Harapan di Phoenix Library: Ketika Kertas Lebih Galak daripada Rudal

M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Harapan di Phoenix Library: Ketika Kertas Lebih Galak daripada Rudal
Ilustrasi buku (unsplash.com/chrislawton)

Di Gaza, bangunan bisa rata dengan tanah dalam hitungan detik. Rumah, sekolah, bahkan perpustakaan tak luput dari serangan. Namun di antara puing dan debu yang belum sepenuhnya mengendap, seorang pemuda bernama Omar Hamad memilih melakukan sesuatu yang nyaris tak terpikirkan: menyelamatkan buku.

Ketika sebagian orang sibuk mencari air, makanan, dan tempat aman untuk bertahan hidup, Omar justru mengumpulkan buku-buku yang tercecer dari bangunan yang hancur. Ia membawanya dalam tas, memindahkannya dari satu tempat pengungsian ke tempat lain. Sejak awal agresi, ia tercatat telah mengungsi belasan kali dan setiap kali itu pula, koleksi bukunya ikut berpindah.

“Sejak hari pertama, saya membawa perpustakaan pribadi saya ke mana pun saya pergi,” kisahnya dalam wawancara yang dikutip sejumlah media regional.

Bagi Omar, buku bukan sekadar kertas bertinta. Ia adalah ingatan, identitas, dan cara bertahan secara mental di tengah kekacauan.

Ketika Buku Berubah Jadi Bahan Bakar

Situasi di Gaza begitu genting. Gas langka, kayu bakar sulit didapat. Dalam kondisi seperti itu, banyak warga terpaksa membakar buku untuk memasak. Perpustakaan yang dulu menjadi ruang belajar kini berubah menjadi sumber api.

Omar menyaksikan sendiri pemandangan yang menyayat hati itu di salah satu perpustakaan universitas di Gaza. Buku-buku berserakan, sebagian hangus, sebagian lagi diambil untuk dijadikan bahan bakar.

Ia tak marah. Ia tak menyalahkan siapa pun.

“Saya tidak bisa mengatakan kepada mereka bahwa buku itu berharga. Penderitaan mereka lebih besar daripada kata-kata saya,” ujarnya.

Ia memahami bahwa bagi sebagian orang, bertahan hidup hari ini jauh lebih penting daripada menyelamatkan pengetahuan untuk esok hari. Tetapi, justru karena itulah ia merasa harus bergerak. Jika semua buku habis terbakar, apa yang akan tersisa untuk generasi setelah perang?

Misi Menyelamatkan Ilmu

Omar tak sendirian. Ia dibantu dua rekannya. Mereka menyisir bangunan-bangunan yang rusak, mengumpulkan buku yang masih layak. Ada yang mereka masukkan ke dalam tas, ada pula yang diangkut menggunakan gerobak keledai.

Salah satu perpustakaan yang sempat ia selamatkan adalah koleksi milik penyair dan penulis Gaza, Musab Abu Toha. Rumah dan perpustakaan itu hancur ketika pemiliknya sudah lebih dulu meninggalkan wilayah tersebut. Di antara puing, Omar menemukan buku-buku yang masih bisa diselamatkan.

Beberapa di antaranya berusia lebih dari seratus tahun. Baginya, menyelamatkan buku berarti menyelamatkan sejarah dan jiwa Gaza itu sendiri.

Lahirnya Phoenix Library

Dari upaya yang awalnya sederhana mengamankan koleksi pribadi, lahirlah sebuah gagasan lebih besar. Omar mendirikan perpustakaan sementara yang ia beri nama Phoenix Library. Nama itu bukan tanpa makna. Phoenix, burung mitologis yang bangkit dari abu, menjadi simbol harapan bahwa Gaza pun bisa bangkit dari kehancuran.

Koleksi yang berhasil ia kumpulkan cukup beragam. Ada novel sastra Rusia, buku pelajaran fisika dan kimia, literatur Islam klasik, hingga karya fiksi populer seperti Harry Potter dan The Lord of the Rings. Semua berdampingan dalam ruang sederhana yang jauh dari gambaran perpustakaan ideal.

Tak ada rak megah. Tak ada ruangan berpendingin udara. Hanya semangat untuk menjaga agar pengetahuan tidak ikut mati bersama bangunan-bangunan yang runtuh.

Omar bahkan berencana mencetak lebih banyak buku, termasuk buku anak-anak. Ia ingin menyediakan ruang khusus untuk seni visual, memamerkan karya seniman Gaza yang tetap berkarya di tengah genosida.

Pendidikan sebagai Bentuk Perlawanan

Apa yang dilakukan Omar bukan sekadar aksi sosial. Ia adalah bentuk perlawanan sunyi. Di tengah konflik bersenjata, ketika banyak infrastruktur pendidikan hancur, mempertahankan buku menjadi simbol bahwa masa depan masih diperjuangkan.

Perpustakaan kecilnya kini menjadi tempat anak-anak membaca, berdiskusi, dan melupakan sejenak suara ledakan. Di ruang itulah, harapan disemai pelan-pelan.

Dalam situasi perang, pendidikan sering menjadi korban pertama. Sekolah tutup, guru mengungsi, fasilitas rusak. Tetapi, tanpa pendidikan, generasi berikutnya akan kehilangan arah.

Omar tampaknya menyadari itu. Ia tidak bisa menghentikan bom. Ia tidak bisa menghentikan perang. Tetapi, ia bisa memastikan bahwa anak-anak Gaza masih punya akses pada kata-kata, cerita, dan ilmu.

Harapan yang Tak Ikut Runtuh

Gaza mungkin dipenuhi reruntuhan. Tetapi, di sudut kecil tempat Phoenix Library berdiri, ada sesuatu yang tetap tegak: keyakinan bahwa ilmu harus diselamatkan.

Kisah Omar menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi paling gelap, manusia masih mampu memilih cahaya. Ketika sebagian buku menjadi kayu bakar, sebagian lainnya menjadi bahan bakar harapan.

Perpustakaan kecil itu mungkin tidak besar. Namun di sanalah, di antara halaman-halaman yang selamat dari api, masa depan sedang dirajut perlahan

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak