Di tengah deru mesin jet tempur dan dentuman rudal yang menghiasi langit Timur Tengah belakangan ini, ada satu nama yang mungkin luput dari headline besar bursa saham atau analisis harga minyak dunia, namun menggoreskan luka yang sangat dalam di sanubari kemanusiaan kita. Nama itu adalah Minab.
Bagi sebagian besar dari kita, Minab mungkin hanyalah sebuah titik koordinat asing di peta Iran Selatan. Namun, sejak tragedi memilukan di awal Maret 2026 ini, Minab telah menjadi simbol kelam dari apa yang terjadi ketika ambisi geopolitik dan ego kekuasaan membutakan mata para pengambil keputusan.
Kita sedang bicara tentang sebuah sekolah yang hancur, tentang tawa anak-anak yang mendadak senyap, dan tentang istilah collateral damage yang rasanya terlalu dingin dan tidak manusiawi untuk menggambarkan hilangnya nyawa malaikat-malaikat kecil di sana.
Sobat Yoursay, mari kita sejenak menanggalkan keberpihakan politik kita dalam konflik antara Iran dengan aliansi AS-Israel ini. Mari kita bicara sebagai sesama manusia.
Laporan yang masuk mengenai tewasnya 160 anak perempuan dalam sebuah serangan udara di Minab adalah duka kita semua. Mereka adalah anak-anak yang pagi itu mungkin masih merapikan kerudungnya di depan cermin, menggendong tas sekolah dengan penuh harapan, atau mungkin sedang bercanda dengan temannya tentang tugas matematika yang sulit.
Dalam hitungan detik, semua masa depan itu musnah tertimbun puing-puing beton. Sobat Yoursay, bagaimana mungkin institusi pendidikan yang seharusnya menjadi zona aman internasional bisa menjadi sasaran empuk dalam sebuah operasi militer berskala besar?
Istilah collateral damage atau kerusakan penyerta sering kali digunakan oleh militer untuk memperhalus narasi kematian warga sipil. Seolah-olah nyawa manusia hanyalah sebuah ketidaksengajaan kecil dalam kalkulasi perang yang besar. Namun, Sobat Yoursay, bukankah hukum internasional sudah sangat jelas mengatur bahwa warga sipil, terutama anak-anak, harus mendapatkan perlindungan maksimal?
Serangan yang menghantam fasilitas sipil seperti sekolah di Minab bukan hanya sebuah "kesalahan teknis" atau "kegagalan intelijen". Ini adalah peringatan bagi nurani dunia bahwa perang modern yang katanya menggunakan senjata presisi tinggi ternyata masih sangat buta dan haus darah.
Jika senjata paling canggih di dunia sekalipun tidak bisa membedakan antara markas militer dan ruang kelas, maka ada yang salah dengan definisi "kemajuan" yang kita agung-agungkan selama ini.
Dunia internasional, termasuk kita di Indonesia, tidak boleh hanya diam dan menonton tragedi ini melalui layar ponsel sambil mengurut dada. Penuntutan pertanggungjawaban adalah harga mati. Kita tidak bisa membiarkan narasi perang ini didikte hanya oleh mereka yang memegang pelatuk.
Lembaga-lembaga internasional seperti PBB harus bergerak melampaui sekadar pernyataan "keprihatinan mendalam". Harus ada investigasi independen yang transparan untuk mengungkap mengapa sekolah tersebut bisa terkena serangan. Tanpa adanya konsekuensi hukum yang nyata bagi para pelanggar hukum perang, maka tragedi Minab akan terus berulang di kota-kota lain, di negara-negara lain, selama perang dianggap sebagai solusi yang wajar.
Kematian mereka adalah pengingat bahwa dalam setiap perang, yang paling menderita bukanlah para jenderal yang duduk di ruang ber-AC atau para politisi yang berdebat di forum internasional, melainkan rakyat jelata yang hanya ingin hidup damai.
Tragedi Minab menuntut kita untuk tetap bersuara, menuntut agar kemanusiaan dikembalikan ke meja perundingan. Kita harus mendesak agar jalur diplomasi diutamakan kembali, bukan karena kita naif, tapi karena kita tahu harga dari sebuah peluru sering kali dibayar dengan nyawa mereka yang tidak berdosa.
Selain menuntut keadilan, momen ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih kritis dalam mencerna informasi. Di era perang informasi yang sangat masif ini, masing-masing pihak akan mencoba mencuci tangan atau melempar kesalahan.
Ada yang menyebut itu adalah perisai manusia, ada yang menyebut itu murni kesalahan navigasi. Namun, bagi keluarga yang kehilangan anaknya di Minab, alasan apa pun tidak akan pernah bisa mengembalikan hangatnya pelukan putra-putri mereka.
Tugas kita adalah memastikan bahwa nama mereka tidak terlupakan dan pengorbanan mereka menjadi katalisator bagi gerakan perdamaian yang lebih kuat di tingkat global. Jangan sampai kita menjadi mati rasa karena terlalu sering melihat berita kekerasan.
Keberpihakan pada kemanusiaan adalah satu-satunya keberpihakan yang tidak akan pernah salah. Melalui tulisan ini, kita ingin mengirimkan pesan bahwa dunia memperhatikan Minab.
Kita ingin para pemimpin dunia tahu bahwa setiap nyawa yang hilang di sekolah itu adalah utang sejarah yang harus dibayar dengan komitmen nyata untuk menghentikan pertumpahan darah.
Kita tidak ingin lagi melihat pendidikan dihancurkan oleh ledakan, dan kita tidak ingin lagi mendengar kata collateral damage digunakan sebagai tameng untuk menutupi kejahatan perang.
Sobat Yoursay, perang mungkin belum berakhir besok pagi, tapi setidaknya nurani kita tidak ikut mati bersama mereka yang gugur. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan lintas batas negara dan ideologi.
Menurut Sobat Yoursay, apa yang bisa kita lakukan sebagai warga dunia untuk memastikan suara para korban sipil ini tidak tenggelam di tengah hiruk-pikuk narasi kekuatan militer? Apakah cukup dengan doa, atau perlukah kita melakukan aksi nyata lainnya?