suara hijau

Krisis Ekologi yang Terabaikan di Balik Rudal Perang AS-Israel dan Iran

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Krisis Ekologi yang Terabaikan di Balik Rudal Perang AS-Israel dan Iran
Ilustrasi hutan rusak karena peperangan (Freepik/freepik)

Perdebatan mengenai perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sering kali hanya tertuju pada adu kekuatan senjata serta siapa yang mendominasi pertempuran darat, laut, dan udara. Namun, di balik intensitas serangan rudal dan aksi penenggelaman kapal tanker yang menjadi sorotan utama, ada satu aspek krusial yang luput dari perhatian: kerusakan alam.

Dari pencemaran air tanah akibat residu amunisi hingga polusi udara yang masif dari terbakarnya fasilitas energi, konflik ini menunjukkan bahwa eskalasi militer dan degradasi lingkungan menjadi dua kenyataan pahit yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat mempercepat kehancuran ekologis yang kini sering disebut sebagai ekosida.

Hujan Rudal dan Pencemaran Beracun

Konflik fisik mencapai puncaknya pada Jumat (6/3/2026), ketika Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan rudal generasi terbaru ke pangkalan AS di negara-negara Teluk serta wilayah Israel.

Serangan ke jantung Tel Aviv dan daerah pesisir seperti Netanya menimbulkan kerusakan fisik yang nyata. MDA juga merilis rekaman dampak serangan pada sebuah bangunan tempat tinggal di Israel Tengah yang memperlihatkan pohon-pohon tumbang dan kerusakan lingkungan di sekitar area tersebut.

Menurut studi dari Scientists for Global Responsibility, penggunaan amunisi dalam skala besar ini melepaskan logam berat dan bahan kimia peledak ke tanah. Zat-zat ini tetap beracun bahkan dalam jumlah kecil, sehingga dapat menciptakan kontaminasi jangka panjang pada air tanah yang sulit dipulihkan.

Polusi Udara Masif

Fasilitas vital juga dijadikan sebagai target serangan. Al Jazeera melaporkan serangan drone Iran menghantam Camp Udairi di Kuwait, sementara kilang minyak Bapco Energies di Bahrain mengalami kebakaran hebat. Di laut, AS melalui Laksamana Brad Cooper (CENTCOM) mengonfirmasi telah menenggelamkan lebih dari 30 kapal Iran, termasuk sebuah kapal induk drone yang terbakar di perairan.

Kebakaran kilang minyak dan kapal tanker ini melepaskan polutan berbahaya ke udara, air, dan tanah. Greenpeace menegaskan bahwa kerusakan lokasi industri kimia dan energi menciptakan bahaya ekologis signifikan melalui pelepasan zat beracun yang mengancam kesehatan manusia melampaui batas-batas negara konflik.

Ancaman Nuklir dan Krisis Iklim Global

Risiko terbesar muncul dari ancaman terhadap fasilitas nuklir, seperti ancaman Iran terhadap Dimona di Israel. Kebocoran radiasi sekecil apa pun akan menjadi bencana lingkungan yang tak tertandingi di kawasan tersebut.

Selain itu, BMKG menyoroti bahwa konflik di Selat Hormuz (jalur bagi 25% perdagangan minyak laut dunia), menurut International Energy Agency (IEA), menyatakan bahwa negara-negara akan kembali bergantung pada bahan bakar fosil demi keamanan energi. Pada akhirnya, ini dapat menunda transisi energi bersih.

Militer sendiri menyumbang sekitar 5,5% emisi gas rumah kaca global. Namun, seperti yang dicatat oleh Conflict and Environment Observatory, emisi dari aktivitas perang ini sering kali tidak tercakup dalam Perjanjian Paris karena alasan keamanan nasional.

Perang Iran dan Amerika-Israel ini membuktikan bahwa ketergantungan pada energi fosil bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menambah beban tambahan bagi bumi. Oleh karena itu, mengenali dampak lingkungan dari konflik yang terjadi saat ini adalah sebuah langkah krusial untuk mencegah kerusakan yang lebih luas bagi generasi mendatang.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak