Bursa Kerja atau Seremonial? Menyoal Job Fair yang Tidak Fair

M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
Bursa Kerja atau Seremonial? Menyoal Job Fair yang Tidak Fair
Ilustrasi Job Fair (Dok.pribadi/Rahel)

Mendengar kata job fair, entah itu diadakan oleh pemerintah kota atau kampus, hampir selalu memantik semangat, terutama bagi fresh graduate. Bahkan, mahasiswa tingkat akhir pun rela memenuhi ruangan, berdesakan di auditorium, membawa map dan harapan yang sama: pulang dengan peluang kerja.

Antusiasme itu seolah dibenarkan oleh flyer dan promosi media sosial yang ramai menjanjikan walk-in interview, lengkap dengan daftar perusahaan besar yang membuka stan.

Saya termasuk fresh graduate yang cukup sering mengikuti job fair. Awalnya, saya datang dengan keyakinan bahwa acara seperti ini memang disiapkan untuk mempertemukan pencari kerja dan perusahaan secara langsung. Namun, setelah berkali-kali hadir dan mengalami hal yang serupa, sebuah pertanyaan mulai muncul: benarkah perusahaan benar-benar membutuhkan tenaga kerja sampai harus mencarinya melalui job fair?

Janji di Flyer, Realitas di Lapangan

Pada praktiknya, janji walk-in interview sering kali tidak benar-benar terjadi. Banyak pencari kerja sudah datang, mengantre, menyerahkan CV, dan mengikuti alur pendaftaran, tetapi tidak kunjung dipanggil untuk wawancara. Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti job fair dengan ekspektasi serupa, namun hasilnya hampir selalu sama: diminta memindai barcode, mengisi data, lalu menunggu kabar yang entah kapan datangnya.

Memang harus diakui, ada job fair yang diselenggarakan secara serius oleh promotor yang benar-benar ingin menyalurkan tenaga kerja. Ada pula beberapa orang yang akhirnya mendapatkan pekerjaan dari sana. Namun, jika dibandingkan dengan skala acara yang besar, jumlah perusahaan yang hadir, serta ribuan pencari kerja yang datang, hasil tersebut terasa sangat tidak sebanding.

Momen yang Sulit Dilupakan

Di tengah keramaian itu, ada satu pemandangan yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas. Seorang bapak, mungkin di usia akhir 30-an atau awal 40-an, datang membawa tas besar. Tas itu bukan sekadar aksesori, melainkan penuh dengan berkas lamaran: CV, fotokopi ijazah, dan sertifikat yang semuanya tersusun rapi.

Ia tidak datang dengan sikap coba-coba. Dari caranya berdiri di antrean, menggenggam tas itu, dan membaca informasi di setiap stan, terlihat jelas bahwa ia datang dengan keseriusan. Mungkin juga dengan beban tanggung jawab yang tidak ringan: keluarga yang menunggu, tagihan yang harus dibayar, dan waktu yang terus berjalan.

Ketika tiba di salah satu stan perusahaan, bapak itu bertanya dengan suara pelan, apakah benar ada walk-in interview seperti yang tertulis di flyer. Jawaban yang ia terima terdengar singkat dan datar: "Silakan scan barcode saja ya, Pak."

Bapak itu sempat bertanya lagi untuk memastikan apakah wawancara bisa dilakukan hari itu. Jawabannya tetap sama, ditambah kalimat yang sering saya dengar di hampir setiap job fair: "Mohon maaf, kami belum ada walk-in interview. Nanti kalau CV-nya cocok, akan kami hubungi. Silakan submit dulu."

Tidak ada wawancara. Tidak ada percakapan lebih lanjut. Hanya barcode, lalu harapan yang kembali digantungkan, menjadi bukti nyata bahwa yang tertulis di flyer atau media sosial hanyalah iklan semata.

Antara Formalitas dan Kebutuhan Nyata

Belakangan, narasi serupa ramai beredar di media sosial seperti TikTok dan X. Banyak yang menyebutkan bahwa pada kenyataannya, tidak semua perusahaan sedang benar-benar membutuhkan tenaga kerja. Namun, demi memenuhi program atau undangan pemerintah, mereka tetap hadir di job fair, meski tanpa proses rekrutmen yang nyata.

Jika demikian, job fair perlahan kehilangan maknanya. Ia tidak lagi menjadi ruang pertemuan antara pencari kerja dan perusahaan, melainkan sekadar agenda seremonial: ramai, terdokumentasi, tetapi minim hasil.

Saran yang Lebih Realistis

Untuk mahasiswa dan fresh graduate, mungkin sudah saatnya lebih selektif mengikuti job fair. Tidak semua acara menawarkan peluang yang sama. Mencari promotor yang benar-benar kredibel dan fokus pada penyaluran kerja menjadi langkah yang lebih realistis.

Untuk pemerintah, alih-alih mendorong perusahaan hadir tanpa kesiapan rekrutmen, akan lebih berdampak jika menyediakan pelatihan gratis, peningkatan keterampilan, serta sertifikasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri. Sementara bagi perusahaan, kejujuran menjadi hal yang sangat penting. Jika memang belum membuka lowongan atau belum siap melakukan wawancara langsung, sebaiknya hal itu disampaikan secara terbuka sejak awal.

Penutup

Job fair seharusnya menjadi ruang yang adil, bukan hanya bagi penyelenggara dan perusahaan, melainkan juga bagi pencari kerja yang datang dengan harapan besar dan usaha nyata. Ketika janji tidak sejalan dengan realitas, yang tertinggal hanyalah lelah dan kecewa.

Job fair yang tidak fair bukan sekadar soal teknis rekrutmen. Ini adalah soal empati. Karena di balik setiap barcode yang dipindai dan setiap CV yang dikumpulkan, ada manusia yang membawa harapan, waktu, dan keberanian untuk datang. Dan itu layak untuk dihargai.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak