Di era digital, perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas bernilai tinggi. Platform media sosial, portal berita, hingga industri hiburan bersaing merebut atensi publik dalam hitungan detik. Dalam kompetisi ini, emosi menjadi mata uang utama. Kemarahan, kesedihan, ketakutan, dan empati dieksploitasi untuk menjaga pengguna tetap terhubung, terus menggulir layar, dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan ekonomi.
Fenomena monetisasi atensi tidak berdiri di ruang hampa. Hal tersebut hadir dalam ekosistem kapitalisme digital yang menjadikan keterlibatan pengguna sebagai sumber utama pendapatan. Semakin lama seseorang bertahan di platform, semakin besar peluang iklan dikonsumsi. Akibatnya, konten yang memicu emosi kuat cenderung diprioritaskan, sementara informasi yang tenang dan reflektif sering kali tersingkir.
Logika Algoritma dalam Ekonomi Atensi
Konsep ekonomi atensi menjelaskan bagaimana perhatian manusia menjadi sumber daya yang langka. Di tengah banjir informasi, platform digital berlomba menarik perhatian dengan segala cara. Algoritma dirancang untuk membaca perilaku pengguna, lalu menyajikan konten yang paling mungkin memicu reaksi emosional.
Konten berbasis konflik, tragedi, dan sensasi terbukti lebih efektif dalam memancing keterlibatan. Judul provokatif, potongan video dramatis, dan narasi yang menyederhanakan persoalan kompleks menjadi strategi umum. Emosi diperas agar pengguna terus bertahan, bahkan ketika konten tersebut berpotensi menyesatkan atau merusak kualitas diskursus publik.
Dalam praktiknya, algoritma tidak netral. Ia bekerja mengikuti kepentingan bisnis platform. Emosi negatif sering kali lebih mengikat perhatian dibandingkan informasi faktual yang seimbang. Kemarahan dan ketakutan membuat orang bereaksi cepat, membagikan konten tanpa verifikasi, dan terlibat dalam perdebatan berkepanjangan. Semua ini meningkatkan engagement yang pada akhirnya dikonversi menjadi pendapatan iklan. Masalah muncul ketika logika ini merembes ke ruang-ruang lain, termasuk jurnalisme dan komunikasi politik. Media terdorong untuk mengikuti pola viral demi bertahan secara ekonomi, sementara politikus memanfaatkan emosi publik sebagai alat mobilisasi dukungan.
Emosi Publik sebagai Komoditas Politik dan Media
Eksploitasi emosi publik tidak hanya dilakukan oleh platform teknologi, melainkan juga oleh aktor politik dan media. Narasi ketakutan, kebencian, dan polarisasi menjadi alat efektif untuk membentuk opini serta loyalitas. Isu kompleks direduksi menjadi hitam-putih agar mudah dikonsumsi dan dibagikan.
Dalam konteks media, tekanan ekonomi membuat banyak redaksi terjebak pada logika klik. Berita dikemas dengan sudut pandang sensasional untuk menarik pembaca, meski berisiko mengorbankan akurasi serta kedalaman. Emosi pembaca dimanipulasi agar tetap terikat pada siklus konsumsi berita yang melelahkan.
Dampaknya terasa luas. Publik mengalami kelelahan emosional akibat paparan terus-menerus terhadap konten bermuatan negatif. Rasa cemas, marah, dan sinis menjadi bagian dari keseharian digital. Alih-alih memperkuat kesadaran kritis, konsumsi informasi justru memperdalam polarisasi serta ketidakpercayaan. Lebih jauh, eksploitasi emosi melemahkan kapasitas publik untuk berpikir jernih. Ketika emosi mendominasi, ruang deliberasi rasional menyempit. Keputusan politik dan sosial diambil berdasarkan reaksi sesaat, bukan pertimbangan matang.
Mencari Jalan Keluar dari Siklus Eksploitasi
Menghadapi monetisasi atensi dan eksploitasi emosi publik, tanggung jawab tidak bisa dibebankan semata kepada individu. Literasi digital memang penting, tetapi tidak cukup. Struktur ekosistem digital perlu dikritisi dan diubah.
Platform memiliki peran besar dalam menentukan arah arus informasi. Transparansi algoritma dan tanggung jawab dalam moderasi konten menjadi tuntutan yang semakin relevan. Tanpa regulasi yang memadai, kepentingan bisnis akan terus mengalahkan kepentingan publik.
Media juga perlu melakukan refleksi. Bertahan secara ekonomi tidak harus berarti tunduk sepenuhnya pada logika sensasi. Jurnalisme yang berimbang, kontekstual, dan beretika justru menjadi semakin penting di tengah banjir emosi digital. Kepercayaan publik adalah aset jangka panjang yang tidak bisa digantikan oleh klik sesaat.
Bagi publik, kesadaran untuk mengelola emosi dalam mengonsumsi informasi menjadi kunci. Tidak semua konten layak mendapat perhatian. Menahan diri untuk tidak bereaksi impulsif adalah bentuk perlawanan kecil terhadap ekonomi atensi. Monetisasi atensi telah mengubah cara kita berinteraksi dengan informasi dan emosi. Jika dibiarkan tanpa kritik, hal ini akan terus mengeksploitasi sisi paling rentan dari manusia demi keuntungan. Tantangannya adalah membangun ekosistem digital yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, melainkan juga sehat secara sosial dan demokratis. Tanpa itu, ruang publik akan terus dikuasai oleh emosi yang diperdagangkan.