlihat dari suasana rumah yang lebih akrab, masjid yang mulai berbenah, serta obrolan tentang menu buka puasa yang mulai mendominasi grup WhatsApp keluarga.
Namun, jujur saja, Ramadan kali ini memiliki tantangan ekstra: harga-harga di pasar yang sedang "hobi" naik tinggi. Beras, minyak, dan telur seolah kompak menguji kesabaran serta isi dompet kita bahkan sebelum ibadah puasa dimulai. Siap-siap atur strategi belanja, Sobat Yoursay!
Bagi kita yang sering berkutat di dapur atau sekadar menemani Ibu belanja ke pasar tradisional, fenomena ini tentu tidak aneh lagi. Ini adalah realitas yang membuat dahi berkerut saat melihat isi dompet yang kian menipis, sementara daftar belanjaan belum setengahnya terisi.
Sobat Yoursay, pasti merasakannya juga, bukan? Bagaimana rasanya ketika anggaran yang biasanya cukup untuk membeli paket sembako lengkap, kini hanya cukup untuk menebus beberapa liter beras dan segenggam cabai yang harganya sudah seperti emas merah.
Kita sedang berada dalam sebuah ironi tahunan, di mana bulan yang seharusnya melatih kita untuk menahan diri, justru menjadi bulan di mana pengeluaran sering kali meledak di tengah badai inflasi yang belum mereda. Namun, di sinilah letak keajaiban masyarakat kita. Meski tekanan ekonomi terasa kian menghimpit, semangat untuk berburu pahala tidak lantas layu begitu saja.
Jika kita menilik ke pinggir jalan menjelang waktu berbuka, kemeriahan "War Takjil" tetap pecah dengan segala keriuhannya. Memang benar, mungkin porsi gorengan yang kita beli sekarang sedikit lebih kecil atau plastik es buahnya tidak sepadat tahun lalu. Namun, kerumunan orang yang ingin berbagi dan membeli dagangan UMKM tetap tidak surut.
Ada semacam daya tahan spiritual yang luar biasa, di mana masyarakat seolah sepakat bahwa urusan perut boleh saja sedikit "dikencangkan" ikat pinggangnya, tetapi urusan ibadah dan berbagi tetap harus berjalan terus.
Sobat Yoursay, pernahkah terpikir mengapa kita tetap begitu antusias berbagi makanan di masjid atau memberi sedekah kepada mereka yang membutuhkan, padahal kita sendiri sedang pusing mengatur strategi keuangan rumah tangga? Jawabannya mungkin terletak pada keyakinan kolektif bahwa Ramadan adalah bulan penuh keberkahan yang tidak bisa diukur hanya dengan hitung-hitungan matematika manusia.
Dalam kacamata ekonomi, memberi saat kekurangan adalah sebuah kerugian. Namun, dalam kacamata iman, itulah saat di mana kualitas kepedulian kita benar-benar diuji. Kita belajar bahwa empati tidak membutuhkan momen saat kita berlebih, melainkan momen saat kita sadar bahwa ada orang lain yang barangkali jauh lebih kesulitan menghadapi kenaikan harga ini dibandingkan dengan kita.
Tekanan ekonomi ini sebenarnya bisa menjadi momentum bagi kita untuk kembali ke esensi Ramadan, yaitu kesederhanaan. Selama ini, barangkali kita terjebak dalam budaya "balas dendam" saat berbuka puasa. Meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan yang ujung-ujungnya tidak semua termakan dan berakhir di tempat sampah.
Dengan harga-harga yang sedang melambung, kita dipaksa secara halus oleh keadaan untuk lebih bijak. Kita mulai memilah mana yang menjadi kebutuhan nutrisi dan mana yang hanya sekadar keinginan mata. Ramadan tahun ini mengingatkan kita bahwa berbuka dengan segelas air putih dan tiga butir kurma, persis seperti yang dicontohkan Nabi, ternyata sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan energi tanpa harus menguras saldo tabungan secara berlebihan.
Coba perhatikan, Sobat Yoursay, di tengah hiruk-pikuk harga pasar yang tidak ramah ini, media sosial kita justru dipenuhi dengan konten-konten kreatif tentang menu sahur hemat atau tips mengelola keuangan selama bulan suci. Ini adalah bukti bahwa kita adalah bangsa yang adaptif. Kita tidak memilih untuk menyerah pada keadaan, melainkan mencari celah untuk tetap bisa beribadah dengan maksimal tanpa harus terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan.
Pemerintah memang memiliki tugas berat untuk menstabilkan harga, itu sudah pasti, dan kita berhak menuntut kerja nyata mereka. Namun, selagi kita menunggu intervensi kebijakan yang sering kali memakan waktu, solidaritas sosial adalah benteng pertahanan pertama kita.
Kenaikan harga memang menyakitkan bagi kantong, tetapi hal itu tidak boleh merampas kegembiraan spiritual kita. Kita bisa tetap mengejar pahala dengan cara-cara yang lebih cerdas dan rendah biaya. Memperbanyak tilawah, memperlama sujud dalam salat malam, atau sekadar memberikan senyum dan bantuan tenaga kepada sesama adalah bentuk-bentuk ibadah yang "bebas inflasi".
Sobat Yoursay, jika hari ini kita harus sedikit menghemat pengeluaran untuk makan, semoga hal itu tidak mengurangi anggaran kita untuk berbagi. Biarlah harga-harga melambung tinggi, asalkan semangat kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tidak ikut terperosok jatuh. Selamat menjalankan ibadah puasa, tetap semangat meski dompet sedang menguji kesabaran, karena pahala yang kita cari sejatinya tidak pernah terpengaruh oleh fluktuasi harga di pasar mana pun.