Subscription Fatigue: Ketika Hidup Menjadi Versi Trial yang Mencekik Saldo

Lintang Siltya Utami | Vicka Rumanti
Subscription Fatigue: Ketika Hidup Menjadi Versi Trial yang Mencekik Saldo
Ilustrasi Subscription Fatigue (Freepik/freepik)

Di balik setiap kemudahan akses digital, ternyata ada juga ancaman yang mungkin terjadi. Selamat datang di era Subscription Fatigue. Fenomena ini bukan sekadar kejengkelan karena terlalu banyak kata sandi yang harus diingat, tapi tentang bagaimana kita mengonsumsi nilai yang ditawarkan oleh sebuah aplikasi.

Saat ini kita terus bergantung pada ruang penyimpanan data, alat kreativitas, hiburan, musik, dan hal lain yang mengharuskan kita untuk berlangganan. Bayangkan ketika terbangun di pagi hari, meraih ponsel dan disambut rentetan notifikasi auto-debet dari tagihan Spotify, Netflix, iCloud, Canva, yang mengantre seperti lintah digital kelaparan.

Dalam hitungan menit, angka dalam saldo ATM bisa jadi terjun bebas. Ironisnya, ini bukan sebuah barang baru untuk dibeli, tapi hanya berupa “izin” untuk tetap bisa mengakses semua aplikasi langganan selama 30 hari ke depan.

Seharga Satu Gelas Kopi

Model langganan, secara finansial adalah silent killer bagi uang tabungan. Perusahaan teknologi dan pemilik aplikasi kini sangat lihai membungkus biaya langganan dengan narasi “hanya seharga satu gelas kopi”. Mungkin hal ini tidak akan jadi masalah ketika hanya ada satu aplikasi yang kita beli setiap bulannya. Yang jadi masalah adalah sering kali kita tergiur untuk mendapatkan kemudahan akses dan langsung berlangganan 10 hingga 15 layanan berbeda.

Secara psikologis, pengeluaran kecil ini tidak memicu rasa sakit dan kekecewaan yang sama seperti ketika kita mengeluarkan jutaan rupiah untuk membeli barang fisik. Namun, jika diakumulasi, kebocoran halus yang awalnya sedikit akan jadi alasan kenapa saldo ATM selalu berkurang. Kita terjebak dalam kemudahan ilusi, padahal sebenarnya yang dikejar adalah gaya hidup yang tidak bisa terus kita ikuti.

Distopia Digital

Di kehidupan nyata, kengerian distopis mulai terasa. Dulu CD, DVD, buku, piringan hitam, dan benda-benda fisik bisa kita miliki selamanya. Sekarang, kepemilikan tersebut hanyalah ilusi, dengan langganan aplikasi kita hanya mendapat akses yang belum tentu bisa kita kuasai.

Hidup kita layaknya “versi trial”. Begitu pembayaran gagal dan saldo ATM mulai menipis, ekosistem hidup seakan mengalami kekurangan. Koleksi musik “dikunci” dan diganti iklan setiap jedanya, file kerjaan di iCloud tidak bisa diunduh, hingga foto kenangan masa lalu di aplikasi editing menjadi buram dan ada watermark-nya.

Akhirnya, bukan kita yang menguasai, tapi teknologi yang telah menyandera kreativitas, produktivitas, hingga memori. Kita dipaksa terus bekerja hanya untuk memastikan “hak akses” terhadap suatu aplikasi tidak terputus.

Saatnya Rebut Kembali

Apakah kamu sudah lelah hidup di lingkaran penuh langganan ini? Mungkin sekarang saatnya melakukan Subscription Detox dan berhenti menjadi “penyewa” yang boros dan mulai menjadi “pemilik” yang bijak.

Kamu bisa melakukannya dengan hal yang sederhana. Jika tidak membuka aplikasi tersebut dalam dua minggu terakhir, cancel saja sekarang juga.

Jangan biarkan masa depan finansialmu habis hanya untuk membayar biaya langganan yang tidak memberi nilai tambah bagi diri. Kebahagiaan sejati tidak bergantung pada tanggal kadaluwarsa bulanan aplikasi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak