Mudik sebagai Ritual Emosional Anak Rantau

M. Reza Sulaiman | Irhaz Braga
Mudik sebagai Ritual Emosional Anak Rantau
Ilustrasi pemudik yang menggunakan motor. [ANTARA FOTO/ Andri Saputra/rwa]

Setiap menjelang hari raya, jalan-jalan utama dipenuhi arus kendaraan yang bergerak ke satu arah: pulang. Tiket kereta dan pesawat terjual habis; terminal dan pelabuhan sesak oleh wajah-wajah lelah sekaligus berbinar. Bagi sebagian orang, mudik adalah rutinitas tahunan. Namun, bagi anak rantau, mudik lebih dari sekadar perjalanan fisik. Hal itu adalah ritual emosional yang memulihkan, meneguhkan identitas, dan merawat ikatan yang sempat merenggang oleh jarak.

Di kota-kota besar, para perantau menata hidup dengan ritme yang cepat. Pekerjaan menuntut profesionalisme, serta waktu yang terukur dalam target dan tenggat. Dalam keseharian seperti itu, kampung halaman kerap hadir sebagai memori: aroma masakan ibu, suara azan dari surau kecil, atau obrolan ringan di teras rumah. Mudik menjadi momentum ketika memori itu menjelma nyata kembali.

Pulang sebagai Peneguhan Identitas

Merantau sering kali berarti beradaptasi. Bahasa, budaya kerja, hingga pola pergaulan berubah mengikuti lingkungan baru. Anak rantau belajar menjadi fleksibel, bahkan kadang menekan sebagian identitas demi diterima. Di tengah proses itu, ada kerinduan yang tidak selalu terucap: kebutuhan untuk kembali menjadi diri sendiri tanpa syarat.

Mudik menghadirkan ruang tersebut. Di kampung halaman, seseorang dipanggil dengan nama kecilnya, dikenali tanpa perlu menjelaskan latar belakang pekerjaan atau jabatan. Status sosial yang melekat di kota mencair di hadapan keluarga dan tetangga lama. Yang tersisa adalah relasi personal yang hangat.

Ritual sungkem kepada orang tua, ziarah ke makam leluhur, hingga berkumpul bersama sanak saudara menjadi bentuk peneguhan akar. Anak rantau diingatkan bahwa keberhasilan atau kegagalan di perantauan bukan satu-satunya ukuran nilai diri. Ada sejarah keluarga, ada cerita masa kecil, serta ada jejaring sosial yang membentuknya jauh sebelum ia menapaki kota besar. Dalam konteks ini, mudik bukan nostalgia kosong. Ia berfungsi sebagai jangkar psikologis untuk memastikan bahwa identitas tidak tercerabut dari asalnya.

Rindu yang Dirawat oleh Jarak

Jarak memiliki dua sisi. Ia dapat menjauhkan, tetapi juga merawat rindu. Komunikasi digital memang memudahkan percakapan lintas kota. Panggilan video mempertemukan wajah dan pesan instan mengabarkan kabar terbaru. Namun, kehadiran fisik tetap memiliki makna yang berbeda.

Anak rantau kerap menyimpan cerita yang tidak seluruhnya tersampaikan melalui layar. Lelah bekerja, kegagalan yang dialami, atau pencapaian yang membanggakan terasa lebih utuh ketika dibagikan secara langsung. Tatapan mata, pelukan, dan tawa bersama menjadi bahasa emosional yang sulit digantikan teknologi.

Mudik mempertemukan kembali ruang-ruang yang lama kosong. Kamar masa kecil dibuka, album foto lama diturunkan dari lemari, dan percakapan panjang berlangsung hingga larut malam. Dalam momen-momen itu, rindu yang terakumulasi selama setahun menemukan salurannya. Tak jarang, perjalanan mudik juga diwarnai kecemasan. Pertanyaan tentang pekerjaan, rencana pernikahan, atau capaian hidup bisa menjadi tekanan tersendiri. Namun, di balik itu, ada harapan keluarga yang ingin memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.

Antara Tradisi dan Tantangan Zaman

Tradisi mudik terus bertahan di tengah perubahan zaman. Infrastruktur transportasi berkembang, sistem pemesanan tiket semakin canggih, dan arus informasi real-time membantu pemudik merencanakan perjalanan. Namun, esensi mudik tetap sama: kembali.

Di sisi lain, tantangan juga muncul. Biaya perjalanan yang meningkat, kepadatan lalu lintas, hingga risiko keselamatan menjadi pertimbangan serius. Sebagian orang memilih tidak mudik dan menggantinya dengan kiriman uang atau pertemuan virtual. Pilihan ini sah dan kerap didasari pertimbangan rasional.

Meski demikian, bagi banyak anak rantau, kehadiran fisik tetap memiliki nilai simbolik yang kuat. Duduk bersama di ruang keluarga, menyantap hidangan khas daerah, atau sekadar menyapu halaman rumah orang tua menghadirkan rasa memiliki yang sulit tergantikan. Mudik juga berfungsi sebagai jembatan antargenerasi. Anak-anak yang lahir dan besar di kota diperkenalkan pada kampung halaman orang tuanya untuk mengenal keluarga besar serta tradisi lokal.

Pada akhirnya, mudik adalah perjalanan batin. Ia mengajarkan tentang arti pulang, tentang menerima diri apa adanya, dan tentang pentingnya menjaga hubungan. Bagi anak rantau, setiap kilometer yang ditempuh bukan sekadar jarak yang dipangkas, melainkan kerinduan yang dijawab. Pulang bukan langkah mundur, melainkan cara untuk melangkah kembali dengan lebih teguh.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak