Makin Selektif, Konsumen Kini Pilih Double Check Sebelum Belanja Online

Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Makin Selektif, Konsumen Kini Pilih Double Check Sebelum Belanja Online
Ilustrasi konsumen bingung belanja online di tengah pendapatan yang stagnan (Freepik/freepik)

Kondisi ekonomi awal tahun 2026 memberikan tantangan nyata bagi masyarakat Indonesia. Di tengah fenomena pendapatan yang stagnan dan biaya hidup yang terus meroket, perilaku belanja online juga berakhir mengalami pergeseran yang cukup drastis. Saat fenomena tersebut semakin masif, konsumen tidak lagi implusif, mereka kini menjadi “detektif digital” sebelum melakukan checkout di platform belanja online.

Berdasarkan hasil survei terbaru dari Jakpat tentang tren belanja online masyarakat Indonesia pada semester kedua 2025, terungkap bahwa meski tekanan finansial menguat, aktivitas belanja online tetap tinggi.

Laporan ini melibatkan 2125 responden lintas Gen Z, Milenial, dan Gen X yang menyoroti dinamika penggunaan e-commerce dan quick-commerce, sekaligus perubahan perilaku konsumen di tengah persaingan digital.

Sebanyak 92% responden tetap melakukan transaksi online pada paruh kedua 2025, naik tipis 1% dari tahun sebelumnya. Lebih lengkapnya, 86% mengaku melakukan transaksi di e-commerce dan 16% dari pembeli online berbelanja di platform quick-commerce.

Media Sosial Sebagai Panggung Baru untuk “Window Shopping”

Salah satu temuan menarik yang mengemuka yakni ada kecenderungan konsumen riset sebelum beli. Meskipun e-commerce masih menjadi referensi utama untuk melihat barang-barang, angka ini sebenarnya turun 4% dari tahun 2024.

Calon pembeli lebih memilih beralih ke media sosial brand. Lonjakannya naik 10% dari 2024. Pada paruh kedua tahun 2025, angkanya mencapai 53%. Kini, Instagram dan TikTok menjadi media sosial yang krusial untuk eksplorasi produk secara lebih mendalam.

"Hal ini mengindikasikan bahwa media sosial kini berperan krusial sebagai kanal pencarian informasi dan pengenalan produk secara mendalam, sementara eksekusi transaksi akhir tetap berpusat pada platform e-commerce," ujar Head of Research Jakpat, Aska Primardi.

Aska juga mengatakan bahwa fenomena pergeseran perilaku ini didasarkan pada kondisi ekonomi masyarakat yang cenderung stagnan atau menurun di tengah melonjaknya biaya pengeluaran. Dari sini, konsumen menjadi jauh lebih selektif dan berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran belanja agar tidak jatuh ke tempat yang salah.

Selain e-commerce dan media sosial brand, konsumen juga melakukan window shopping di marketplace online (16%), quick-commerce (16%), serta website resmi brand (14%).

Peta Persaingan Platform E-Commerce

Shopee masih meduduki takhta tertinggi sebagai platform yang paling banyak digunakan, yakni 85%. Namun, kejutan besar kemudian datang dari TikTok Shop sebagai posisi kedua dengan angka 51% dengan kenaikan signifikan sebesar 10% dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, Tokopedia justru tergeser ke posisi ketiga dengan penurunan sebesar 12% dan berada di angka 32%.

Pengeluaran e-commerce per bulan mencapai angka rata-rata Rp 469.575 sepanjang semester kedua 2025. Ini berarti terjadi kenaikan marginal sebesar 1% secara tahunan dari awalnya berada di angka Rp 463.439.

Terkait pertimbangan masyarakat dalam memilih platform belanja serta persepsi masyarakat terhadap masing-masing merek e-commerce dan quick commerce di Indonesia, datanya bisa didapat melalui laporan Jakpat “Indonesia E-commerce Trends – 2nd Semester of 2025” pada tautan berikut ini: https://insight.jakpat.net/indonesia-e-commerce-trends-2nd-semester-of-2025/ 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak